Ekonomi

Kisah Slamet Bertahan dengan Usaha Sol Sepatu, Bantuan Baznas Jateng Jadi Tambahan Modal

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Kisah Slamet Bertahan dengan Usaha Sol Sepatu, Bantuan Baznas Jateng Jadi Tambahan Modal
Kisah Slamet Bertahan dengan Usaha Sol Sepatu, Bantuan Baznas Jateng Jadi Tambahan Modal

KABARSAHABAT.ID – Keterbatasan fisik tidak menghentikan Slamet Rahardjo untuk mempertahankan usaha sol sepatu yang telah digelutinya selama sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kecelakaan dan harus menggunakan kursi roda, warga Kabupaten Batang itu tetap berupaya menjalankan usahanya demi memenuhi kebutuhan hidup.

Kini, bantuan modal dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah menjadi peluang bagi Slamet untuk memperkuat usahanya. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli perlengkapan kerja yang dibutuhkan, mulai dari benang, lem, hingga cutter dan peralatan sol sepatu lainnya.

“Alhamdulillah, dengan adanya bantuan dari Baznas, saya bisa lebih mengembangkan usaha dengan membeli peralatan sol sepatu yang baru,” kata Slamet.

Slamet merupakan salah satu dari 1.750 mustahik binaan Baznas Jateng yang menerima bantuan modal usaha produktif senilai total Rp5,25 miliar. Setiap penerima mendapatkan dana Rp3 juta untuk menunjang kegiatan usaha dan meningkatkan produktivitas.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, di Hotel Wujil, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat (9/10/2026).

Bagi para pelaku usaha kecil, tambahan modal tersebut diharapkan bukan sekadar membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan kerja, tetapi juga membuka kesempatan untuk meningkatkan pendapatan dan mempertahankan keberlangsungan usaha.

Harapan serupa disampaikan Emyatun, pedagang nasi Padang Ampera asal Kota Semarang. Bersama suaminya, ia mengelola usaha kuliner yang mulai menunjukkan peningkatan penjualan dalam beberapa bulan terakhir.

Perkembangan itu salah satunya didukung oleh pemanfaatan layanan pesan-antar makanan, seperti ShopeeFood, GoFood, dan GrabFood. Melalui platform tersebut, jangkauan pemasaran usahanya semakin luas.

Emyatun berencana menggunakan bantuan Baznas untuk menambah modal sekaligus memperbarui peralatan dagang, termasuk kompor dan perlengkapan penyajian makanan. Ia berharap pengembangan tersebut dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

“Semoga tidak hanya menjadi mustahik, tetapi akhirnya bisa menjadi muzaki dan membantu yang lainnya,” ujar Emyatun.

Kisah Slamet dan Emyatun menjadi gambaran bagaimana dukungan permodalan dapat membantu pelaku usaha kecil mempertahankan sekaligus mengembangkan sumber penghasilan mereka. Namun, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, mengingatkan bahwa bantuan modal perlu diikuti pendampingan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Menurut sosok yang akrab disapa Gus Yasin itu, penerima bantuan membutuhkan pengawasan dan arahan agar dana yang diberikan benar-benar digunakan untuk mengembangkan usaha. Ia pun mengapresiasi Baznas Jateng yang tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi turut memantau perkembangan usaha penerima manfaat.

“Ini menjadi role model buat kita seharusnya. Jadi kalau memang ada yang dibantu itu harus ada yang mendampingi, menjadi pengawas, supaya bisa berkembang,” kata Taj Yasin.

Ia berharap pola tersebut dapat diterapkan dalam program bantuan pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dinilai dari jumlah bantuan yang dibagikan, tetapi juga dari perubahan kondisi ekonomi penerimanya.

Ketua Baznas Jateng, Ahmad Darodji, menjelaskan bahwa program bantuan modal usaha produktif pada 2026 menargetkan 3.500 mustahik dengan total anggaran Rp10,5 miliar. Setiap penerima memperoleh bantuan sebesar Rp3 juta dan penyalurannya dilakukan secara bertahap.

Untuk memastikan bantuan dimanfaatkan secara produktif, Baznas melibatkan penyuluh agama di setiap kecamatan sebagai pendamping. Mereka diminta menyampaikan laporan perkembangan usaha setiap empat bulan.

Hasil pemantauan menunjukkan adanya penerima bantuan yang mampu memperbesar kapasitas usahanya. Darodji mencontohkan, seorang pelaku usaha yang semula memiliki dua bangku untuk melayani pelanggan kini mampu menambahnya menjadi empat bangku.

Ada pula penerima yang berhasil meningkatkan jumlah pekerja dari tiga menjadi lima orang. Bahkan, dalam kunjungan langsung ke lapangan, Baznas menemukan pelaku usaha yang memperoleh keuntungan hingga Rp300 ribu per hari.

Darodji menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi perlu dilakukan melalui kombinasi peningkatan keterampilan dan pemberian modal. Menurutnya, bantuan produktif memberi kesempatan kepada masyarakat untuk membangun penghasilan secara mandiri.

“Kalau kita ingin membuat orang mandiri dan bebas dari kemiskinan, bagi kami ada dua cara, yaitu dilatih punya keterampilan dan diberi modal. Kalau bantuan konsumtif, mungkin beberapa hari sudah habis. Tetapi, kalau produktif, kita beri kail agar mereka berkembang,” jelasnya.

Taj Yasin juga menilai keberhasilan pemberdayaan zakat terlihat ketika penerima bantuan mampu meningkatkan taraf hidup hingga beralih status dari mustahik menjadi muzaki. Perubahan tersebut diharapkan menjadi tujuan jangka panjang program bantuan modal produktif Baznas Jateng.

Dengan dukungan modal, pendampingan, dan evaluasi berkala, para pelaku usaha kecil diharapkan dapat memperkuat usahanya, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta memiliki kemampuan untuk membantu masyarakat lain yang membutuhkan.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Kanal terkait

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 1 dari 19
1 2 →