Pendidikan & Budaya

Dari Korban Penyiksaan Belanda hingga Perintis Unissula, Jejak Perjuangan HM Sulchan di Semarang

Penulis: Mushonifin
Bagikan
HM Sulchan
HM Sulchan

KABARSAHABAT.ID – Sebelum dikenal sebagai pengusaha dan tokoh yang ikut merintis Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), HM Sulchan pernah menghadapi kerasnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia bergabung dengan laskar Sabilillah, bergerilya di kawasan perbatasan Semarang-Demak, hingga ditangkap dan mengalami penyiksaan tentara Belanda.

Perjalanan hidup HM Sulchan memperlihatkan bagaimana perjuangan seorang anak bangsa tidak berakhir ketika peperangan mereda. Setelah melewati masa revolusi fisik, tokoh kelahiran Wedung, Kabupaten Demak, pada 1910 itu mengalihkan pengabdiannya ke bidang ekonomi, pendidikan, dan pembangunan sosial keagamaan.

Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Semarang, M Kholidul Adib, mengungkapkan bahwa kisah HM Sulchan merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat di wilayah Semarang dan Demak. Jejaknya menunjukkan hubungan erat antara perjuangan bersenjata, peran jaringan ulama, dan upaya membangun masyarakat setelah kemerdekaan.

Bertahan Hidup di Tengah Penindasan Kolonial

Menurut Kholidul Adib, memahami perjuangan HM Sulchan tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidupnya yang ditempa kemiskinan sejak kecil.

Lahir dengan nama Kasan, HM Sulchan merupakan anak kedua pasangan Manggung dan Kasminah. Ketika berusia sekitar delapan tahun, ia kehilangan ayahnya. Kondisi tersebut membuat kehidupannya semakin sulit dan memaksanya bekerja sejak usia dini.

Ia pernah menjadi buruh yang membantu menyiapkan ikan untuk dijual ke pasar. Setelah itu, ia berjualan kacang di pinggir jalan, menjajakan anyaman bambu di Pasar Buyaran, serta menjual air tawar keliling menggunakan perahu kecil di kawasan Moro Demak.

Pendidikan formalnya hanya sampai kelas IV Sekolah Ongko Loro karena keterbatasan biaya. Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya berhenti belajar melalui pengalaman kerja.

Kesempatan datang ketika ia bekerja di pabrik penggilingan padi milik Haji Mukrad bersama pengusaha Jepang, Takaeji Domon. Berawal sebagai pesuruh, ia kemudian dipercaya menjadi sopir, tukang timbang, pemegang kas, hingga memimpin pabrik saat usianya sekitar 20 tahun.

Pengalaman tersebut membentuk keterampilan manajerial sekaligus pengetahuan teknis yang kelak menjadi modal penting ketika ia membangun usaha sendiri.

Namun, perjalanan hidupnya tidak hanya berkutat pada perjuangan ekonomi. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, HM Sulchan turut mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda kembali berkuasa.

Laskar Sabilillah dan Perlawanan di Jalur Semarang-Demak

Keterlibatan HM Sulchan dalam laskar Sabilillah menempatkannya di tengah pergolakan revolusi fisik. Laskar yang melibatkan kalangan ulama, santri, dan tokoh Islam tersebut menjadi bagian dari kekuatan masyarakat yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Sebagai putra daerah Wedung, Demak, HM Sulchan terlibat dalam perlawanan di kawasan yang menghubungkan Semarang dengan Demak. Jalur ini memiliki arti strategis karena menjadi salah satu akses pergerakan pasukan dari Semarang menuju wilayah timur Jawa Tengah.

Kholidul Adib menyoroti bahwa sejarah perjuangan di kawasan tersebut perlu mendapat perhatian lebih luas. Selama ini, ingatan publik mengenai pertempuran di Semarang lebih sering terpusat pada Pertempuran Lima Hari pada Oktober 1945. Padahal, pergolakan bersenjata berlanjut ketika pasukan Sekutu dan Belanda berupaya memperkuat kembali kekuasaannya.

Salah satu kawasan yang menyimpan jejak perlawanan itu adalah Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Dalam catatan sejarah yang dihimpun Kholidul Adib, wilayah tersebut pernah menjadi titik pertahanan ketika para pejuang berusaha menghambat pergerakan pasukan Belanda.

Situasi perang yang semakin sulit membuat para pejuang mengambil keputusan berat, termasuk membakar rumah-rumah di kawasan permukiman agar tidak dimanfaatkan pihak lawan. Sebagian perempuan dan anak-anak kemudian diungsikan ke wilayah Buyaran, Kecamatan Karangtengah.

Pertempuran itu menelan korban jiwa. Kiai Turmudi disebut sebagai salah satu tokoh yang gugur bersama pejuang lainnya di kawasan perbatasan Semarang-Demak.

Peristiwa tersebut menggambarkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya menjadi tanggung jawab laskar bersenjata. Masyarakat sipil juga harus menghadapi kehancuran tempat tinggal, pengungsian, dan ancaman keselamatan.

Kepala Berdarah, Telinga Berdenging hingga Usia Tua

Babak paling tragis dalam perjuangan HM Sulchan terjadi ketika Belanda berhasil menguasai sejumlah wilayah, termasuk Demak, Kudus, dan Jepara.

Bersama pasukannya, HM Sulchan bersembunyi di sebuah hutan di kawasan pesisir Wedung. Namun, persembunyian tersebut akhirnya diketahui dan ia ditangkap bersama sejumlah anggota pasukannya sebelum dibawa ke Jepara.

Dalam autobiografinya, Kejutan Seorang Kacung yang diterbitkan pada 1979, HM Sulchan mengisahkan penyiksaan yang dialaminya selama penahanan.

Ia dipukuli berulang kali menggunakan tongkat baja lentur yang diarahkan ke kepalanya. Pukulan itu membuat kepalanya pening, pandangannya kabur, dan tubuhnya terasa kehilangan keseimbangan. Darah mengalir hingga membasahi leher dan pakaiannya.

Pengalaman tersebut meninggalkan dampak berkepanjangan. Dalam autobiografinya, ia menyebut masih merasakan denging pada telinga kiri ketika berusia lanjut, yang dikaitkannya dengan kerusakan saraf di bagian kepala akibat penyiksaan.

Kesaksian itu menjadi gambaran nyata mengenai harga yang harus dibayar para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Di balik keberhasilan bangsa melepaskan diri dari penjajahan, terdapat pengalaman pahit berupa penangkapan, penyiksaan, dan penderitaan fisik yang tidak selalu tercatat secara luas.

Untuk mengenang perlawanan di kawasan tersebut, pemerintah membangun monumen pahlawan di Sriwulan pada 1974. Patung seorang pejuang yang membawa senjata itu menghadap ke arah Semarang, melambangkan perlawanan terhadap pasukan yang bergerak menuju Demak.

Setelah Perang, Perjuangan Beralih ke Dunia Usaha

Pengalaman menghadapi kolonialisme tidak membuat HM Sulchan berhenti berjuang setelah Indonesia merdeka. Ia justru membangun kekuatan ekonomi melalui usaha mandiri.

Salah satu langkah awalnya adalah mengembangkan bisnis kacang tanah. Dengan modal 600 gulden, ia membeli mesin pengupas kacang untuk mengatasi keterbatasan produksi yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia.

Pada 1952, ia mendirikan CV Kapok untuk mengembangkan perdagangan kapuk. Usaha tersebut kemudian diikuti berbagai perusahaan lain, termasuk PT Cejamp dan NV HMS & Co. Ia juga mengembangkan usaha perhotelan melalui Hotel Sky Garden di kawasan Gombel, Semarang.

Kholidul Adib menempatkan perjalanan tersebut sebagai bagian dari rangkaian pengabdian HM Sulchan setelah masa perjuangan bersenjata. Kemampuan membangun usaha menjadi salah satu jalannya untuk berkontribusi terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.

Namun, kiprahnya tidak berhenti pada aktivitas bisnis. Ia turut memikirkan persoalan pendidikan yang sejak kecil pernah menjadi kendala dalam kehidupannya.

Pengalaman hanya mampu mengenyam pendidikan formal hingga kelas IV membuat persoalan akses pendidikan memiliki arti tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Pada masa berikutnya, ia ikut mendorong pengembangan lembaga pendidikan yang dapat menjadi sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Unissula Menjadi Bagian dari Warisan Perjuangan

Bersama para ulama dan tokoh masyarakat, HM Sulchan ikut menginisiasi pendirian Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA). Yayasan tersebut kemudian melahirkan Universitas Islam Sultan Agung pada 1962.

Lembaga pendidikan tinggi Islam itu menjadi salah satu warisan penting dari kiprahnya di Semarang. Perjuangan yang sebelumnya dijalani melalui laskar dan medan gerilya berlanjut dalam bentuk pengembangan pendidikan bagi generasi berikutnya.

Pada dekade 1970-an, YBWSA juga mengembangkan layanan kesehatan melalui Rumah Sakit Islam Sultan Agung di kawasan Genuk, yang saat itu masih menjadi bagian dari Kabupaten Demak.

HM Sulchan turut berperan dalam proses pembangunan Masjid Raya Baiturrahman di kawasan Simpang Lima Semarang. Berdasarkan catatan dalam autobiografinya, pembangunan masjid tersebut berkaitan dengan proses pertukaran lahan yang memungkinkan masjid berdiri di sisi barat Lapangan Pancasila. Masjid itu diresmikan pada 1972.

Rangkaian kiprahnya memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dijalankan melalui berbagai bidang. Setelah ikut menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial, HM Sulchan terlibat dalam pengembangan usaha, pendidikan, kesehatan, dan fasilitas keagamaan.

HM Sulchan wafat pada 1979 dalam usia sekitar 69 tahun. Meski telah tiada, jejak perjuangannya tetap dapat ditelusuri melalui catatan autobiografi dan lembaga-lembaga yang ikut dirintisnya.

Bagi Kholidul Adib, pengungkapan sejarah tokoh seperti HM Sulchan menjadi penting untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai perjuangan kemerdekaan di Jawa Tengah. Sejarah tidak hanya berbicara tentang pertempuran besar dan tokoh yang dikenal secara nasional, tetapi juga tentang perjuangan di daerah yang menyimpan pengorbanan panjang.

Kisah HM Sulchan memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan membangun bangsa merupakan dua bagian yang saling berkaitan. Ketika senjata tidak lagi menjadi alat utama perjuangan, pendidikan, kemandirian ekonomi, dan penguatan kehidupan sosial menjadi jalan untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 6 dari 19
← 5 6 7 →