Opini

Diskusi LKP PMII Rayon Ushuluddin Bahas FOMO dan Cara Membaca Realitas Sosial

Penulis: Aamoon
Bagikan
Peserta diskusi LKP PMII Rayon Ushuluddin berfoto bersama usai kegiatan di halaman Gedung Q FUHUM UIN Walisongo Semarang, Senin (21/9/2026).
Peserta diskusi LKP PMII Rayon Ushuluddin berfoto bersama usai kegiatan di halaman Gedung Q FUHUM UIN Walisongo Semarang, Senin (21/9/2026).

KABARSAHABAT.ID — Lembaga Kajian dan Kepenulisan (LKP) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ushuluddin Komisariat UIN Walisongo Semarang menggelar diskusi mingguan bertema "Kamu Sadar atau Cuma Ikut-ikutan? Belajar Membaca Realitas Sosial", Senin (21/9/2026), di halaman Gedung Q Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang. Diskusi ini mengangkat fenomena Fear of Missing Out (FOMO) serta cara membaca realitas sosial secara kritis.

Diikuti 20 anggota PMII Rayon Ushuluddin angkatan 2026, diskusi ini menghadirkan Farhan sebagai pemantik dan Aamon sebagai moderator. Pembahasan berfokus pada pemahaman FOMO serta kaitannya dengan ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam membaca realitas sosial.

Farhan membuka diskusi dengan mendefinisikan FOMO sebagai kecenderungan mengikuti sesuatu tanpa melalui proses pertimbangan atau perhitungan. Menurutnya, FOMO tidak selalu berkonotasi negatif, dampaknya bisa positif maupun negatif, tergantung konteks yang melatarinya.

Ia kemudian membedakan antara rutinitas dan proyek. Rutinitas, jelasnya, adalah kegiatan yang tidak memiliki tujuan maupun keluaran (output) yang jelas, sementara proyek adalah aktivitas yang memiliki tujuan dan keluaran yang hendak dicapai.

Pembahasan turut mengaitkan FOMO dengan etika dan etiket. Farhan memaparkan etika sebagai hal yang seharusnya dilakukan, sedangkan etiket berkaitan dengan hal yang sebaiknya dilakukan. Menurutnya, kehidupan tidak bersifat kaku, sehingga pemahaman terhadap etika dan etiket perlu mempertimbangkan konteks sosial yang melingkupinya.

"Karena hidup ini luntur, tidak kaku. Jika hidupmu kaku, maka perlu dipertanyakan kehidupanmu," ujar Farhan.

Sesi tanya jawab menghadirkan sejumlah pertanyaan dari peserta seputar FOMO, tujuan berorganisasi, serta penerapan etika dan etiket dalam kehidupan sosial. Naufal Al-Bukhari menanyakan sikap terhadap seseorang yang mengikuti organisasi hanya untuk menumpang nama. Afgan mempertanyakan cara menentukan apakah seseorang dapat disalahkan berdasarkan etika dan etiket. Amal menanyakan hubungan FOMO dengan etika dan etiket, sementara Egha menyoroti perbedaan antara mengikuti PMII tanpa tujuan dan mengikuti PMII dengan tujuan.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Farhan menegaskan bahwa penilaian benar dan salah bergantung pada konteks, wilayah, serta dampaknya terhadap norma-norma sosial yang berlaku. Ia menekankan pentingnya membaca realitas sosial secara seimbang; dengan aktif mencari informasi, bukan hanya berdiam diri.

"Pembacaan realitas harus di posisi tengah-tengah, harus mencari tahu. Bukan hanya berdiam diri," tegasnya.

Farhan menambahkan bahwa membaca realitas sosial melibatkan tiga aspek: sudut pandang (angle), yakni dari mana suatu peristiwa dilihat; resolusi pandang, yang berkaitan dengan sejauh mana hakikat persoalan dipahami; dan jarak pandang, yang berkaitan dengan posisi seseorang terhadap peristiwa yang diamati. Ketiga aspek ini, menurutnya, perlu dipahami secara utuh sebelum seseorang menyusun hipotesis atas realitas yang sedang dikaji.

Di akhir diskusi, Farhan menyampaikan bahwa pembacaan realitas sosial merupakan proses berkelanjutan yang ditempuh lewat membaca dan berdiskusi secara terus-menerus. Adapun keyakinan atas ketercapaian suatu tujuan, menurutnya, adalah hal yang mesti dikenali oleh masing-masing pribadi, sebab tak seorang pun sepenuhnya mengetahui apa yang ada dalam diri orang lain. Karena itu, ia menekankan pentingnya mengintegrasikan hati dan akal dalam memahami serta meyakini tujuan yang hendak dicapai: sebuah cara pandang yang, menurutnya, menjadi bekal penting bagi anggota PMII dalam membaca realitas sosial di sekitar mereka secara lebih sadar dan tidak sekadar ikut-ikutan.

"Kita harus mengintegrasikan hati dan akal agar kita yakin dengan tujuan kita," pungkasnya.
Penulis: Aamoon
Editor: Tim Redaksi

Kanal terkait

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 5 dari 19
← 4 5 6 →