Pendidikan & Budaya

Ansor-Banser Sudah Khatam Moderasi Beragama, Kini Fokus Perkuat Soliditas NU dan Transformasi Digital

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Ansor-Banser Sudah Khatam Moderasi Beragama, Kini Fokus Perkuat Soliditas NU dan Transformasi Digital
Ansor-Banser Sudah Khatam Moderasi Beragama, Kini Fokus Perkuat Soliditas NU dan Transformasi Digital

KABARSAHABAT.ID - Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Jawa Tengah, Dr. H. Muhammad Shidqon Prabowo, menegaskan bahwa moderasi beragama dan sikap toleransi lintas agama telah menjadi bagian dari praktik kader Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). 

Meski kasus intoleransi masih ditemukan, ia menilai jumlahnya semakin minim berkat kontribusi berbagai elemen masyarakat, termasuk Nahdlatul Ulama (NU).

Pernyataan tersebut disampaikan Shidqon dalam rangkaian kegiatan pelatihan moderasi beragama di lingkungan pesantren, focus group discussion (FGD), serta Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Satuan Koordinator Banser Jawa Tengah di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah Jl Sawah Besar, Semarang pada Jum'at (16/10/2026). 

Menurut Shidqon, moderasi beragama bukan lagi sekadar pemahaman teoritis yang dipelajari kader Ansor-Banser. Nilai-nilai toleransi, penghormatan terhadap perbedaan keyakinan, dan kebebasan menjalankan ibadah telah menjadi prinsip yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Untuk moderasi beragama lintas agama, Ansor-Banser sudah khatam dan sudah mengamalkannya. Walaupun saat ini mungkin masih ada beberapa kasus intoleransi beragama, angkanya sudah semakin minim,” ujarnya.

Ia menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, terdapat enam kasus intoleransi selama periode Januari hingga Oktober 2026. Kendati jumlahnya relatif terbatas, Shidqon mengingatkan agar angka tersebut tidak dianggap sepele.

Sebab, intoleransi berkaitan langsung dengan hak dasar masyarakat untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Setiap kasus yang menghambat kebebasan beragama, menurutnya, tetap menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

“Tentu saja jumlah enam ini tidak bisa diremehkan, karena terkait dengan hajat hidup untuk beribadah atau hak mengamalkan ibadah agama masing-masing,” tegasnya.

Shidqon menilai peran Ansor-Banser bersama NU cukup besar dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih toleran sekaligus menekan potensi konflik berlatar belakang agama. Melalui penguatan pemahaman keagamaan, kegiatan sosial, dan interaksi lintas kelompok, organisasi tersebut diharapkan terus menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan.

Ia berharap tren penurunan kasus intoleransi dapat dipertahankan hingga persoalan tersebut benar-benar tidak lagi terjadi.

“Semoga ke depan kasus-kasus intoleransi ini tidak meningkat, tetapi justru menghilang. Itu yang tentu saja kita inginkan,” katanya.

Shidqon Minta Kader Ansor-Banser Rapatkan Barisan

Selain menyoroti moderasi beragama, Shidqon menjadikan Rakorwil Satkorwil Banser Jawa Tengah sebagai momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi NU.

Ia mengingatkan bahwa NU terus menghadapi ujian, terutama menyangkut soliditas antarkader yang terkadang memiliki pandangan berbeda dalam menyikapi persoalan organisasi maupun dinamika di luar organisasi.

Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi perpecahan yang merusak kebersamaan dan melemahkan perjuangan yang telah dibangun selama ini.

“Berbeda pendapat itu biasa, tetapi kami berharap perbedaan pendapat ini tidak menyebabkan bubarnya barisan yang sudah kita bangun selama ini,” ungkapnya.

Shidqon menegaskan bahwa Ansor-Banser memiliki tanggung jawab untuk menjaga marwah NU sekaligus membantu merawat persatuan di antara kader, baik yang berada dalam struktur organisasi maupun kalangan kultural.

Ia berharap seluruh kader tetap mengedepankan kepentingan organisasi dan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Soliditas tersebut dinilai penting agar NU tidak mudah terpecah akibat perbedaan orientasi politik ataupun kepentingan ekonomi.

“Ansor-Banser sebagai penjaga marwah NU wajib memberikan sumbangsih agar kader-kader NU, baik yang ada di struktural maupun kultural, menjadi satu, sejalan, dan tidak terpecah belah, baik karena kepentingan politik maupun ekonomi,” tegasnya.

Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah kader, tetapi juga kemampuan menjaga komunikasi, membangun kesepahaman, serta menyelesaikan perbedaan secara dewasa.

Banser Didorong Lebih Modern dan Melek Digital

Dalam kesempatan yang sama, Shidqon mendorong Banser melakukan transformasi menuju organisasi yang lebih modern dengan mengoptimalkan teknologi digital dan platform media sosial.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah, menyebarluaskan informasi organisasi, serta memperkenalkan berbagai kegiatan sosial yang dilakukan Ansor-Banser kepada masyarakat.

Digitalisasi juga dipandang penting untuk meningkatkan efektivitas komunikasi organisasi dan mendekatkan Banser dengan generasi muda, khususnya Generasi Z yang semakin mendominasi kelompok usia produktif.

“Saya sampaikan Banser harus menjadi organisasi yang lebih modern dengan mengedepankan teknologi, digitalisasi, dan pemanfaatan platform-platform media sosial untuk menyosialisasikan setiap kegiatan sosial yang kita lakukan bersama,” katanya.

Ia menambahkan, pelatihan digital bagi kader harus terus dikembangkan agar kemampuan sumber daya manusia organisasi mampu mengikuti perkembangan zaman dan menjawab kebutuhan generasi berikutnya.

Namun, Shidqon mengingatkan bahwa penguasaan teknologi tidak boleh berjalan sendiri tanpa diimbangi pendidikan agama. Menurutnya, keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam membentuk karakter kader yang berkualitas.

Pendidikan agama diperlukan untuk memperkuat akhlak dan adab, sedangkan pendidikan digital menjadi sarana meningkatkan keterampilan, daya saing, kreativitas, serta kemampuan berkontribusi bagi masyarakat dan negara.

“Pendidikan digital harus diiringi dengan pendidikan agama. Pendidikan agama untuk meningkatkan akhlak dan adab, sementara pendidikan digital untuk meningkatkan semangat, kemampuan, serta membangun negara ini menjadi lebih baik dan sejahtera,” jelasnya.

Laboratorium Digital Disiapkan untuk Kaderisasi Generasi Z

Lebih jauh, Shidqon meminta seluruh kader Ansor-Banser terus melakukan pembenahan diri dan tidak berpuas diri dengan pencapaian organisasi saat ini.

Ia menilai tantangan ke depan menuntut organisasi untuk terus berinovasi, memperkuat kapasitas kader, serta menyiapkan sistem kaderisasi yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan karakter generasi muda.

Salah satu agenda yang disorot adalah pembangunan laboratorium digital sebagai sarana pendukung pengembangan keterampilan teknologi sekaligus penguatan proses kaderisasi.

Keberadaan laboratorium digital diharapkan dapat menjadi ruang belajar dan pengembangan kapasitas kader, sehingga Ansor-Banser mampu menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan kuat, tetapi juga menguasai teknologi dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Terakhir, kami berpesan, mari kita terus berbenah, memperbaiki diri, dan jangan pernah merasa nyaman dengan kondisi kita saat ini. Banyak program Ansor-Banser yang harus kita laksanakan, salah satunya membangun laboratorium digital untuk mendukung kaderisasi,” ujarnya.

Shidqon menekankan bahwa keberlanjutan organisasi sangat bergantung pada kesiapan menyiapkan generasi penerus. Karena itu, Generasi Z perlu mendapatkan ruang, pendidikan, dan kesempatan untuk terlibat aktif dalam kepemimpinan serta pengembangan program organisasi.

Melalui penguatan moderasi beragama, konsolidasi internal, dan transformasi digital, ia berharap Ansor-Banser Jawa Tengah semakin mampu menjalankan perannya dalam menjaga persatuan, merawat toleransi, dan berkontribusi bagi kemajuan masyarakat.

Rakorwil Satkorwil Banser Jawa Tengah pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum koordinasi, tetapi menjadi momentum untuk menyatukan langkah dan memperkuat kesiapan organisasi menghadapi tantangan sosial, keagamaan, serta perkembangan teknologi di masa mendatang.

Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 2 dari 19
← 1 2 3 →