Opini

Dari Membaca Realitas Menuju Mengubah Realitas: Kader PMII dalam Gerakan Ekososial

Penulis: Sahabat Malikul Mulky Alamsyah (Kader PMII UIN Walisongo Semarang)
Bagikan
Malikul Mulky Alamsyah, kader PMII UIN Walisongo Semarang, mengikuti Pelatihan Kader Lanjut PC PMII DIY Yogyakarta. Ia menyoroti pentingnya kaderisasi PMII dalam membangun kesadaran dan gerakan ekososial.
Malikul Mulky Alamsyah, kader PMII UIN Walisongo Semarang, mengikuti Pelatihan Kader Lanjut PC PMII DIY Yogyakarta. Ia menyoroti pentingnya kaderisasi PMII dalam membangun kesadaran dan gerakan ekososial.

Opini Oleh: Sahabat Malikul Mulky Alamsyah (Kader PMII UIN Walisongo Semarang)

Saya mengenal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bukan pertama-tama sebagai organisasi yang berbicara tentang krisis ekososial. Saya mengenalnya melalui forum-forum kecil di rayon, diskusi hingga malam, dan proses panjang memahami mengapa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penonton atas persoalan di sekitarnya. Jika kaderisasi PMII bertujuan membentuk manusia yang mampu membaca dan mengubah realitas, mengapa krisis ekososial belum selalu menjadi bagian penting dari kesadaran dan gerakan kader?

Pertanyaan ini semakin relevan ketika persoalan lingkungan tidak lagi dapat dipisahkan dari persoalan sosial. Perubahan iklim, pencemaran, kerusakan ekosistem, dan pengelolaan sumber daya berdampak pada kesehatan, pangan, pekerjaan, serta kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, krisis ekologis juga merupakan krisis sosial. Pemerintah Indonesia dan UNICEF menekankan pentingnya pendidikan iklim serta keterlibatan generasi muda dalam aksi lingkungan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia & UNICEF Indonesia, 2024).

Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan kemajuan ekonomi, keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat juga harus menjadi pertimbangan. Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi hijau yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan (Kementerian PPN/Bappenas, 2022).

Ekologi sosial mengajak kita melihat alam bukan sebagai objek yang bebas dieksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang saling bergantung. Pilihan sehari-hari, mulai dari pola konsumsi hingga pengelolaan sampah, turut memengaruhi lingkungan. Karena itu, menjaga alam bukan sekadar persoalan ekologis, melainkan juga upaya menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Dari Kaderisasi Menuju Aksi Ekologis

Pengalaman tersebut perlahan saya temukan selama berproses di PMII Rayon Dakwah Komisariat UIN Walisongo Semarang. Melalui diskusi dan kaderisasi, saya belajar membaca persoalan sosial sekaligus memahami bahwa keberpihakan terhadap kehidupan harus diwujudkan dalam tindakan.

Salah satu ruang yang mempertemukan proses kaderisasi dengan kepedulian lingkungan bagi saya adalah AKASIA (Aksi Kepedulian Alam Indonesia). Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa kepedulian terhadap alam tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu tumbuh menjadi kesadaran dan kebiasaan untuk terlibat secara langsung.

AKASIA membuat saya memahami bahwa gerakan ekologis dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Lingkungan yang kotor, ruang hidup yang tidak terawat, dan rendahnya kepedulian terhadap alam bukan sekadar persoalan teknis. Di baliknya, terdapat persoalan kesadaran, kebiasaan, dan cara manusia memandang hubungannya dengan lingkungan.

Pengalaman tersebut menguatkan keyakinan saya bahwa kaderisasi tidak seharusnya hanya menghasilkan kader yang pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga kader yang bersedia mengambil bagian di dalamnya. Ada jarak antara gagasan yang didiskusikan di forum dan tindakan setelah forum selesai. Kita dapat berbicara tentang keadilan sosial dan kemanusiaan, tetapi gagasan tersebut kehilangan makna jika tidak menyentuh persoalan nyata di sekitar kita.

Bagi saya, AKASIA menjadi ruang untuk memperkecil jarak tersebut. Membersihkan lingkungan, menanam, mengajak orang lain peduli, atau membangun kebiasaan baru mungkin terlihat sederhana. Namun, tindakan yang dilakukan secara konsisten dapat menumbuhkan kesadaran kolektif. Gerakan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar; terkadang, gerakan bermula dari keberanian melakukan hal kecil secara berkelanjutan.

Arah Kaderisasi PMII dalam Merespons Krisis Ekososial

Pengalaman berproses di rayon membawa saya pada kesadaran bahwa kaderisasi PMII perlu memperluas ruang pembelajarannya. Kader tidak cukup hanya mampu membaca teks dan realitas sosial, tetapi juga perlu memahami hubungan antara manusia, alam, teknologi, ekonomi, dan kekuasaan.

Menurut saya, arah kaderisasi tersebut dapat diwujudkan melalui tiga langkah.

Pertama, memperkuat literasi ekososial agar kader mampu memahami hubungan persoalan lingkungan dengan kemiskinan, kesehatan, pangan, pekerjaan, dan ketimpangan.

Kedua, mengembangkan kaderisasi berbasis pengalaman dengan mempertemukan diskusi dan keterlibatan langsung di masyarakat melalui pemetaan masalah, pengelolaan sampah, konservasi, maupun edukasi lingkungan.

Ketiga, mengorganisasi gerakan secara berkelanjutan dengan mengubah pengetahuan dan pengalaman menjadi agenda bersama yang memiliki tujuan serta tindak lanjut.

Melalui langkah tersebut, PMII dapat bergerak dari sekadar membentuk kader yang mampu membaca realitas menjadi kader yang mampu memahami, mengalami, mengorganisasi, dan mengubah realitas. Kader tidak hanya dituntut memahami krisis ekososial, tetapi juga menerjemahkan pengetahuannya menjadi tindakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kaderisasi ekologis bukan berarti seluruh aktivitas PMII harus membicarakan lingkungan. Nilai ekologis justru perlu menjadi perspektif dalam melihat berbagai persoalan. Ketika membicarakan ekonomi, kader perlu mempertanyakan keberlanjutan dan dampaknya terhadap lingkungan. Ketika membahas pembangunan, kader perlu melihat siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung dampaknya. Sementara itu, dalam membicarakan teknologi, kader perlu mengkritisi apakah kemajuan benar-benar meningkatkan kualitas hidup atau justru melahirkan bentuk eksploitasi baru.

Membangun Komitmen dalam Gerakan Ekososial

Perjalanan dari rayon menuju komisariat membuat saya semakin percaya bahwa gerakan ekologis membutuhkan kesinambungan. Kegiatan kepedulian alam tidak boleh berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan, pendidikan, diskusi, pengorganisasian, dan gerakan yang terus hidup.

Di tingkat rayon, kesadaran ekologis dapat ditanamkan melalui kaderisasi dan aktivitas bersama. Di tingkat komisariat, gagasan tersebut dapat diperluas menjadi gerakan lintas rayon yang menghubungkan persoalan lingkungan dengan persoalan sosial.

Kontribusi yang ingin saya dorong bukan sekadar memperbanyak kegiatan lingkungan, melainkan membangun kultur kaderisasi yang memiliki kepekaan ekologis. Saya ingin pengalaman melalui AKASIA tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan kepada kader lain. Saya juga ingin ruang diskusi PMII memberikan tempat lebih besar bagi persoalan ekologis sekaligus mendorong lahirnya aksi nyata.

Komitmen tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan, diskusi, pemetaan persoalan lingkungan di sekitar kader dan masyarakat, serta kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan. Kolaborasi dengan komunitas, organisasi mahasiswa, masyarakat, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan juga perlu diperkuat.

Bagi saya, kontribusi seorang kader tidak selalu harus berupa gerakan besar. Hal yang lebih penting adalah konsistensi antara nilai yang diyakini, pengetahuan yang dipelajari, dan tindakan yang dilakukan.

Pentingnya keterlibatan generasi muda dalam persoalan lingkungan juga ditegaskan dalam kajian KLHK dan UNICEF mengenai kondisi iklim bagi anak-anak di Indonesia (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia & UNICEF Indonesia, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan ruang partisipasi menjadi bagian penting dalam mendorong generasi muda terlibat menghadapi tantangan lingkungan.

Peluang Kader PMII dalam Ruang Sosial-Ekonomi

Krisis ekososial tidak hanya menghadirkan persoalan, tetapi juga membuka peluang kontribusi bagi kader PMII dalam ruang sosial dan ekonomi. Transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan sumber daya manusia dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Bappenas menempatkan ekonomi hijau sebagai bagian dari transformasi ekonomi Indonesia yang menghubungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (Kementerian PPN/Bappenas, 2022).

Peluang tersebut dapat ditemukan dalam pengembangan pekerjaan hijau (green jobs), ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, konservasi, hingga usaha sosial berbasis lingkungan. Kajian International Labour Organization (2023a, 2023b) juga membahas kebutuhan keterampilan dan kesiapan transisi menuju pekerjaan hijau di sejumlah sektor di Indonesia.

Bagi kader PMII, peluang tersebut dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan yang diperoleh melalui organisasi. Kemampuan berdiskusi, mengorganisasi masyarakat, membangun jaringan, membaca persoalan sosial, dan mengelola kegiatan dapat dikembangkan menjadi kompetensi yang relevan dengan ekonomi hijau.

Kader dapat mengambil peran sebagai penggerak komunitas, pendamping masyarakat, pengelola program lingkungan, komunikator publik, maupun pengembang usaha sosial. Namun, peluang ekonomi tersebut tidak boleh membuat persoalan lingkungan semata-mata dipandang sebagai komoditas. Keberlanjutan dan kepentingan masyarakat harus tetap menjadi orientasi utama.

Karena itu, kader PMII perlu mampu mempertemukan kepedulian sosial, keberlanjutan lingkungan, dan inovasi ekonomi. Dengan begitu, gerakan ekososial tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi proses pemberdayaan masyarakat.

Menjadi Kader yang Mengubah Realitas

Saya akhirnya memahami bahwa menjadi kader bukan hanya tentang seberapa banyak forum yang pernah diikuti atau seberapa banyak gagasan yang mampu disampaikan. Menjadi kader adalah tentang bagaimana proses belajar mengubah cara pandang dan mendorong seseorang mengambil tanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya.

Dari rayon, saya belajar membaca realitas. Melalui AKASIA, saya belajar menyentuh realitas. Ke depan, saya ingin membawa pengalaman tersebut menjadi gerakan yang lebih luas melalui ruang-ruang organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Krisis ekososial mungkin merupakan persoalan besar yang tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi, apalagi oleh seorang kader. Namun, ketidakmampuan menyelesaikannya seorang diri bukan alasan untuk tidak memulai.

Jika PMII ingin terus melahirkan kader yang mampu menjawab tantangan zaman, kaderisasi harus berani mempertemukan nalar kritis dengan keberanian bertindak, serta kesadaran kemanusiaan dengan kesadaran ekologis.

Sebab, merawat alam bukanlah gerakan yang berada di luar perjuangan kemanusiaan. Ketika menjaga bumi, sesungguhnya kita sedang menjaga ruang kehidupan manusia. Dan ketika seorang kader belajar menjaga kehidupan, di situlah kaderisasi menemukan maknanya: membentuk manusia yang tidak hanya mampu berpikir tentang perubahan, tetapi juga bersedia menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Daftar Pustaka

International Labour Organization. (2023a). Circular economy in the food and beverage industry for a green recovery: PAGE Indonesia—In-depth assessment of green jobs and skill needs. ILO.

International Labour Organization. (2023b). Green jobs and just transition readiness assessment in the energy sector in Indonesia. ILO.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, & UNICEF Indonesia. (2024). Climate Landscape Analysis for Children in Indonesia. UNICEF Indonesia.

Kementerian PPN/Bappenas. (2022). Green Economy Index: A step forward to measure the progress of Indonesia's green economy transformation. Kementerian PPN/Bappenas.

Mariska. (2024). Optimalisasi peluang green jobs melalui penyiapan tenaga kerja hijau. Bappenas Working Papers, 7(3). https://doi.org/10.47266/bwp.v7i3.365

Penulis: Sahabat Malikul Mulky Alamsyah (Kader PMII UIN Walisongo Semarang)
Editor: Tim Redaksi

Kanal terkait

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 1 dari 19
1 2 →