Pendidikan & Budaya

Dr. KH Muhammad Adnan, Ulama-Akademisi yang Menyatukan Keislaman, Keilmuan, dan Kebangsaan

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Dr. KH Muhammad Adnan, mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dua periode
Dr. KH Muhammad Adnan, mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dua periode

KABARSAHABAT.ID — Jawa Tengah kehilangan salah satu tokoh penting yang selama lebih dari satu dekade berada di persimpangan antara dunia pesantren, akademik, organisasi Nahdlatul Ulama, dan kehidupan kebangsaan. Dr. KH Muhammad Adnan, mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dua periode, wafat pada Rabu, 7 Oktober 2026 malam di ruang ICU Rumah Sakit Samsoe Hidajat, Semarang.

Kabar wafatnya Kiai Adnan disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, KH Anashom, sekitar pukul 20.48 WIB. Kabar tersebut kemudian dikonfirmasi Ahmad Jauhari, salah seorang yang dekat dengan almarhum, yang saat itu berada di rumah sakit tempat Kiai Adnan menjalani perawatan.

Kepergian Kiai Adnan bukan sekadar kehilangan bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama. Sosoknya meninggalkan jejak panjang di lingkungan akademik Universitas Diponegoro (Undip), dunia pesantren, organisasi kemasyarakatan, hingga percaturan politik Jawa Tengah.

Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki basis keilmuan akademik kuat, organisator yang disiplin, sekaligus pemikir yang konsisten menghubungkan Islam, demokrasi, nasionalisme, dan negara bangsa.

Dua Periode Memimpin PWNU Jawa Tengah

Nama KH Muhammad Adnan tercatat kuat dalam sejarah perjalanan PWNU Jawa Tengah. Ia dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah untuk dua periode, yakni 2003–2008 dan 2008–2013.

Kepemimpinan pertamanya lahir melalui Konferensi Wilayah NU Jawa Tengah pada 2003. Saat itu, Drs. H. Muhammad Adnan, M.A. dipercaya memimpin jajaran Tanfidziyah, berduet dengan KH Masruri Mughni, Lc., ulama karismatik asal Brebes yang terpilih sebagai Rais Syuriah.

Duet tersebut mempertemukan dua latar belakang yang saling melengkapi. KH Masruri Mughni merepresentasikan tradisi keulamaan pesantren, sementara Kiai Adnan membawa pengalaman akademik dan organisasi modern.

Kombinasi tersebut menjadi salah satu kekuatan kepemimpinan NU Jawa Tengah ketika itu.

Di lingkungan organisasi, Kiai Adnan dikenal mengembangkan prinsip kepemimpinan yang berorientasi pada dua kata: ngayomi dan ngeladheni.

Ngayomi berarti memberikan perlindungan dan pengayoman kepada warga organisasi, sedangkan ngeladheni menempatkan kepemimpinan sebagai bentuk pelayanan.

Prinsip tersebut membuat kepemimpinannya tidak hanya berorientasi pada struktur organisasi, tetapi juga pada hubungan sosial dan kultural dengan warga Nahdliyin.

Selama dua periode, ia berupaya menjaga NU Jawa Tengah sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki kemandirian dan tidak mudah terseret kepentingan politik praktis.

Salah satu warisan penting dari kepemimpinannya adalah perhatian terhadap kaderisasi.

Ketika masa kepemimpinannya berakhir pada 2013, Kiai Adnan memilih tidak mencalonkan diri kembali. Keputusan tersebut diambil meskipun terdapat sejumlah Pengurus Cabang NU yang menginginkannya melanjutkan kepemimpinan.

Sikap tersebut menjadi salah satu bentuk keteladanan organisatoris yang ditunjukkannya. Ia berpandangan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan bagian penting dari proses kaderisasi dan regenerasi organisasi.

Baginya, organisasi yang sehat bukan organisasi yang bergantung pada satu figur, melainkan organisasi yang mampu menyiapkan generasi penerus.

Dari PWNU Jateng Menuju Kontestasi Ketua Umum PBNU

Pengalaman memimpin NU Jawa Tengah selama dua periode kemudian menjadi salah satu modal penting ketika Kiai Adnan masuk dalam bursa kepemimpinan nasional NU.

Pada Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015, namanya muncul sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU.

Kiai Adnan membawa gagasan mengenai pentingnya pembenahan kaderisasi di tingkat nasional. Menurut gagasan yang dikembangkannya, kepemimpinan NU harus lahir dari proses panjang dan pengalaman organisasi yang teruji.

Ia bahkan menggambarkan pentingnya kedisiplinan kaderisasi dengan pola organisasi yang kuat dan terstruktur, sehingga pemimpin nasional seharusnya berasal dari tokoh yang telah memiliki pengalaman memimpin organisasi di tingkat wilayah.

Gagasan tersebut memperlihatkan karakter pemikirannya: NU tidak cukup hanya memiliki kekuatan kultural, tetapi juga harus memiliki tata kelola organisasi yang disiplin, mandiri, dan berkesinambungan.

Akademisi yang Menekuni Politik Islam dan Radikalisme

Di luar aktivitas organisasi, Kiai Adnan merupakan akademisi senior di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

Sebagai akademisi di bidang politik dan pemerintahan, perhatian intelektualnya banyak diarahkan pada hubungan antara agama, politik, Islamisme, demokrasi, radikalisme, terorisme, serta kehidupan negara bangsa.

Ia tidak memandang persoalan radikalisme semata-mata sebagai persoalan keamanan. Fenomena tersebut juga dibaca melalui pendekatan politik, sosial, ideologi, pendidikan, dan dinamika masyarakat.

Pemikiran itu kemudian dituangkan dalam berbagai karya ilmiah dan buku.

Sejumlah karya yang dikenal luas antara lain "Radikalisme dan Terorisme: Sketsa Kelompok-Kelompok Garis Keras di Dunia", "Kekerasan Berbasis Agama: Peta Konflik Agama di Indonesia", monograf "Konsepsi Tentang Terorisme", serta "Short Cut Paham Politik: Sekumpulan Konsep Pilihan dalam Politik".

Karya-karya tersebut menunjukkan spektrum perhatian akademiknya yang luas, dari teori politik hingga persoalan konflik agama dan ancaman radikalisme.

Membaca Radikalisme dari Perspektif Politik

Dalam buku Radikalisme dan Terorisme: Sketsa Kelompok-Kelompok Garis Keras di Dunia, Kiai Adnan memetakan perkembangan berbagai kelompok garis keras, latar belakang ideologi, sejarah kemunculan, hingga jejaringnya dalam konteks global.

Kajian tersebut tidak berhenti pada penggambaran kelompok radikal, tetapi berusaha membaca bagaimana ideologi berkembang menjadi gerakan politik dan kemudian berpotensi menciptakan ancaman terhadap kehidupan sosial.

Sementara melalui Kekerasan Berbasis Agama: Peta Konflik Agama di Indonesia, ia memberikan perhatian pada akar konflik komunal yang menggunakan simbol atau legitimasi agama.

Pemikirannya menempatkan pendidikan, dialog, moderasi, serta resolusi konflik sebagai bagian penting dalam mencegah kekerasan berbasis agama.

Adapun monograf Konsepsi Tentang Terorisme memperlihatkan pendekatan akademiknya dalam membedah definisi, tipologi, dan perdebatan konseptual mengenai terorisme dari perspektif ilmu politik dan hukum internasional.

Sedangkan Short Cut Paham Politik dirancang sebagai karya yang lebih praktis, dengan merangkum sejumlah konsep politik sehingga dapat dipahami oleh mahasiswa maupun masyarakat umum.

Karya tentang NU, Negara Bangsa, dan Islamisme

Pemikiran Kiai Adnan juga berkembang melalui penelitian dan karya ilmiah mengenai hubungan NU dengan negara bangsa.

Salah satu karya yang penting adalah "Nahdlatul Ulama dan Negara Bangsa" yang terbit pada 2017.

Karya tersebut membahas perjalanan komitmen kebangsaan NU, termasuk bagaimana organisasi yang lahir dari tradisi keislaman pesantren tersebut menempatkan dirinya dalam kehidupan bernegara.

Karya lain yang menunjukkan perhatian Kiai Adnan terhadap dinamika Islam kontemporer adalah "Di Bawah Bayang-Bayang Syariat: Islam, Islamisme dan Demokrasi di Kota Surakarta" yang terbit pada 2021.

Melalui kajian tersebut, ia membaca hubungan antara aspirasi keagamaan, gerakan Islamisme, dan sistem demokrasi dalam konteks masyarakat perkotaan.

Dari berbagai kajian itu terlihat satu benang merah pemikiran Kiai Adnan: Islam dan negara tidak harus dipertentangkan.

Sebaliknya, nilai-nilai agama dapat menjadi kekuatan moral bagi kehidupan demokrasi selama ditempatkan dalam kerangka kebangsaan yang inklusif.

Islam, NU, Pancasila, dan Negara Bangsa

Kiai Adnan memiliki pandangan yang tegas mengenai hubungan NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baginya, komitmen terhadap NKRI dan Pancasila merupakan bagian final dari perjalanan kebangsaan Indonesia.

Dalam kerangka pemikirannya, kecintaan kepada tanah air bukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru negara yang aman, damai, dan stabil menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan agama serta membangun kehidupan sosial secara bermartabat.

Ia juga kritis terhadap kecenderungan politik identitas yang mengarah pada pemaksaan kehendak kelompok.

Menurut perspektif yang dikembangkan melalui berbagai penelitian dan pengajarannya, nilai-nilai Islam semestinya diwujudkan dalam keadilan sosial, penghormatan terhadap kemanusiaan, pendidikan, dan kemaslahatan masyarakat, bukan semata-mata melalui simbol politik.

Pemikiran tersebut kemudian menjadi bagian penting dari kiprahnya dalam pendidikan moderasi beragama.

Membangun Pesantren Kebangsaan

Pada fase berikutnya dalam kehidupannya, Kiai Adnan memperluas pengabdian melalui dunia pesantren.

Ia mendirikan dan meresmikan Pesantren Mahasiswa Kebangsaan pada 2023 di bawah naungan Yayasan Islam Kebangsaan.

Pesantren tersebut berada di kawasan Kramas, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, tidak jauh dari lingkungan Universitas Diponegoro.

Konsep pesantren yang dibangunnya memiliki karakter berbeda. Sasaran utamanya adalah mahasiswa dan mahasiswi perguruan tinggi.

Kiai Adnan melihat mahasiswa sebagai kelompok strategis yang kelak akan mengisi berbagai ruang profesi, pemerintahan, pendidikan, bisnis, maupun kehidupan sosial.

Karena itu, mereka tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga membutuhkan fondasi keagamaan, karakter, dan wawasan kebangsaan.

Kurikulum pesantren memadukan penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah dengan nilai-nilai kebangsaan.

Islam diajarkan sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, sekaligus sebagai kekuatan moral untuk menjaga kehidupan masyarakat yang plural.

Di tempat tersebut, pendidikan tidak hanya dilakukan melalui pengajian formal, tetapi juga melalui diskusi dan dialog mengenai persoalan aktual.

Program seperti Ngabuburit Kebangsaan menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mendiskusikan nasionalisme, moderasi beragama, ancaman radikalisme, literasi digital, serta peran generasi muda dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Dengan demikian, pesantren bagi Kiai Adnan bukan hanya tempat transmisi ilmu agama, tetapi juga laboratorium kebangsaan.

Politik Praktis dan Pilgub Jawa Tengah 2008

Di tengah masa kepemimpinannya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah, Kiai Adnan juga pernah memasuki politik praktis.

Pada Pilgub Jawa Tengah 2008, ia mengambil cuti dari aktivitas akademik dan organisasi untuk maju sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Tengah.

Kiai Adnan berpasangan dengan Bambang Sadono.

Keputusan tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidupnya karena untuk sementara ia keluar dari ruang akademik dan organisasi untuk mengikuti kontestasi politik daerah.

Langkah tersebut dilihat sebagai upaya membawa aspirasi masyarakat, khususnya warga Nahdliyin, ke ruang pemerintahan.

Namun, keterlibatannya dalam politik praktis tidak menghapus karakter utama yang dibangunnya selama memimpin NU, yakni pentingnya menjaga organisasi agar tetap memiliki kemandirian.

Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Kiai Adnan memahami politik bukan semata sebagai perebutan kekuasaan, melainkan sebagai salah satu instrumen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Menghibahkan Karya untuk Generasi Akademik

Menjelang akhir hayatnya, salah satu perhatian Kiai Adnan tetap tertuju pada dunia ilmu pengetahuan.

Pada Agustus 2025, ia menghibahkan sejumlah karya akademiknya kepada perpustakaan FISIP Universitas Diponegoro.

Empat karya utama yang dihibahkan menjadi bagian dari warisan intelektual yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dan peneliti.

Keputusan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar menyerahkan buku.

Bagi seorang akademisi, buku merupakan rekaman pemikiran. Dengan menghibahkan karya-karyanya, Kiai Adnan seakan memastikan bahwa gagasan yang selama bertahun-tahun ia bangun tetap dapat dipelajari setelah dirinya tidak lagi berada di ruang kelas.

Karya-karya itu dapat menjadi rujukan bagi penelitian mahasiswa mengenai politik Islam, gerakan Islam kontemporer, radikalisme, terorisme, konflik agama, demokrasi, dan relasi agama dengan negara.

Ulama yang Menjembatani Kampus dan Pesantren

Salah satu ciri paling menonjol dari sosok Kiai Adnan adalah kemampuannya berada di dua dunia sekaligus.

Ia merupakan akademisi yang terbiasa dengan metodologi ilmiah, teori politik, penelitian, dan ruang kelas.

Pada saat yang sama, ia adalah seorang kiai yang dekat dengan tradisi pesantren dan kehidupan Nahdlatul Ulama.

Dua identitas tersebut tidak ditempatkannya sebagai sesuatu yang bertentangan.

Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai kekuatan untuk membangun jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan ilmu pengetahuan modern.

Dari ruang kampus, ia berbicara tentang radikalisme, demokrasi dan Islamisme.

Dari ruang pesantren, ia mengajarkan kebangsaan, moderasi dan Ahlussunnah wal Jamaah.

Sedangkan dari organisasi NU, ia mempraktikkan kepemimpinan, kaderisasi, pelayanan umat, serta kemandirian organisasi.

Sosok yang Dikenang karena Kaderisasi

Di lingkungan NU Jawa Tengah, salah satu warisan kepemimpinan Kiai Adnan adalah keteladanan dalam soal regenerasi.

Keputusannya tidak kembali mencalonkan diri sebagai Ketua PWNU setelah dua periode merupakan contoh bahwa jabatan organisasi tidak harus dipertahankan selamanya.

Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan ruang kepada generasi berikutnya.

Prinsip tersebut kemudian menjadi bagian dari pemikirannya tentang kepemimpinan NU secara nasional.

Ketika namanya masuk dalam bursa Ketua Umum PBNU pada Muktamar 2015, gagasan mengenai kaderisasi menjadi salah satu isu yang ia bawa.

Ia menginginkan agar kepemimpinan nasional lahir dari proses kaderisasi yang jelas, terukur, dan berdasarkan pengalaman nyata dalam mengelola organisasi.

Jejak di Mata Sahabat dan Kader NU

Wafatnya Kiai Adnan pada 7 Oktober 2026 memunculkan duka di berbagai kalangan.

Ketua PCNU Kota Semarang KH Anashom menjadi salah satu tokoh yang menyampaikan kabar wafatnya almarhum.

KH Hanief Ismail juga hadir memberikan penghormatan terakhir.

Sementara sejumlah tokoh yang pernah berada bersama Kiai Adnan di jajaran PWNU Jawa Tengah, seperti KH Arja' Imroni dan Prof. KH Najahan Musyafa', turut mengenang kiprahnya selama memimpin organisasi.

Bagi para kader NU, Kiai Adnan dipandang sebagai figur yang memperlihatkan bagaimana seorang akademisi dapat mengabdi melalui jalur organisasi keagamaan tanpa kehilangan sikap intelektualnya.

Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah juga menyampaikan belasungkawa dan menempatkan perjalanan pengabdian Kiai Adnan sebagai inspirasi bagi generasi muda NU.

Sementara dari unsur pemerintahan, Wakil Wali Kota Semarang H. Iswar Aminuddin turut memberikan penghormatan dan menilai kepergian Kiai Adnan sebagai kehilangan bagi Kota Semarang dan Jawa Tengah.

Akhir Pengabdian

Setelah menjalani perawatan medis, KH Muhammad Adnan mengembuskan napas terakhir pada Rabu malam, 7 Oktober 2026, di ruang ICU Rumah Sakit Samsoe Hidajat, Semarang.

Jenazahnya kemudian disemayamkan di Kompleks Pondok Pesantren Kebangsaan, Tembalang, tempat yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu ruang pengabdiannya.

Di tempat itu pula para santri, akademisi, kader NU, tokoh masyarakat, sahabat, dan warga berdatangan memberikan penghormatan terakhir.

Jenazah Kiai Adnan dijadwalkan dimakamkan pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.

Kepergiannya meninggalkan jejak panjang.

Sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah selama dua periode, ia meninggalkan pengalaman organisasi dan gagasan tentang kaderisasi.

Sebagai akademisi, ia meninggalkan buku, penelitian, dan pemikiran mengenai agama, politik, radikalisme, terorisme, dan demokrasi.

Sebagai kiai, ia meninggalkan pesantren yang menjadi ruang perjumpaan antara pendidikan Islam dan nasionalisme.

Dan sebagai seorang warga negara, ia meninggalkan gagasan bahwa keberagamaan dan kebangsaan tidak seharusnya dipertentangkan.

Kiai Adnan telah menjalani hidup dalam tiga ruang pengabdian sekaligus: kampus, pesantren, dan NU.

Ketiganya bertemu dalam satu gagasan besar yang terus ia perjuangkan: bahwa ilmu harus melahirkan kemaslahatan, agama harus menghadirkan kedamaian, dan kehidupan kebangsaan harus dirawat dengan sikap moderat, demokratis, serta berkeadaban.

Warisan terbesar Kiai Muhammad Adnan pada akhirnya bukan hanya jabatan yang pernah diembannya atau buku yang pernah ditulisnya, melainkan gagasan dan kader yang terus melanjutkan pengabdian setelah dirinya tiada.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 6 dari 19
← 5 6 7 →