SEMARANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang memasuki babak baru kepemimpinan setelah Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., resmi dilantik sebagai Rektor UIN Walisongo untuk periode 2026–2030.
Prof. Musahadi dilantik di Jakarta pada Selasa (10/3/2026) oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.
Kehadiran Musahadi sebagai rektor baru menarik perhatian bukan hanya karena rekam jejaknya di bidang akademik, tetapi juga karena pengalaman panjangnya dalam organisasi keagamaan dan kemahasiswaan, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Dari Akademisi hingga Pimpinan Kampus
Sebelum dipercaya memimpin UIN Walisongo, Prof. Musahadi merupakan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo.
Ia dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Islam yang banyak mengembangkan pemikiran mengenai hukum Islam yang kontekstual dengan perkembangan masyarakat.
Salah satu gagasannya yang dikenal adalah konsep “Fikih Prasmanan”, yang disampaikan dalam pidato pengukuhan guru besar. Gagasan tersebut antara lain melihat bagaimana perkembangan teknologi dan ruang digital ikut memengaruhi cara masyarakat memperoleh, memilih, dan memahami pengetahuan keagamaan.
Pemikiran tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai perhatian Musahadi terhadap hubungan antara perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, dan kehidupan keagamaan masyarakat.
Selain aktivitas akademik, Musahadi juga tercatat aktif dalam berbagai forum dan kegiatan yang berkaitan dengan hukum Islam, resolusi konflik, serta mediasi.
Ia juga menulis buku Mediasi dan Resolusi Konflik di Indonesia, yang membahas persoalan konflik dan upaya membangun penyelesaian yang dapat menjembatani nilai-nilai keagamaan dengan realitas sosial.
Jejak Organisasi dan PMII
Di luar kampus, perjalanan Prof. Musahadi juga tidak dapat dilepaskan dari aktivitas organisasi kemasyarakatan.
Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah periode 2024–2029.
Yang juga menarik untuk disoroti adalah kiprahnya di lingkungan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Musahadi dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Jawa Tengah periode 2022–2027.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Musahadi tidak hanya dibangun melalui jalur akademik, tetapi juga melalui pengalaman organisasi dan jejaring kaderisasi.
Bagi keluarga besar PMII, posisi Musahadi sebagai Rektor UIN Walisongo tentu menjadi bagian menarik dari perjalanan kader dan alumni PMII yang kemudian mengisi ruang-ruang strategis di dunia pendidikan tinggi.
Pengalaman organisasi tersebut juga menjadi modal sosial dalam membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai kelompok masyarakat.
Tantangan Memimpin UIN Walisongo
Sebagai rektor untuk periode 2026–2030, Musahadi menghadapi tantangan untuk membawa UIN Walisongo terus berkembang di tengah perubahan dunia pendidikan tinggi.
Visi Smart and Green Campus menjadi salah satu agenda yang diharapkan dapat terus diperkuat.
Selain pengembangan kampus, tantangan lainnya adalah meningkatkan kualitas riset dan publikasi ilmiah, memperluas jejaring internasional, serta memastikan pengembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai keislaman.
Dengan latar belakang akademik, pengalaman organisasi, serta jejaring yang dimilikinya, kepemimpinan Musahadi akan menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan UIN Walisongo Semarang selama empat tahun ke depan.
Menarik untuk melihat bagaimana pengalaman Musahadi sebagai akademisi sekaligus aktivis organisasi akan diterjemahkan ke dalam kebijakan dan arah baru UIN Walisongo.
Bagi keluarga besar PMII, satu pertanyaan menarik juga patut ditunggu: sejauh mana pengalaman kaderisasi dan perjalanan organisasi tersebut akan memberi warna dalam kepemimpinan Prof. Musahadi di UIN Walisongo?