Pendidikan & Budaya

Dongeng Legenda Gua Kreo Jadi Bukti Kreativitas Mahasiswa UIN Walisongo, Najwa Afifah Juara Nasional

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Dongeng Legenda Gua Kreo Jadi Bukti Kreativitas Mahasiswa UIN Walisongo, Najwa Afifah Juara Nasional
Dongeng Legenda Gua Kreo Jadi Bukti Kreativitas Mahasiswa UIN Walisongo, Najwa Afifah Juara Nasional

KABARSAHABAT.ID – Mengangkat cerita rakyat sebagai media pendidikan anak usia dini, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Najwa Afifah, berhasil meraih Juara I Lomba Mendongeng tingkat nasional dalam ajang Semarak PAUD 2026.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah dapat dikembangkan menjadi media pembelajaran yang kreatif sekaligus sarana menanamkan nilai-nilai positif kepada anak sejak usia dini.

Dalam kompetisi yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (HMP PGPAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Semarang, pada 20–24 Oktober 2026 itu, Najwa tampil membawakan dongeng berjudul “Rahasia Empat Kera Hebat dari Gua Kreo”.

Melalui cerita yang terinspirasi dari legenda Gua Kreo, Najwa menggabungkan unsur budaya lokal, pendidikan karakter, kreativitas bercerita, dan pesan pelestarian lingkungan.

Prestasi tersebut juga tidak terlepas dari pembinaan Nur Khotimah, M.Pd., dosen pengampu mata kuliah Seni Berkisah di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang.

Capaian ini menjadi gambaran penerapan kompetensi akademik mahasiswa dalam menghasilkan karya yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga memiliki manfaat bagi pengembangan metode pembelajaran anak usia dini.

Cerita Rakyat sebagai Alternatif Pembelajaran Kreatif

Pemanfaatan cerita rakyat dalam pendidikan anak usia dini memiliki potensi untuk memperkenalkan nilai budaya sekaligus membangun karakter melalui pendekatan yang menyenangkan.

Hal tersebut menjadi salah satu gagasan yang dihadirkan Najwa melalui dongeng tentang Gua Kreo. Cerita yang dikenal sebagai bagian dari kekayaan folklor Kota Semarang itu dikemas dengan alur sederhana agar mudah dipahami anak-anak.

Dalam penampilannya, Najwa mengisahkan Sunan Kalijaga bersama empat kera yang mempunyai kepribadian dan kelebihan berbeda. Keempatnya digambarkan memiliki keberanian, kecerdasan, kekuatan, serta kebaikan.

Namun, kelebihan masing-masing ternyata tidak cukup ketika mereka menghadapi persoalan berupa kayu jati berukuran besar yang harus dipindahkan.

Upaya yang dilakukan secara individual tidak membuahkan hasil. Mereka kemudian menyadari bahwa persoalan tersebut hanya dapat diselesaikan dengan menggabungkan kemampuan dan bekerja bersama.

Pesan inilah yang menjadi inti cerita, yakni setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga diperlukan sikap saling menghargai, kepedulian, serta kemampuan bekerja sama.

Melalui pengembangan legenda tersebut, Najwa turut memperlihatkan bahwa cerita lokal dapat menjadi sumber materi pendidikan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Anak-anak tidak hanya mendapatkan hiburan melalui dongeng, tetapi juga dapat mengenal kekayaan cerita daerah dan memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Interaksi Pendengar Menjadi Kekuatan Penampilan

Selain mengandalkan kekuatan cerita, Najwa juga mengembangkan teknik penyampaian yang melibatkan pendengar. Dongeng berdurasi sekitar enam menit tersebut disusun dengan memadukan narasi, percakapan antartokoh, humor, serta variasi ekspresi.

Masing-masing karakter memiliki identitas tersendiri. Kera Merah digambarkan pemberani, Kera Putih cerdas, Kera Kuning memiliki sisi humor, sementara Kera Hitam dikenal kuat dan peduli terhadap sesama.

Perbedaan karakter tersebut menjadi kesempatan untuk menampilkan variasi intonasi, suara, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh sehingga cerita terasa lebih hidup.

Salah satu pendekatan interaktif terlihat ketika anak-anak diajak memberikan semangat kepada empat kera yang sedang berusaha memindahkan kayu jati. Mereka diminta mengucapkan kata “dorong” secara bersama-sama.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dalam metode mendongeng karena anak memperoleh kesempatan untuk merespons cerita, menggunakan imajinasi, dan merasakan keterlibatan dalam peristiwa yang disampaikan.

Tidak berhenti pada pendidikan sosial, dongeng tersebut juga memuat pesan kepedulian terhadap lingkungan. Tokoh Sunan Kalijaga memberikan nasihat kepada keempat kera agar menjaga hutan, tidak merusak pepohonan, dan melindungi makhluk hidup lainnya.

Dengan demikian, satu materi dongeng dapat memuat beragam aspek pembelajaran, mulai dari kemampuan berbahasa, perkembangan sosial-emosional, pembentukan karakter, hingga pengenalan budaya dan lingkungan.

Dosen pengampu mata kuliah Seni Berkisah, Nur Khotimah, M.Pd., menjelaskan bahwa keterampilan mendongeng menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dikembangkan oleh mahasiswa calon pendidik.

Ia menekankan bahwa seni berkisah bukan sekadar kemampuan menyampaikan cerita di hadapan orang lain, melainkan juga kemampuan merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

“Seni berkisah bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan cerita secara menarik, melainkan juga tentang bagaimana seorang calon pendidik mampu menghadirkan pengalaman belajar yang mendalam. Melalui dongeng, mahasiswa belajar memadukan komunikasi, kreativitas, imajinasi, pendidikan karakter, dan nilai budaya lokal. Prestasi Najwa menjadi contoh bagaimana kompetensi yang dikembangkan melalui pembelajaran dapat diterapkan dalam ruang kompetisi sekaligus memiliki relevansi bagi praktik pendidikan anak usia dini,” jelas Nur Khotimah.

Menurutnya, calon pendidik harus mampu mengembangkan metode komunikasi yang efektif, memilih materi sesuai usia peserta didik, serta menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Prestasi Najwa Dorong Penguatan Kompetensi Calon Pendidik

Keberhasilan Najwa Afifah dalam kompetisi tingkat nasional turut memperlihatkan pentingnya pengembangan keterampilan mahasiswa di luar kemampuan akademik yang diperoleh melalui perkuliahan.

Pembinaan dosen dan kesempatan mengikuti kompetisi menjadi ruang aktualisasi untuk menguji kemampuan sekaligus meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan media pendidikan.

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdur Rohman, M.Ag., menilai prestasi tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas mahasiswa sebagai calon pendidik yang kompeten dan inovatif.

Menurutnya, kemampuan mengolah cerita rakyat menjadi media pembelajaran merupakan salah satu bentuk kreativitas yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.

“Prestasi mahasiswa merupakan bagian penting dari proses pengembangan kualitas calon pendidik yang memiliki kompetensi akademik, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Kemampuan mengolah cerita rakyat menjadi media pendidikan menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan kebutuhan pembelajaran di masyarakat. Kami mendorong mahasiswa untuk terus menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi pendidikan sekaligus berkontribusi dalam menjaga kekayaan budaya bangsa,” ungkap Prof. Dr. Abdur Rohman, M.Ag.

Pengembangan kemampuan tersebut dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori pendidikan, tetapi juga mampu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Keberhasilan Najwa juga membuka peluang pemanfaatan cerita rakyat dari berbagai daerah sebagai materi pembelajaran alternatif. Cerita tradisional dapat dikembangkan dalam bentuk pertunjukan mendongeng, bahan ajar, media audiovisual, maupun kegiatan literasi di lingkungan pendidikan anak usia dini.

Perguruan tinggi juga memiliki peluang memperluas kolaborasi dengan lembaga pendidikan untuk menghasilkan media pembelajaran yang mengangkat potensi budaya daerah.

Di tengah perubahan pola hiburan dan perkembangan teknologi digital, upaya tersebut menjadi penting agar tradisi lisan tetap dikenal oleh generasi muda.

Prestasi Najwa Afifah dalam Semarak PAUD 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UIN Walisongo Semarang, tetapi juga memberikan gambaran bahwa cerita rakyat memiliki potensi besar sebagai sumber inovasi pendidikan.

Melalui pendekatan kreatif, warisan budaya yang selama ini dikenal sebagai cerita turun-temurun dapat dihadirkan kembali dalam bentuk pembelajaran yang menarik, edukatif, dan relevan dengan perkembangan anak masa kini.


Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 10 dari 20
← 9 10 11 →