Pendidikan & Budaya

Ketika Demak Terbelah: Jejak Perlawanan Pangeran Wiryokusumo terhadap Bayang-Bayang VOC

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Makam Pangeran Wiryokusumo atau Panembahan Krapayak di Demak
Makam Pangeran Wiryokusumo atau Panembahan Krapayak di Demak

KABARSAHABAT ID – Jauh sebelum Demak dikenal sebagai salah satu daerah penting di Jawa Tengah, wilayah ini pernah menjadi arena tarik-menarik kepentingan politik antara kekuatan Mataram dan VOC. 

Di tengah situasi tersebut, muncul sosok Pangeran Wiryokusumo, Bupati Demak yang kemudian dikenal dengan sebutan Panembahan Krapyak.

Menurut Dr M Kholidul Adib, penulis sejarah sekaligus Ketua LTN PCNU Kota Semarang, kisah Pangeran Wiryokusumo tidak dapat dilepaskan dari perubahan peta kekuasaan di Jawa pada abad ke-18.

Pangeran Wiryokusumo tercatat sebagai Bupati Demak pada 1734–1757 M. Pada masa kepemimpinannya, Demak berada dalam posisi strategis karena menjadi wilayah pesisir yang memiliki jalur perdagangan penting, sekaligus berada dalam pengaruh Mataram.

“Posisi Pangeran Wiryokusumo sangat strategis sekaligus rentan. Demak berada di antara kepentingan Mataram di pedalaman dan VOC yang semakin kuat di wilayah pantura,” kata Kholidul Adib.

Kondisi tersebut membuat kebijakan seorang bupati Demak tidak sekadar berkaitan dengan pemerintahan daerah. Setiap pilihan politik berpotensi bersinggungan dengan kepentingan dua kekuatan besar.

Dari Bupati Demak hingga Panembahan Krapyak

Kholidul Adib menjelaskan, Pangeran Wiryokusumo juga disebut Panembahan Krapyak. Sebutan tersebut berkaitan dengan tempat tinggalnya di kawasan Krapyak, Demak.

Nama Krapyak sendiri memiliki jejak historis dalam tata ruang tradisional Jawa. Di sejumlah daerah seperti Demak, Solo, Yogyakarta dan Semarang, istilah Krapyak digunakan untuk menyebut kawasan hutan atau padang luas yang dipagari dan dilindungi sebagai tempat perburuan hewan liar oleh kalangan raja dan bangsawan.

Sementara berdasarkan silsilah dalam catatan biografi keluarga KH Muslih Abdurrahman, pendiri Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Pangeran Wiryokusumo disebut memiliki garis keturunan Sunan Kalijaga.

Dalam silsilah tersebut, Pangeran Wiryokusumo merupakan putra Pangeran Sujatmiko atau Wijil II/Notonegoro II, putra Pangeran Agung atau Notoprojo, yang kemudian tersambung kepada Pangeran Sabrang, Pangeran Ketib, Pangeran Hadi hingga Sunan Kalijaga.

VOC Makin Kuat, Demak Mulai Berubah

Sebagai penguasa wilayah pesisir, Pangeran Wiryokusumo menghadapi persoalan yang tidak sederhana.

Demak secara politik berada dalam lingkungan kekuasaan Mataram. Namun secara ekonomi, kehidupan masyarakat pesisir sangat bergantung pada perdagangan Laut Jawa. Pada periode tersebut, VOC semakin memperluas kontrolnya terhadap jalur perdagangan dan wilayah pantura.

Situasi itu membuat para penguasa pesisir berada dalam tekanan.

Mataram membutuhkan loyalitas politik, sedangkan VOC berusaha mengendalikan jalur ekonomi dan pemerintahan di wilayah pantai utara Jawa.

Menurut Adib, Pangeran Wiryokusumo kemudian memilih sikap yang membuatnya tidak mudah dikendalikan.

Ketegangan tersebut semakin terasa ketika konflik perebutan kekuasaan di Mataram meletus. Setelah Sunan Pakubuwono II wafat pada 1749, Pakubuwono III naik takhta dengan dukungan VOC.

Kebijakan tersebut ditentang Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa bersama Pangeran Mangkubumi. Perlawanan kemudian berkembang menjadi Perang Suksesi Jawa III.

Pangeran Sambernyawa sendiri sebelumnya telah terlibat dalam perlawanan terhadap VOC sejak Geger Pacinan pada 1742.

Pangeran Wiryokusumo Berada di Barisan Sambernyawa

Dalam situasi tersebut, Pangeran Wiryokusumo disebut ikut memberikan dukungan terhadap perjuangan Raden Mas Said di wilayah pantura.

“Pangeran Wiryokusumo tidak suka dengan semakin kuatnya kendali VOC terhadap pantura. Ia kemudian ikut membantu perjuangan Raden Mas Said,” ujar Adib.

Raden Mas Said juga mendapatkan dukungan dari Kiai Kasan Nur Iman dari Wonogiri yang berperan sebagai guru, penasihat sekaligus mertua.

Perlawanan tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Konflik Mataram akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membagi Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Namun, Raden Mas Said tetap melanjutkan perlawanan.

Perjuangan tersebut baru berakhir setelah Perjanjian Salatiga pada Maret 1757. Raden Mas Said kemudian memperoleh wilayah kekuasaan mandiri bernama Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar KGPAA Mangkunegara I.

Dukungan Rakyat Tak Membuat Wiryokusumo Bertahan

Berakhirnya perlawanan Raden Mas Said ternyata tidak otomatis mengubah sikap Pangeran Wiryokusumo.

Menurut Adib, Pangeran Wiryokusumo tetap mempertahankan sikap kritis terhadap VOC yang semakin mengendalikan kawasan pantura.

Sikap tersebut akhirnya berimbas pada kedudukannya sebagai Bupati Demak.

VOC kemudian menurunkan Pangeran Wiryokusumo dari jabatan bupati dan mengangkat adiknya sebagai penguasa Demak berikutnya.

Namun, persoalan tidak berhenti pada pergantian bupati.

Dukungan dari ulama dan masyarakat Demak kepada Pangeran Wiryokusumo disebut masih kuat. Akibatnya, wilayah Demak kemudian berkembang menjadi dua pusat kekuasaan.

Satu wilayah dikenal sebagai Kadipaten Demak Kaloran yang dipimpin Pangeran Wiryokusumo. Sementara wilayah lainnya adalah Kadipaten Demak Kidulan yang dipimpin adiknya.

“Sungai Tuntang lama menjadi batas antara dua wilayah tersebut,” jelas Adib.

Jejak Sejarah di Astana Gedong

Bagi Kholidul Adib, perjalanan Pangeran Wiryokusumo menunjukkan bahwa sejarah Demak tidak berhenti pada kejayaan Kesultanan Demak pada masa sebelumnya.

Ada fase ketika Demak harus menghadapi perubahan besar akibat persaingan kekuasaan Mataram, konflik internal kerajaan dan ekspansi VOC di wilayah pesisir.

Pangeran Wiryokusumo menjadi salah satu tokoh yang berada di tengah pusaran perubahan tersebut.

Jejak sejarahnya masih dapat ditelusuri hingga kini melalui makam Pangeran Wiryokusumo di Astana Gedong, Demak.

“Kisah Pangeran Wiryokusumo menjadi catatan penting dalam historiografi Jawa, khususnya untuk melihat bagaimana penguasa lokal pesisir menghadapi tekanan kekuasaan yang datang dari pedalaman maupun kekuatan kolonial,” tutur Adib.

Dari kisah tersebut, Demak pada abad ke-18 bukan hanya menjadi wilayah administratif, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara kepentingan politik, ekonomi, agama dan perlawanan terhadap semakin kuatnya pengaruh VOC.

Pangeran Wiryokusumo pun meninggalkan jejak sebagai salah satu penguasa Demak yang namanya terkait dengan fase ketika wilayah tersebut mengalami perpecahan kekuasaan sekaligus menghadapi derasnya perubahan politik Jawa.

Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 2 dari 19
← 1 2 3 →