Tokoh

Dari Kauman Semarang ke Demak, KH Chambali Menyatukan Ulama di Tengah Ancaman Kembalinya Belanda

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Dari Kauman Semarang ke Demak, KH Chambali Menyatukan Ulama di Tengah Ancaman Kembalinya Belanda
Dari Kauman Semarang ke Demak, KH Chambali Menyatukan Ulama di Tengah Ancaman Kembalinya Belanda

KABARSAHABAT.ID – Ketika Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan, perjuangan mempertahankan republik tidak hanya berlangsung di medan pertempuran. Di balik situasi yang mencekam, para ulama bergerak menyatukan umat, menjaga jaringan organisasi, dan menyalakan semangat perlawanan melalui dakwah. Salah satu tokoh yang menempuh jalan perjuangan tersebut adalah KH Chambali bin Cholid, Ketua Konsul Nahdlatul Ulama (NU) Semarang Syu yang kemudian menjadi Ketua Tanfidziyah NU Cabang Demak.

Perjalanan KH Chambali dari Kauman, Semarang, menuju Kendal hingga Demak bukan sekadar kisah perpindahan tempat tinggal akibat situasi keamanan. Perjalanan itu juga memperlihatkan bagaimana seorang ulama mempertahankan peran dakwah dan kepemimpinan organisasi ketika ancaman penjajahan kembali membayangi kemerdekaan Indonesia.

Penulis sejarah sekaligus Ketua Lajnah Ta'lif Wan Nasyar (LTN) PCNU Kota Semarang, Dr M Kholidul Adib, mengungkapkan bahwa KH Chambali merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam membangun jaringan NU sekaligus menanamkan semangat nasionalisme di tengah masyarakat pada masa revolusi kemerdekaan.

“KH Chambali tidak hanya menjalankan peran sebagai ulama yang mengajarkan ilmu agama. Beliau juga berupaya membangun kesadaran kebangsaan, menyatukan para kiai, dan menggerakkan masyarakat agar memiliki keberanian mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan,” demikian gambaran kiprah KH Chambali berdasarkan catatan sejarah yang disampaikan Adib.

KH Chambali lahir di Kampung Kauman, Gang Jenangan, Semarang, pada 1898. Ia berasal dari keluarga dengan tradisi keilmuan Islam yang kuat. Ayahnya, Kiai Cholid, merupakan ulama yang disegani masyarakat Semarang, sedangkan ibunya bernama Nyai Chalimah. Ia juga merupakan cucu Syekh Fadhil Idris.

Pendidikan agama diperolehnya sejak kecil melalui bimbingan sang ayah, mulai dari membaca Al-Qur'an, fikih, akidah, akhlak hingga tata cara beribadah. Ia kemudian memperdalam pengetahuan keislamannya melalui para murid Kiai Sholeh Darat yang banyak tinggal di kawasan Kauman dan sekitarnya.

Semangat membimbing masyarakat telah tumbuh sejak masa mudanya. Di tengah pergaulan dengan sesama pemuda, KH Chambali kerap mengajarkan nilai-nilai Islam, mengajak mereka melaksanakan salat berjamaah, serta menanamkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, kegiatan bersama seperti latihan sepak bola dan pencak silat menjadi kesempatan baginya untuk menyampaikan pesan keagamaan.

Rumah Kiai di Kauman Menjadi Pusat Konsolidasi NU

Kiprah KH Chambali semakin menonjol ketika ia dipercaya menjadi Ketua Konsul NU Semarang Syu pada 1944. Jabatan tersebut merupakan kepemimpinan NU untuk wilayah Karesidenan Semarang yang meliputi Semarang, Demak, Grobogan, dan Kendal.

Rumahnya di Kauman, Semarang, menjadi tempat berkumpulnya para kiai dari berbagai daerah. Dari tempat tersebut, komunikasi dan jaringan organisasi NU terus dibangun untuk memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat.

Menurut Adib, posisi KH Chambali dalam organisasi menjadi penting karena ia tidak hanya berhadapan dengan tantangan internal dalam mengembangkan NU, tetapi juga situasi politik dan keamanan yang terus berubah.

Pada masa itu, Indonesia berada dalam periode pergolakan. Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ancaman terhadap kedaulatan belum berakhir. Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 15–19 Oktober 1945 menjadi salah satu gambaran kerasnya perjuangan rakyat menghadapi tentara Jepang.

Situasi kemudian semakin rumit dengan kedatangan pasukan Sekutu dan upaya Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) untuk kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia.

Sepanjang 1945 hingga 1947, berbagai bentrokan bersenjata terjadi di Semarang dan daerah sekitarnya. Sejumlah kawasan mengalami kerusakan, sementara pemboman, pembakaran permukiman, penangkapan, dan gelombang pengungsian membuat kehidupan masyarakat terganggu.

Di tengah keadaan tersebut, KH Chambali menggunakan dakwah sebagai sarana membangun keteguhan masyarakat. Pesan tentang nasionalisme dan hubbul wathan atau cinta tanah air terus disampaikan kepada umat Islam.

Dakwah tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar perubahan status politik, melainkan sesuatu yang harus dijaga bersama. Bagi KH Chambali, keterlibatan ulama dalam membangun keberanian dan persatuan masyarakat menjadi bagian penting dari perjuangan pada masa itu.

Meninggalkan Keluarga demi Melanjutkan Dakwah

Aktivitas KH Chambali yang terus menyuarakan semangat kebangsaan membuatnya berada dalam situasi berisiko. Ketika tekanan Belanda meningkat dan banyak pejuang meninggalkan Semarang, ia mengambil keputusan untuk mengungsi ke Kendal.

Keputusan itu bukan perkara ringan. KH Chambali harus meninggalkan istri dan anak-anaknya di Kauman demi menjaga keselamatan sekaligus melanjutkan perjuangan dari tempat lain.

Di Kendal, ia tidak menghentikan dakwah. Ia tetap berkeliling untuk menyampaikan ajaran Islam dan mengobarkan semangat nasionalisme. Namun, ketika keberadaannya terendus Belanda, ia kembali bergerak menuju Demak.

Dalam catatan sejarah yang dihimpun Adib, KH Chambali dikisahkan menyamar dengan bersembunyi di dalam pedati pengangkut rumput untuk pakan ternak agar dapat menghindari kejaran Belanda.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana perjuangan pada masa revolusi menuntut pengorbanan besar. Ancaman tidak hanya dihadapi oleh mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga oleh ulama yang bergerak melalui dakwah dan konsolidasi masyarakat.

Setibanya di Demak, KH Chambali kembali mengaktifkan peran kepemimpinannya. Ia mendatangi kampung, musala, masjid, dan pesantren dengan mengendarai sepeda ontel. Langkah itu dilakukan untuk menjalin komunikasi dengan para ulama dan tokoh masyarakat serta memperkuat persatuan umat.

Setelah menilai situasi Demak lebih aman, ia kemudian memboyong istri dan anak-anaknya untuk menetap di Kampung Setinggil Jagalan, Demak. Di wilayah tersebut, pengabdiannya kepada masyarakat dan NU berlanjut.

Kepemimpinan NU Demak Beralih ke Demak Kota

Peran KH Chambali dalam membangun konsolidasi ulama di Demak kemudian berlanjut ke ranah organisasi. Pada 1950, ia terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah NU Cabang Demak dalam konferensi yang digelar di Gudang Seng.

Konferensi tersebut dihadiri jajaran Majelis Wilayah Cabang (MWC) dan pengurus ranting NU se-Kabupaten Demak. Terpilihnya KH Chambali menjadi bagian penting dari perkembangan organisasi NU di daerah tersebut.

Adib menjelaskan, sejarah NU Demak sesungguhnya telah berlangsung jauh sebelum 1950. Pada 1927, KH Utsman, putra KH Abdurrahman yang dikenal sebagai pendiri Pesantren Futuhiyyah Mranggen, sudah aktif di lingkungan NU.

Bahkan, pada Muktamar NU ke-10 di Banjarmasin pada 1936, NU Cabang Demak telah mengirimkan utusan dan berpartisipasi dalam kegiatan organisasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa jaringan NU di Demak telah terbentuk sejak masa sebelum kemerdekaan.

Pada periode revolusi kemerdekaan 1944–1949, perhatian warga NU di wilayah Demak juga banyak terserap dalam perjuangan melalui laskar Hizbullah. KH Muslih, pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen, menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan tersebut sebagai komandan Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro Demak.

Sebelum kepemimpinan KH Chambali, perkembangan NU Demak banyak bertumpu di kawasan Mranggen. Setelah KH Chambali terpilih pada 1950, kepemimpinan organisasi beralih ke wilayah Demak Kota.

Perubahan tersebut memperlihatkan dinamika perkembangan NU di Demak setelah melewati masa perjuangan kemerdekaan. Organisasi tidak hanya mempertahankan jaringan yang telah terbentuk, tetapi juga memperkuat konsolidasi dan kepemimpinan di pusat kabupaten.

Bagi Adib, jejak KH Chambali menunjukkan bahwa kontribusi ulama dalam sejarah kemerdekaan tidak selalu hadir dalam bentuk pertempuran bersenjata. Ada pula perjuangan melalui penguatan organisasi, pembangunan komunikasi antartokoh, serta dakwah yang menjaga semangat kebangsaan.

Ribuan Orang Mengantar Jenazahnya

Pengabdian KH Chambali berakhir pada 25 November 1955, bertepatan dengan 10 Rabiul Akhir 1375 Hijriah. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Demak.

Ribuan orang dilaporkan berbondong-bondong mengiringi jenazahnya dari rumah duka melewati kawasan Pecinan hingga Alun-alun Demak. Banyak warga ingin ikut memanggul keranda sebagai bentuk penghormatan kepada sang kiai.

Salat jenazah berlangsung bergelombang hingga sore hari. Jenazah KH Chambali mula-mula disemayamkan di belakang gedung perpustakaan Masjid Agung Demak.

Kisah hidup KH Chambali menjadi bagian dari sejarah perjuangan ulama di Semarang dan Demak yang patut terus ditelusuri. Ia pernah memimpin jaringan NU se-Karesidenan Semarang, menghadapi ancaman penjajah, meninggalkan keluarga demi melanjutkan dakwah, hingga memperkuat organisasi NU di Demak.

Jejak tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga berlangsung melalui keteguhan para ulama dalam menyatukan masyarakat. Dari Kauman hingga Demak, KH Chambali meninggalkan warisan berupa semangat pengabdian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Kanal terkait

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 7 dari 19
← 6 7 8 →