Tokoh

Dr. KH Muhammad Adnan Wafat: Dari Kader IPNU, PMII hingga Memimpin PWNU Jawa Tengah sejak 2003 hingga 2013

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Almarhum Dr. KH Muhammad Adnan
Almarhum Dr. KH Muhammad Adnan

KABARSAHABAT.ID — Perjalanan Dr. KH Muhammad Adnan di Nahdlatul Ulama tidak dimulai dari kursi kepemimpinan tertinggi di tingkat wilayah. Jauh sebelum dipercaya menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, ia telah melewati jalur panjang kaderisasi organisasi kepemudaan, kemahasiswaan, hingga struktur NU.

Jejak itu membentuk perjalanan hidupnya sebagai aktivis, akademisi, organisator, sekaligus kiai.

Kiai Adnan wafat pada Rabu malam, 7 Oktober 2026, di ruang ICU Rumah Sakit Samsoe Hidajat, Semarang. Ia meninggalkan catatan panjang pengabdian di lingkungan Nahdlatul Ulama, termasuk memimpin PWNU Jawa Tengah selama dua periode, 2003–2008 dan 2008–2013.

Namun, untuk memahami sosok Kiai Adnan secara utuh, perjalanan tersebut tidak cukup dilihat dari sepuluh tahun ketika ia berada di puncak kepemimpinan PWNU Jateng.

Jejaknya harus ditarik jauh ke belakang, ketika ia masih berada di lingkungan organisasi pelajar dan mahasiswa Nahdliyin.

Dari Tradisi Kaderisasi IPNU

Kiai Muhammad Adnan tumbuh dalam lingkungan kaderisasi Nahdlatul Ulama.

Salah satu fase awal yang tercatat dalam perjalanan organisasinya adalah keterlibatannya di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ia kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua IPNU Jawa Tengah.

Fase ini penting karena IPNU menjadi salah satu ruang awal pembentukan karakter kader Nahdliyin sebelum memasuki dunia kemahasiswaan dan organisasi yang lebih luas.

Di lingkungan kader muda NU, organisasi bukan sekadar tempat memperoleh pengalaman administratif. Di sana seorang kader ditempa untuk memahami tradisi ke-NU-an, kehidupan masyarakat, kepemimpinan, serta cara menghadapi persoalan umat.

Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ketika Kiai Adnan memasuki lingkungan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Menjadi Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah

Di lingkungan PMII, kiprah Kiai Adnan semakin berkembang. Ia dipercaya menjadi Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah.

Posisi sebagai Koordinator Cabang membawa pengalaman yang berbeda. Jika organisasi pelajar banyak menjadi ruang pembentukan dasar kader, PMII mempertemukan Kiai Adnan dengan dunia mahasiswa, pemikiran, diskusi intelektual, dan dinamika sosial-politik.

PMII menjadi ruang yang mempertemukan tradisi keislaman Nahdliyin dengan tradisi intelektual mahasiswa.

Dari lingkungan inilah karakter Kiai Adnan sebagai seorang intelektual dan organisator kemudian semakin kuat.

Ia tidak hanya dibentuk oleh tradisi pesantren dan NU, tetapi juga oleh budaya diskusi mahasiswa yang menuntut kemampuan membaca persoalan secara kritis.

Jejak sebagai mantan Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan panjangnya di NU. NU Online Jateng mencatat Kiai Adnan sebagai mantan Korcab PMII Jawa Tengah sekaligus mantan Wakil Ketua IPNU Jawa Tengah.

Dari jalur kaderisasi inilah kemudian lahir seorang organisator yang kelak mampu bergerak di tiga dunia sekaligus: organisasi keagamaan, akademik, dan kehidupan kebangsaan.

Aktivis yang Masuk ke Dunia Akademik

Setelah melewati fase organisasi kemahasiswaan, Kiai Adnan tidak meninggalkan dunia intelektual.

Ia justru membawa pengalaman aktivismenya ke lingkungan akademik.

Kiai Adnan kemudian menekuni ilmu politik dan menjadi akademisi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Ia meraih gelar master dalam bidang perbandingan politik dari Hiroshima University, Jepang, kemudian menempuh pendidikan doktoral ilmu politik di Universitas Diponegoro.

Perpaduan antara pengalaman organisasi dan pendidikan akademik tersebut menjadi ciri khas perjalanan hidupnya.

Ia memahami NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan bangsa.

Begitu pula ketika berbicara tentang politik, ia tidak melepaskannya dari realitas masyarakat, agama, dan kebudayaan Indonesia.

Karena itu, kajian yang kemudian banyak digelutinya berkaitan dengan agama, politik Islam, demokrasi, radikalisme, terorisme, konflik agama, dan negara bangsa.

Dari Kader Muda Menuju Pimpinan NU

Pengalaman di IPNU dan PMII menjadi salah satu fondasi sebelum Kiai Adnan memasuki struktur NU yang lebih luas.

Jalur kaderisasi tersebut mempertemukannya dengan banyak tokoh dan jaringan Nahdliyin di Jawa Tengah.

Kiai Adnan kemudian dipercaya berada dalam struktur PWNU Jawa Tengah hingga akhirnya mencapai posisi Ketua Tanfidziyah.

Pada Konferensi Wilayah NU Jawa Tengah 2003, ia dipercaya menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah untuk periode 2003–2008.

Ia berpasangan dengan KH Masruri Mughni, Lc., yang dipercaya sebagai Rais Syuriah.

Duet tersebut mempertemukan dua latar belakang yang berbeda tetapi saling melengkapi: tradisi keulamaan pesantren dan pengalaman akademik-organisatoris.

Di tangan kepemimpinan tersebut, PWNU Jawa Tengah memasuki periode konsolidasi organisasi dengan perhatian besar terhadap kemandirian dan kaderisasi.

Lima Tahun Pertama: Menjaga NU Tetap Mandiri

Ketika memimpin PWNU Jawa Tengah pada 2003, Kiai Adnan berada dalam situasi ketika NU harus terus berhadapan dengan dinamika politik nasional dan daerah.

Pengalaman panjangnya sebagai aktivis membuatnya memahami bahwa NU memiliki basis sosial yang sangat besar, sehingga organisasi harus berhati-hati agar tidak kehilangan independensi.

Sikap tersebut antara lain terlihat ketika pada 2006 PWNU Jawa Tengah menyatakan tidak akan memfasilitasi pembentukan partai politik baru, meskipun ketika itu terjadi dinamika internal di lingkungan PKB.

Kiai Adnan menegaskan bahwa hak politik merupakan hak setiap warga negara, tetapi sebagai organisasi PWNU tidak ikut terlibat dalam pembentukan partai.

Sikap tersebut memperlihatkan garis pemikiran yang kemudian cukup kuat dalam kepemimpinannya: warga NU memiliki hak politik sebagai individu, sementara organisasi NU harus tetap memiliki jarak kelembagaan dengan kepentingan partai politik.

Ketika Ketua PWNU Masuk Pilgub

Pada 2008, perjalanan Kiai Adnan memasuki fase yang berbeda.

Ia memutuskan maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah sebagai calon Wakil Gubernur berpasangan dengan Bambang Sadono.

Keduanya maju melalui Partai Golkar.

Karena pencalonan tersebut, Kiai Adnan menyatakan akan nonaktif dari jabatan Ketua PWNU Jawa Tengah. Rencana nonaktif itu diumumkan pada April 2008, setelah proses penetapan pasangan calon oleh KPU Jawa Tengah.

Keputusan tersebut sempat menimbulkan dinamika di internal PWNU karena menyangkut hubungan antara organisasi keagamaan dan politik praktis.

Namun, fase politik tersebut tidak berlangsung lama.

Pasangan Bambang Sadono–Muhammad Adnan akhirnya kalah dalam Pilgub Jawa Tengah 2008.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu episode penting dalam perjalanan Kiai Adnan. Ia pernah berada langsung di gelanggang politik praktis, tetapi pengalaman itu pula yang membuat persoalan independensi organisasi menjadi semakin nyata dalam perjalanan kepemimpinannya.

Kembali Memimpin PWNU untuk Periode Kedua

Setelah masa politik tersebut, Kiai Adnan kembali menjadi bagian penting dalam kepemimpinan NU Jawa Tengah.

Pada Konferwil NU Jawa Tengah di Brebes pada Juli 2008, namanya kembali mendapatkan dukungan sejumlah cabang.

Ketika ditanya mengenai peluang kembali memimpin, Kiai Adnan tidak banyak memberikan komentar. Ia menyerahkan keputusan kepada peserta Konferwil.

Pada akhirnya, ia kembali dipercaya menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah untuk periode 2008–2013.

Dengan demikian, Kiai Adnan memimpin PWNU Jawa Tengah selama dua periode berturut-turut, 2003–2008 dan 2008–2013.

Kepemimpinan yang Bertumpu pada Kaderisasi

Sepuluh tahun kepemimpinan Kiai Adnan di PWNU Jateng tidak hanya meninggalkan catatan mengenai kebijakan organisasi.

Salah satu gagasan yang paling menonjol adalah kaderisasi.

Ia memahami bahwa organisasi sebesar NU tidak boleh bergantung kepada figur tertentu.

Kepemimpinan harus memiliki kesinambungan.

Karena itu, setelah menyelesaikan periode keduanya pada 2013, Kiai Adnan tidak kembali mempertahankan kursinya.

Keputusan tersebut menjadi bagian dari prinsip regenerasi yang selama ini ia dorong.

Pengalaman tersebut kemudian turut membawa namanya ke tingkat nasional.

Pada Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015, Kiai Adnan masuk dalam bursa kandidat Ketua Umum PBNU. Ketika itu, pengalaman memimpin PWNU Jawa Tengah menjadi salah satu modal penting yang dibawanya.

Gagasannya mengenai kepemimpinan NU nasional juga tidak terlepas dari pengalamannya mengelola organisasi di tingkat wilayah.

Ia mendorong agar kaderisasi dilakukan secara lebih sistematis dan pemimpin nasional lahir dari proses panjang pengalaman organisasi.

Dari Organisasi ke Dunia Pemikiran

Setelah tidak lagi menjadi Ketua PWNU Jateng, Kiai Adnan tetap aktif dalam dunia keilmuan.

Ia mengembangkan penelitian tentang hubungan agama dan politik.

Radikalisme dan terorisme menjadi salah satu perhatian akademiknya.

Ia menulis "Radikalisme dan Terorisme: Sketsa Kelompok-Kelompok Garis Keras di Dunia", yang membahas perkembangan dan ideologi berbagai kelompok garis keras dalam perspektif politik.

Ia juga menulis "Kekerasan Berbasis Agama: Peta Konflik Agama di Indonesia", yang mengkaji konflik sosial-keagamaan dan persoalan resolusi konflik.

Karya lainnya adalah monograf "Konsepsi Tentang Terorisme" dan "Short Cut Paham Politik: Sekumpulan Konsep Pilihan dalam Politik".

Selain itu, terdapat karya yang secara khusus membahas hubungan NU dan negara bangsa, serta penelitian mengenai Islamisme dan demokrasi di Kota Surakarta.

Dari karya-karya tersebut terlihat kesinambungan antara pengalaman organisasinya dengan dunia akademik.

Persoalan yang pernah ia temui dalam kehidupan organisasi kemudian menjadi bahan refleksi ilmiah.

NU dan Negara Bangsa

Bagi Kiai Adnan, menjadi kader NU tidak berhenti pada aktivitas organisasi.

Ada tanggung jawab kebangsaan yang menyertainya.

Karena itu, pemikirannya banyak bertumpu pada hubungan antara Islam, NU, demokrasi, dan negara bangsa.

Ia menempatkan Pancasila dan NKRI sebagai bagian dari kesepakatan kebangsaan yang harus dijaga.

Pemikiran itu kemudian ia bawa ke ruang akademik maupun pesantren.

Baginya, pendidikan agama harus berjalan beriringan dengan pendidikan kebangsaan.

Islam tidak harus ditempatkan berhadap-hadapan dengan negara.

Sebaliknya, nilai keislaman dapat menjadi sumber etika untuk membangun kehidupan demokratis, damai, dan adil.

Membangun Pesantren Kebangsaan

Pada 2023, Kiai Adnan mendirikan dan meresmikan Pesantren Mahasiswa Kebangsaan di kawasan Tembalang, Semarang.

Pesantren tersebut diarahkan untuk mahasiswa dan memadukan pendidikan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah dengan nilai-nilai kebangsaan.

Konsep itu sebenarnya merupakan kelanjutan dari perjalanan hidup Kiai Adnan.

Ia pernah menjadi kader organisasi mahasiswa.

Ia kemudian menjadi akademisi.

Ia pernah memimpin organisasi NU.

Dan pada fase berikutnya, ia membangun ruang pendidikan yang mempertemukan mahasiswa, agama, dan kebangsaan.

Pesantren tersebut menjadi salah satu warisan terakhir dari perjalanan intelektual dan organisasinya.

Menyerahkan Buku kepada Kampus

Pada Agustus 2025, Kiai Adnan juga menghibahkan sejumlah karya akademiknya kepada perpustakaan FISIP Undip.

Tindakan tersebut memiliki arti penting dalam perjalanan seorang akademisi.

Ia tidak hanya meninggalkan jabatan, tetapi juga meninggalkan pengetahuan yang dapat dibaca dan dikaji oleh generasi setelahnya.

Buku-buku tentang radikalisme, terorisme, konflik agama, politik, dan negara bangsa menjadi bagian dari warisan intelektual yang dapat terus digunakan mahasiswa.

Sepuluh Tahun di Puncak PWNU

Jika perjalanan Kiai Adnan dirunut dari masa mudanya, terlihat satu garis yang cukup jelas.

Ia berangkat dari organisasi pelajar.

Kemudian masuk ke dunia mahasiswa melalui PMII.

Dari sana ia menjadi Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah.

Ia kemudian memasuki struktur NU dan akhirnya dipercaya memimpin PWNU Jawa Tengah.

Jabatan tersebut dijalani selama dua periode, 2003–2008 dan 2008–2013.

Di tengah perjalanan itu, ia sempat masuk politik praktis sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Tengah pada 2008.

Setelah itu, ia kembali ke dunia akademik dan organisasi.

Ia kemudian mengembangkan pemikiran mengenai Islam, politik, demokrasi, radikalisme, dan negara bangsa.

Pada usia yang lebih matang, ia kembali ke dunia pendidikan melalui Pesantren Kebangsaan.

Dengan demikian, perjalanan Kiai Adnan bukan sekadar perjalanan dari satu jabatan ke jabatan berikutnya.

Itu adalah perjalanan seorang kader yang berpindah dari ruang kaderisasi ke ruang intelektual, dari ruang intelektual ke ruang kepemimpinan, kemudian kembali kepada pendidikan dan pengabdian.

Dari Kader Menjadi Pengarah Kader

Warisan Kiai Adnan justru dapat dibaca dari proses tersebut.

Ia pernah menjadi kader.

Kemudian memimpin kader.

Setelah menjadi pemimpin wilayah, ia mendorong regenerasi.

Ketika tidak lagi berada di puncak organisasi, ia tetap membangun kader melalui kampus dan pesantren.

Di sinilah perjalanan panjangnya menemukan titik temu.

PMII memberinya pengalaman gerakan. Akademik memberinya perangkat berpikir. NU memberinya ruang pengabdian. Pesantren memberinya ruang untuk mewariskan nilai.

Kiai Adnan meninggalkan NU bukan hanya dengan catatan pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah selama dua periode.

Ia meninggalkan jejak tentang bagaimana seorang kader dapat tumbuh melalui proses panjang sebelum akhirnya dipercaya memimpin organisasi besar.

Akhir Perjalanan

Dr. KH Muhammad Adnan wafat pada Rabu, 7 Oktober 2026 malam di ICU RS Samsoe Hidajat, Semarang.

Jenazahnya disemayamkan di Kompleks Pondok Pesantren Kebangsaan, Jalan Mulawarman Timur, Kelurahan Kramas, Kecamatan Tembalang, Semarang, pesantren yang diasuhnya.

Ia dimakamkan pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.

Kepergiannya meninggalkan ruang kosong dalam perjalanan NU Jawa Tengah.

Namun jika perjalanan hidupnya dibaca secara utuh, warisan Kiai Adnan tidak berhenti pada periode ketika ia memimpin PWNU.

Warisan itu telah dimulai jauh sebelumnya—ketika ia menjadi kader muda NU, bergerak di IPNU, menempuh pengkaderan PMII hingga menjadi Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah.

Dari sana ia tumbuh menjadi akademisi, kemudian dipercaya memimpin PWNU Jawa Tengah pada 2003–2008 dan kembali pada 2008–2013.

Setelah itu, ia memilih meninggalkan ruang perebutan jabatan dan memperluas pengabdiannya melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Maka, kisah Kiai Adnan pada akhirnya bukan hanya tentang seorang mantan Ketua PWNU Jawa Tengah.

Ia adalah kisah tentang seorang kader yang menjalani proses panjang, menjadi pemimpin, lalu kembali menanamkan kaderisasi melalui ilmu dan pendidikan.

Dan jejak itulah yang kini tertinggal di NU Jawa Tengah: dari organisasi mahasiswa, ruang akademik, kepemimpinan PWNU, hingga Pesantren Kebangsaan.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Kanal terkait

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 12 dari 19
← 11 12 13 →