Tokoh

KH Iman Fadhilah, Dari Aktivis Mahasiswa hingga Membangun Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah

Penulis: Mushonifin
Bagikan
KH Iman Fadhilah, Dari Aktivis Mahasiswa hingga Membangun Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah
KH Iman Fadhilah, Dari Aktivis Mahasiswa hingga Membangun Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah

KABARSAHABAT.ID – Perjalanan dakwah Dr. KH. Iman Fadhilah, SHI, MSI, tidak dibangun dalam waktu singkat. Berawal dari aktivitas membina mahasiswa melalui forum keagamaan dan diskusi intelektual, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) tersebut kini berhasil mengembangkan gerakan dakwah menjadi Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah di Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Perjalanan itu menjadi gambaran bagaimana konsistensi, keteladanan, dan kepedulian terhadap pendidikan keagamaan mampu melahirkan sebuah lembaga pesantren yang tumbuh bersama masyarakat.

Bagi KH Iman Fadhilah, mendirikan pesantren bukan semata-mata persoalan kepemilikan ilmu agama maupun kemampuan finansial. Lebih dari itu, diperlukan kepercayaan, dukungan, dan keterlibatan masyarakat sebagai fondasi untuk membangun sebuah gerakan pendidikan dan dakwah.

Prinsip tersebut diterapkannya ketika merintis Majelis Taklim Al-Fadhilah delapan tahun silam. Kegiatan yang semula menjadi ruang pembinaan rohani mahasiswa itu perlahan berkembang dan mendapatkan tempat di tengah masyarakat hingga akhirnya melahirkan Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah.

Kini, pesantren tersebut telah memasuki usia empat tahun. Perjalanan itu diperingati melalui Tasyakuran Harlah ke-4 Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah, Jumat (30/10/2026) malam.

"Awalnya kegiatan ini hanya majelis taklim yang diikuti mahasiswa. Kemudian berkembang dan merambah masyarakat sampai akhirnya menjadi pesantren. Alhamdulillah, hari ini pesantren memasuki usia empat tahun, sedangkan Majelis Al-Fadhilah sudah berusia delapan tahun," ungkap KH Iman Fadhilah.

Mantan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah tersebut mengungkapkan, sejak awal dirinya memiliki perhatian besar terhadap penguatan Islam yang ramah, moderat, dan menjunjung tinggi toleransi.

Pemikiran almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi salah satu inspirasi dalam membangun corak dakwah tersebut. Ia ingin nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami melalui pengajaran keagamaan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

"Sejak awal memang kami berupaya memperkuat pemikiran almarhum Gus Dur, terutama dalam mengajarkan toleransi. Umat Islam harus menggunakan keteladanan dalam berdakwah," jelasnya.

Mewarisi Semangat Perjuangan Ulama

Latar belakang KH Iman sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU), yang ditempa melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), turut membentuk karakter dakwah dan pandangannya terhadap kehidupan kebangsaan.

Pengalaman berorganisasi membuatnya memahami bahwa perjuangan seorang santri tidak cukup hanya dengan memperdalam pengetahuan agama. Santri juga harus memiliki kepedulian sosial, wawasan kebangsaan, serta keberanian mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

Ia menjadikan pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari, sebagai salah satu teladan. Menurutnya, sosok ulama besar tersebut tidak hanya dikenal karena keluasan ilmu agama, tetapi juga memiliki nasionalisme yang kuat.

"KH Hasyim Asy'ari menjadi ikon bukan hanya karena kedalaman ilmu agama, tetapi juga karena memiliki nasionalisme yang kuat," tuturnya.

KH Iman juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah perjuangan ulama Nusantara, termasuk peran KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai bagian dari delegasi Komite Hijaz yang membawa aspirasi ulama Ahlussunah Wal Jamaah dari Indonesia.

Baginya, kiprah para ulama tersebut menunjukkan bahwa santri memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga agama sekaligus berkontribusi bagi bangsa.

Mendorong Santri Berani Berdakwah di Era Digital

Selain membangun pesantren, KH Iman memiliki perhatian terhadap pengembangan tradisi intelektual mahasiswa. Hal itu diwujudkan melalui kelompok diskusi rutin yang kemudian berkembang menjadi Rumah Pergerakan Al-Fadhilah dan menjadi bagian dari gerakan Gusdurian.

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman sejarah Islam secara komprehensif. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh memahami perkembangan Islam hanya dari satu sisi, termasuk menganggap penyebarannya terjadi karena kekuatan militer.

"Memang ada banyak sejarah peperangan dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW, tetapi bukan berarti Islam berkembang karena kekuatan militer. Mahasiswa harus memahami sejarah mulai dari kronologi hingga pemaknaan atas peristiwa tersebut," tegasnya.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, KH Iman juga mendorong para santri untuk berani memanfaatkan media sosial sebagai ruang dakwah. Menurutnya, kemampuan menyampaikan pesan keagamaan melalui platform digital menjadi kebutuhan penting agar nilai-nilai Islam yang moderat dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

"Di era teknologi yang semakin pesat ini, tidak ada alasan bagi santri untuk hanya diam. Santri harus tampil di masyarakat dan berani berdakwah di media sosial," pungkasnya.

Melalui perjalanan Majelis Taklim Al-Fadhilah hingga berdirinya Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah, KH Iman Fadhilah menunjukkan bahwa dakwah dapat tumbuh dari gerakan sederhana yang dikelola secara konsisten. Tidak hanya membangun lembaga pendidikan agama, ia juga berupaya menyiapkan generasi santri yang berilmu, toleran, memiliki semangat kebangsaan, dan mampu menjawab tantangan zaman.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Kanal terkait

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 15 dari 19
← 14 15 16 →