Pendidikan & Budaya

Diskusi LKP PMII Ushuluddin Bahas Kapitalisme dan Pemikiran Karl Marx

Penulis: Sahabat Aamon
Bagikan
Peserta diskusi LKP PMII Rayon Ushuluddin Komisariat UIN Walisongo Semarang berfoto bersama usai kegiatan diskusi mingguan tentang kapitalisme dan pemikiran Karl Marx di Taman Jati, Selasa (20/10/2026).
Peserta diskusi LKP PMII Rayon Ushuluddin Komisariat UIN Walisongo Semarang berfoto bersama usai kegiatan diskusi mingguan tentang kapitalisme dan pemikiran Karl Marx di Taman Jati, Selasa (20/10/2026).

KABARSAHABAT.ID – Lembaga Kajian dan Kepenulisan (LKP) PMII Rayon Ushuluddin Komisariat UIN Walisongo Semarang menggelar diskusi mingguan tentang kapitalisme dan pemikiran Karl Marx di Taman Jati, Selasa (20/10/2026). Diskusi yang dipantik Wisnu Al Amin dan diikuti 41 peserta tersebut membahas perkembangan sistem produksi, pembentukan kelas sosial, ketimpangan, hingga materialisme dialektika historis (MDH) sebagai pendekatan untuk membaca persoalan masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, Wisnu yang akrab disapa Wisnal menjelaskan perkembangan masyarakat dari zaman komunal primitif, perbudakan, feodalisme, hingga kapitalisme. Penelusuran sejarah ini digunakan untuk memahami perubahan sistem produksi dan hubungan sosial yang menyertainya.

“Pembacaan historis itu harus sistematis. Yang dulu didulukan, yang akhir diakhirkan,” tegas Wisnal.

Pembahasan kemudian berfokus pada perubahan penguasaan sumber daya dalam setiap sistem produksi. Pada masa feodalisme, tanah menjadi faktor penting dalam hubungan sosial dan ekonomi. Sementara itu, industrialisasi mengubah proses produksi melalui penggunaan mesin dan pemusatan alat produksi.

Perubahan tersebut berkaitan dengan konsep akumulasi primitif dalam pemikiran Marx, yakni proses pemisahan masyarakat dari sumber penghidupan yang sebelumnya mereka miliki atau akses. Ketika tanah dan alat produksi terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sebagian masyarakat kehilangan akses terhadap sumber penghidupan dan harus menjual tenaga kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kondisi ini menjadi dasar pembahasan mengenai pembentukan kelas sosial dalam kapitalisme. Dalam pemikiran Marx, pemilik modal dan alat produksi disebut borjuis, sedangkan kelompok yang menjual tenaga kerjanya disebut proletariat. Hubungan keduanya menjadi salah satu aspek untuk memahami proses produksi, distribusi kekayaan, dan ketimpangan sosial.

Diskusi juga mengulas konsep alienasi atau keterasingan manusia. Konsep ini menjelaskan keterasingan pekerja dari hasil kerja, proses kerja, dirinya sendiri, serta hubungan sosialnya. Pembahasan tersebut dikaitkan dengan sistem produksi yang menempatkan tenaga manusia sebagai bagian dari proses penciptaan keuntungan.

Wisnal menegaskan bahwa pemikiran filosofis perlu dihubungkan dengan kehidupan konkret, bukan berhenti sebagai konsep abstrak.

“Filsafat itu diturunkan ke bumi. Jangan menjadi konsep yang hanya di langit,” ungkapnya.

Pembahasan selanjutnya mengarah pada materialisme dialektika historis (MDH), yaitu pendekatan untuk memahami perubahan masyarakat melalui kondisi material, hubungan sosial, dan proses sejarah. Pendekatan tersebut digunakan untuk menelusuri latar belakang persoalan serta hubungan berbagai faktor yang membentuk kehidupan masyarakat.

“MDH sebagai sosialisme ilmiah, sebagai cara pandang, sangat relevan untuk mengkuliti semua proses kehidupan,” tutur Wisnal.

Penguasaan lahan menjadi salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut. Perubahan kepemilikan dan akses terhadap tanah dibahas untuk memahami hilangnya sumber penghidupan sebagian masyarakat serta kaitannya dengan pembentukan kelas sosial.

Selain itu, diskusi menyoroti pengaruh kapitalisme terhadap pola konsumsi dan cara berpikir masyarakat. Pemikiran Herbert Marcuse dan Louis Althusser turut diperkenalkan untuk membahas masyarakat konsumen dan peran ideologi dalam kehidupan sosial.

Pembahasan ideologi mencakup peran institusi seperti pendidikan, keluarga, dan media dalam membentuk cara pandang masyarakat. Diskusi juga menyinggung hubungan antara kepemilikan alat produksi, penggunaan tenaga kerja, dan akumulasi modal dalam perkembangan kapitalisme.

Untuk memperluas perspektif, peserta turut membahas persoalan sosial melalui sudut pandang keislaman dengan merujuk pada buku Aswaja Materialisme. Buku tersebut menjadi salah satu bahan bacaan dalam mengkaji hubungan materialisme, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, dan ketidakadilan sosial.

Melalui diskusi mingguan ini, peserta diajak memahami pemikiran Karl Marx sebagai perangkat analisis untuk membaca hubungan produksi, kepemilikan sumber daya, ideologi, dan ketimpangan sosial. Pembahasan tersebut menempatkan pemahaman sejarah dan kondisi material sebagai bagian penting dalam mengkaji dinamika kapitalisme di tengah masyarakat.

Penulis: Sahabat Aamon
Editor: Tim Redaksi

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 1 dari 19
1 2 →