KABARSAHABAT.ID – Pengorbanan para pejuang kemerdekaan tidak selalu berakhir dengan penghormatan yang dapat diberikan seketika. Di Karangingas, kawasan Genuk, pada Juli 1946, enam anggota Laskar Hizbullah gugur setelah terjebak serangan pasukan Belanda. Salah satunya adalah H Soekaimi, komandan Hizbullah dari Mranggen, Kabupaten Demak.
Tragedi tersebut menyisakan kisah memilukan. Setelah gugur dalam pertempuran, jenazah keenam pejuang tidak langsung dapat dievakuasi karena ketatnya penjagaan musuh. Keluarga dan rekan seperjuangan baru bisa mengambil jenazah mereka setelah tiga hari.
Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Semarang, M Kholidul Adib, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting perjuangan Laskar Hizbullah di wilayah Semarang dan sekitarnya pada masa revolusi fisik.
Menurutnya, kisah H Soekaimi memperlihatkan sisi berat perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang tidak selalu terungkap dalam narasi sejarah nasional. Di balik keberhasilan bangsa mempertahankan kemerdekaan, terdapat para pejuang lokal yang menghadapi ancaman kematian, penyergapan, hingga kesulitan mengevakuasi rekan seperjuangan yang gugur.
“Perjuangan kemerdekaan tidak hanya menyisakan kisah kemenangan, tetapi juga tragedi dan pengorbanan yang harus ditanggung para pejuang di daerah. Gugurnya H Soekaimi bersama lima anggota Hizbullah lainnya merupakan bagian dari sejarah yang perlu terus diungkap agar masyarakat memahami beratnya perjuangan pada masa itu,” ujar Kholidul dalam keterangannya mengenai sejarah perjuangan santri di wilayah Mranggen.
Operasi Pengamatan Berujung Maut
Mengacu pada buku Hizbullah Surakarta 1945–1950 karya Soepanto, Kholidul menjelaskan bahwa H Soekaimi bersama lima anggota Laskar Hizbullah lainnya menjalankan tugas pengamatan di wilayah Tlogotimun, Genuk.
Operasi tersebut direncanakan berlangsung pada pagi hari setelah salat Subuh, 30 Juli 1946. Keenam pejuang berbekal senjata karabin untuk menjalankan tugas yang diberikan kepada mereka.
Namun, situasi di lapangan tidak berjalan sesuai rencana. Pergerakan para pejuang diduga telah diketahui pihak lawan melalui jaringan mata-mata. Ketika berada di Dukuh Karangingas, Desa Sambirejo, kawasan yang kini masuk wilayah Genuk, mereka menghadapi serangan dari beberapa arah.
Hujan peluru membuat keenam anggota Hizbullah tersebut terjebak dalam situasi yang mematikan. Mereka tidak berhasil menyelamatkan diri dan akhirnya gugur di lokasi kejadian.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap para pejuang tidak hanya datang dari pertempuran terbuka. Kebocoran informasi dan penyergapan juga menjadi risiko serius bagi pasukan yang bergerak di wilayah pertahanan.
“Dalam perjuangan bersenjata, informasi mengenai pergerakan pasukan sangat menentukan keselamatan para pejuang. Peristiwa Karangingas menjadi gambaran betapa berbahayanya tugas yang dijalankan para anggota Hizbullah ketika menghadapi musuh yang memiliki jaringan pengintaian,” jelas Kholidul.
Ia menilai, penelusuran terhadap peristiwa semacam ini penting untuk melengkapi pemahaman masyarakat mengenai perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama di kawasan Semarang bagian timur dan Kabupaten Demak.
Enam Nama di Balik Tragedi Karangingas
H Soekaimi bukan satu-satunya anggota Hizbullah yang gugur dalam peristiwa tersebut. Lima rekannya juga kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas bersama sang komandan.
Berdasarkan catatan Soepanto, keenam pejuang itu adalah Soekaimi, komandan Hizbullah Cie I Batalyon II Mranggen; Mustajab dari pasukan Gaco yang berasal dari Palur, Karanganyar; Rebo, mantan anggota Kaigun asal Mranggen; Tamsiri dari Solo; serta Mahmudi dan Musran.
Latar belakang mereka menunjukkan bahwa perjuangan di kawasan Semarang dan sekitarnya melibatkan jaringan pejuang dari berbagai daerah. Mereka dipersatukan oleh tujuan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya kembalinya kekuasaan kolonial.
Bagi Kholidul, penyebutan nama-nama tersebut merupakan bagian penting dari penulisan sejarah. Para pejuang lokal perlu dikenali sebagai individu yang memiliki peran dan pengorbanan nyata, bukan sekadar menjadi angka dalam catatan korban perang.
“Nama-nama pejuang lokal harus terus diingat. Mereka bukan sekadar bagian dari daftar korban pertempuran, melainkan manusia yang mengambil keputusan untuk mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan,” ungkapnya.
Mranggen Menjadi Bagian Penting Garis Pertahanan
Tragedi Karangingas tidak dapat dilepaskan dari posisi strategis Mranggen dalam peta perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Semarang dan sekitarnya.
Pada masa revolusi fisik 1945–1949, Markas Medan Tenggara (MMTG) menjadi salah satu pusat koordinasi pertahanan pejuang Indonesia. Wilayah operasinya mencakup sejumlah kawasan di tenggara Semarang, termasuk Pedurungan, Penggaron, Bangetayu, Mranggen, hingga jalur penghubung menuju Gubug dan Purwodadi.
Di wilayah tersebut, Laskar Hizbullah menjadi salah satu unsur kekuatan yang turut menghadapi pasukan Sekutu dan Belanda.
Kholidul menerangkan, kekuatan Hizbullah di wilayah Demak dan Semarang berkembang melalui peran para ulama. Di Mranggen, para santri dan pemuda dikonsolidasikan dalam Batalyon Bintoro yang berafiliasi dengan Barisan Hizbullah Divisi Semarang.
Dua tokoh yang berperan dalam pengorganisasian kekuatan tersebut adalah KH Muslih Abdurrahman, pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen sekaligus mursyid tarekat, dan KH Abdullah Dainuri dari Sendangguwo.
Para santri memperoleh pembinaan spiritual serta bekal dasar kemiliteran untuk menghadapi situasi perang. Dalam struktur perjuangan itulah H Soekaimi dipercaya memimpin pasukan di sektor timur.
“Peran pesantren dan para kiai dalam perjuangan kemerdekaan tidak terbatas pada penguatan spiritual. Mereka juga ikut mengonsolidasikan kekuatan rakyat dan santri untuk mempertahankan wilayah dari ancaman penjajah,” kata Kholidul.
Menurutnya, sejarah Laskar Hizbullah memperlihatkan hubungan erat antara perjuangan kebangsaan dan keterlibatan kalangan pesantren. Para santri tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan pendidikan keagamaan, tetapi juga terjun langsung ketika kemerdekaan menghadapi ancaman.
Makam H Soekaimi Menjadi Saksi Sejarah
Tiga hari setelah peristiwa Karangingas, jenazah H Soekaimi dan lima rekannya akhirnya berhasil dievakuasi. Mereka dimakamkan pada 3 Agustus 1946 di kompleks Masjid Baiturrahman, Kauman, Mranggen, Kabupaten Demak.
Seiring waktu, lima jenazah rekan H Soekaimi dipindahkan ke makam pahlawan di Semarang dan Solo. Sementara itu, makam H Soekaimi tetap berada di belakang Masjid Kauman Mranggen sesuai dengan keinginan keluarganya.
Keberadaan makam tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah perjuangan kemerdekaan juga tersimpan di lingkungan masyarakat, masjid, dan kawasan yang sehari-hari menjadi bagian dari kehidupan warga.
Kholidul menilai, makam pejuang lokal memiliki nilai historis yang perlu dirawat melalui penelitian, dokumentasi, dan pengenalan kepada generasi muda.
“Sejarah tidak cukup hanya dibaca dari buku. Jejak perjuangan juga dapat ditelusuri melalui makam, arsip, kesaksian keluarga, dan tradisi masyarakat yang masih menyimpan ingatan tentang para pejuang,” ujarnya.
Ia berharap kisah H Soekaimi dan lima rekannya dapat mendorong semakin banyak pihak untuk menggali sejarah perjuangan di Mranggen dan Semarang bagian timur. Dengan demikian, tokoh-tokoh lokal yang selama ini kurang dikenal dapat memperoleh tempat yang layak dalam ingatan sejarah bangsa.
“Merawat ingatan tentang para pejuang merupakan salah satu cara menghargai kemerdekaan. Generasi sekarang perlu mengetahui bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari perjuangan panjang, termasuk pengorbanan para santri yang gugur di medan pertempuran,” pungkas Kholidul.
Sumber referensi: Soepanto, Hizbullah Surakarta 1945–1950 (1992); Zainul Milal Bizawie, Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945–1949) (2014); KH Muhammad Hanif Muslih dkk., Kiai Muslih Mranggen: Sang Penggerak dan Panutan Sejati (2020).