Sebelum Hari Santri, Menelusuri Jejak Darah Laskar Hizbullah di Bugen dan Karangias Semarang

Penulis: Redaksi
Bagikan
Ilustrasi
Ilustrasi

KABARSAHABAT.ID – Tidak semua kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dikenal luas masyarakat. Di Semarang, ketika perhatian publik tertuju pada Pertempuran Lima Hari pada 15–19 Oktober 1945, terdapat cerita lain tentang keberanian para santri yang tergabung dalam laskar Hizbullah. Mereka datang dari berbagai daerah untuk melawan Belanda, tetapi sebagian harus menghadapi akhir tragis di Bugen dan Karangias, Genuk.

Sejarawan sekaligus Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Semarang, Dr M Kholidul Adib, mengajak masyarakat menengok kembali kisah perjuangan tersebut. Menurut dia, sejarah perlawanan di Semarang tidak cukup hanya dipahami melalui pertempuran besar yang selama ini lebih dikenal. Pengorbanan para anggota laskar yang gugur dalam peristiwa-peristiwa lokal juga menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.

Salah satu peristiwa yang patut mendapat perhatian adalah penembakan terhadap 74 anggota laskar Hizbullah di Bugen. Para pejuang itu disebut mayoritas berasal dari wilayah Solo Raya dan datang ke Semarang untuk bergabung dalam perjuangan melawan Belanda.

Selain tragedi Bugen, sejarah perjuangan laskar Hizbullah juga mencatat penembakan terhadap lima pejuang dari Mranggen dan Solo di Karangias, Genuk. Kedua peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung melalui rangkaian perlawanan yang tidak semuanya tercatat dalam ingatan publik.

“Perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan perlu mendapat tempat dalam sejarah Kota Semarang. Di balik peristiwa besar seperti Pertempuran Lima Hari, ada kisah pengorbanan anggota laskar Hizbullah yang juga perlu dikenalkan kepada generasi sekarang,” demikian pesan sejarah yang disampaikan Kholidul Adib melalui penelusuran kisah perjuangan tersebut.

Kebocoran informasi yang mengancam nyawa pejuang

Peristiwa Karangias menyimpan kisah tentang operasi pengintaian yang diduga mengalami kebocoran informasi. Berdasarkan sejumlah sumber yang dirujuk dalam catatan Kholidul Adib, enam anggota laskar Hizbullah yang berkumpul di Mranggen mendapat misi mengintai kekuatan musuh di Semarang sebagai bagian dari persiapan perlawanan.

Pada masa itu, Mranggen menjadi tempat berkumpulnya pejuang dari berbagai daerah, termasuk Solo dan Yogyakarta. Mereka datang untuk memperkuat barisan perlawanan terhadap Belanda yang berusaha kembali menguasai Semarang setelah kemerdekaan diproklamasikan.

Namun, rencana pengintaian tersebut disebut bocor kepada pihak Belanda. Dalam kisah yang diwariskan, kebocoran itu diduga melibatkan seorang perempuan pribumi yang dituduh menjadi mata-mata Belanda.

Perempuan tersebut dikisahkan menjalin hubungan dengan salah seorang anggota laskar Hizbullah sehingga dapat memperoleh informasi dari lingkungan internal pasukan. Informasi mengenai rencana pengintaian dan pergerakan pejuang kemudian diduga diteruskan kepada pihak lawan.

Kebocoran informasi semacam itu menjadi ancaman serius bagi pasukan yang tengah menyusun strategi. Dalam situasi perang, informasi mengenai lokasi berkumpul, pergerakan, dan rencana penyerangan dapat menentukan keselamatan para pejuang.

Kisah tersebut dikaitkan dengan tragedi penembakan lima anggota laskar Hizbullah di Karangias, Genuk. Meski demikian, hubungan langsung antara kebocoran informasi dan penembakan tersebut masih perlu ditelusuri melalui sumber sejarah lain untuk memastikan kronologi secara lebih akurat.

Nama KH Muslih dalam kisah perjuangan Hizbullah

Catatan yang disampaikan Kholidul Adib juga menyebut sosok KH Muslih, yang dikenal dalam kisah tersebut sebagai komandan Hizbullah se-Karesidenan Semarang.

Setelah peristiwa Karangias, perempuan yang dituduh menjadi mata-mata Belanda itu dikisahkan berhasil ditangkap. Dalam cerita yang berkembang, ia disebut sempat menjalani eksekusi, tetapi tidak berhasil. Perempuan tersebut kemudian dibawa menghadap KH Muslih.

Setelah KH Muslih memanjatkan doa, eksekusi terhadap perempuan itu dikisahkan akhirnya terlaksana.

Kisah tersebut menjadi bagian dari narasi perjuangan yang diwariskan mengenai kehidupan laskar Hizbullah pada masa revolusi kemerdekaan. Namun, identitas perempuan, rincian proses penangkapan, serta kronologi eksekusi masih membutuhkan verifikasi melalui arsip, kesaksian pelaku atau keluarga, dan sumber sejarah pembanding.

Penelusuran tersebut penting agar cerita yang diwariskan secara turun-temurun dapat dibedakan dari fakta yang telah didukung bukti sejarah. Dengan demikian, penghormatan terhadap perjuangan para pejuang dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga ketepatan catatan sejarah.

Hari Santri dan tanggung jawab menjaga ingatan sejarah

Menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, kisah perjuangan laskar Hizbullah di Semarang menjadi pengingat bahwa kontribusi santri dalam mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung melalui perjuangan di medan perang yang besar dan terkenal.

Para santri yang tergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah turut mengambil bagian dalam perlawanan terhadap Belanda. Mereka bergerak bersama pejuang dari berbagai daerah, menghadapi risiko penyergapan, kebocoran informasi, penangkapan, hingga kematian.

Bagi Kholidul Adib, pengenalan sejarah perjuangan semacam ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai perjalanan kemerdekaan Indonesia, terutama di Semarang dan wilayah sekitarnya.

Tragedi Bugen dan Karangias bukan sekadar cerita tentang korban perang. Keduanya merupakan pintu masuk untuk memahami jaringan perjuangan, mobilisasi laskar antardaerah, serta besarnya risiko yang dihadapi para pejuang pada masa awal kemerdekaan.

Karena itu, menjelang peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang dan Hari Santri Nasional, penelusuran sejarah perlu diarahkan pula pada tempat-tempat yang menyimpan jejak perjuangan lokal. Pengumpulan arsip, dokumentasi makam, wawancara dengan keluarga pejuang, dan penelitian terhadap sumber-sumber sejarah dapat membantu mengungkap kisah yang selama ini belum banyak diketahui.

Dengan langkah tersebut, perjuangan para santri dan anggota laskar Hizbullah di Bugen, Karangias, dan Mranggen tidak hanya bertahan sebagai cerita lisan, tetapi juga dapat diwariskan melalui catatan sejarah yang lebih utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.


Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 14 dari 19
← 13 14 15 →