Pendidikan & Budaya

Tiga Tim MTsN Salatiga Borong Medali KREASI 2026, Inovasi Siswa Sentuh Isu Energi hingga Kesehatan

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Tiga Tim MTsN Salatiga Borong Medali KREASI 2026, Inovasi Siswa Sentuh Isu Energi hingga Kesehatan
Tiga Tim MTsN Salatiga Borong Medali KREASI 2026, Inovasi Siswa Sentuh Isu Energi hingga Kesehatan

KABARSAHABAT.ID – Persoalan energi, keamanan pangan, hingga kesehatan menjadi ladang inovasi bagi siswa MTsN Kota Salatiga. Melalui penelitian yang dikembangkan selama berbulan-bulan, tiga tim siswi madrasah tersebut berhasil membawa pulang satu medali emas dan dua medali perak dalam Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2026 di Yogyakarta, 17–19 Oktober 2026.

Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan sehari-hari dapat diolah menjadi gagasan berbasis teknologi dan sains. Ketiga tim mengusung karya berbeda, mulai dari sepeda statis penghasil listrik, kotak makanan ramah lingkungan dengan sensor pendeteksi kualitas pangan, hingga permen gummy berbahan buah kersen yang dikembangkan untuk mendukung pengendalian glikemik.

Inovasi PEDALECTRA yang dikembangkan Alya Afifa Naura dan Annisa Ilmi Azmi Azzahra menjadi karya yang mengantarkan MTsN Salatiga meraih medali emas pada subbidang Matematika, Fisika Terapan, dan Teknologi Rekayasa (MT).

PEDALECTRA dirancang untuk mengubah energi mekanis dari kayuhan pedal sepeda menjadi energi listrik. Sistemnya menggunakan generator AC yang digerakkan putaran pedal. Arus listrik kemudian melewati dioda dan pengontrol, disimpan dalam akumulator, lalu dikonversi menggunakan inverter agar dapat dimanfaatkan untuk mengoperasikan perangkat elektronik, termasuk sensor.

Namun, gagasan kedua siswi tersebut tidak semata-mata berorientasi pada pemanfaatan energi alternatif. Mereka juga berupaya menjawab persoalan rendahnya aktivitas fisik di kalangan remaja yang dapat meningkatkan risiko obesitas sejak dini.

Alya menjelaskan, penelitian awal dilakukan bersama guru pembimbing untuk melihat kondisi aktivitas fisik siswa di lingkungan sekolah. Hasil observasi menunjukkan sekitar 48,8 persen siswa berada dalam kategori aktivitas fisik sedang dan rendah.

Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar pengembangan PEDALECTRA sebagai perangkat yang menggabungkan aktivitas olahraga dengan produksi energi listrik.

“Dengan demikian, setiap kayuhan siswa bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menghasilkan listrik. Inovasi ini lahir dari dua persoalan sekaligus, yakni krisis energi yang menuntut sumber energi terbarukan dan rendahnya aktivitas fisik remaja yang berisiko memicu obesitas dini,” ujar Alya setelah menerima penghargaan, Senin (19/10/2026).

Teknologi Digabungkan dengan Edukasi Kesehatan

Keunggulan PEDALECTRA tidak berhenti pada kemampuan mengonversi gerakan menjadi energi listrik. Tim juga mengembangkan aplikasi Android bernama DALECHECK yang terhubung dengan rangkaian sensor untuk membantu pengguna memantau sejumlah indikator kesehatan.

Annisa Ilmi menerangkan, aplikasi tersebut dirancang untuk memantau detak jantung, tekanan darah, indeks massa tubuh atau body mass index (BMI), serta target kalori. DALECHECK juga dilengkapi materi edukasi mengenai aktivitas fisik dan gizi.

Integrasi perangkat fisik dan aplikasi digital itu diharapkan dapat membuat aktivitas olahraga lebih menarik bagi pelajar. Siswa tidak hanya diajak bergerak, tetapi juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi untuk memahami kondisi tubuh dan pentingnya menjaga kesehatan.

Keberhasilan meraih medali emas menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim. Annisa mengaku tidak menyangka penelitian yang mereka kerjakan dapat mengantarkan mereka menjadi peraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi tersebut.

“Alhamdulillah kami bisa meraih medali emas. Rasanya senang sekali, masih tidak percaya kami bisa sampai sejauh ini. Terima kasih kepada guru pembimbing Bu Lilis dan Pak Fajar, juga dukungan dari Kepala Madrasah Pak Faisal,” katanya.

Guru pembimbing riset, Lilis Erfianti, mengatakan PEDALECTRA merupakan hasil penelitian selama tujuh bulan. Sebelum mencapai babak final, tim harus melalui proses pengembangan dan pendampingan untuk mematangkan karya yang diajukan.

Menurut Lilis, KREASI merupakan kompetisi tahunan yang mempertemukan siswa tingkat SMP/MTs dari berbagai daerah di Indonesia. Persaingan berlangsung ketat karena setiap peserta dituntut menghadirkan gagasan yang memiliki dasar penelitian dan nilai kebaruan.

Dari sekitar 446 peserta atau tim yang terdaftar, sebanyak 235 tim berhasil lolos ke babak final. Para finalis berasal dari 40 kabupaten/kota di 14 provinsi.

“Ini ajang lomba inovasi tahunan untuk pelajar setingkat SMP/MTs seluruh Indonesia. Rata-rata sekolah sudah punya persiapan karena tahu persaingan setiap tahun sangat ketat,” jelas Lilis.

EG-SMARTBOX Manfaatkan Limbah Eceng Gondok

Selain PEDALECTRA, inovasi yang berangkat dari persoalan lingkungan dan keamanan pangan juga mengantarkan siswi MTsN Salatiga meraih medali perak.

Penghargaan tersebut diraih Alfinsya Zadanesia Sucahyo dan Destya Unzila Rakhimah melalui EG-SMARTBOX, sebuah kotak makanan berbahan biodegradable yang memanfaatkan limbah eceng gondok.

Produk tersebut dirancang sebagai alternatif kemasan makanan yang lebih ramah lingkungan. Tim juga menyematkan indikator sensor untuk membantu mendeteksi kondisi dan kualitas makanan.

Guru pembimbing, Fajar Ardiansah, menjelaskan pengembangan EG-SMARTBOX berangkat dari dua persoalan, yakni tingginya penggunaan plastik untuk kemasan makanan dan pentingnya menjaga keamanan pangan.

Sensor pada perangkat tersebut dirancang untuk membantu mengenali perubahan kondisi makanan, termasuk indikasi penurunan kualitas yang perlu diwaspadai.

“Inovasi ini menjawab persoalan banyaknya penggunaan bahan plastik untuk kemasan makanan. Lalu, sistem sensor itu berfungsi mendeteksi keamanan pangan, sekaligus membantu mengetahui apakah makanan sudah basi atau belum. Belakangan, banyak kasus keracunan akibat makanan di kalangan siswa sekolah,” ujar Fajar.

Melalui karya tersebut, para siswi berupaya menggabungkan pemanfaatan limbah sebagai bahan alternatif dengan penerapan teknologi untuk mendukung pengawasan kualitas pangan.

Buah Kersen Dikembangkan Menjadi Pangan Fungsional

Medali perak lainnya diraih Qaisara Mazaya Nashita dan Salsa Aulia Ananta melalui KERSGUM. Keduanya mengembangkan pangan fungsional berbentuk permen gummy berbahan buah kersen yang ditujukan untuk mendukung pengendalian glikemik pada penderita diabetes melitus.

Karya tersebut memperlihatkan upaya siswa dalam mengeksplorasi potensi bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk inovatif di bidang gizi dan kesehatan.

Meski demikian, pengembangan produk pangan dengan klaim manfaat kesehatan tetap memerlukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan keamanan, kandungan, dan efektivitasnya sebelum dapat direkomendasikan untuk penggunaan tertentu.

Keberhasilan ketiga tim tersebut menjadi bukti bahwa penelitian di tingkat madrasah dapat mencakup berbagai disiplin ilmu. Siswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga berlatih mengenali persoalan, menyusun gagasan, dan mengembangkan produk berdasarkan pendekatan ilmiah.

Madrasah Dorong Inovasi yang Berdampak

Kepala MTsN Kota Salatiga, Faisal Bahar, menyampaikan apresiasi atas pencapaian para siswi. Ia menilai keberhasilan meraih satu medali emas dan dua medali perak mencerminkan potensi peserta didik dalam mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta inovasi yang relevan dengan tantangan masyarakat.

Menurut Faisal, penghargaan dalam kompetisi merupakan salah satu bentuk pengakuan terhadap proses penelitian dan pengembangan karya. Namun, ia menekankan bahwa nilai sebuah inovasi tidak cukup diukur dari prestasi yang diperoleh.

“Keberhasilan meraih medali emas menandai pencapaian atas gagasan dan proses pengembangan karya yang dibawa dalam ajang kompetisi. Tapi, nilai penting sebuah inovasi tidak hanya terletak pada penghargaan yang diperoleh, tetapi juga pada manfaat dan peluang pengembangannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” paparnya.

Faisal menambahkan, perkembangan dunia pendidikan menuntut peserta didik memiliki kemampuan lebih dari sekadar memahami materi pembelajaran. Mereka juga perlu mampu mengolah pengetahuan menjadi solusi yang dapat menjawab persoalan nyata.

Kompetisi riset, lanjutnya, menjadi sarana bagi siswa untuk menguji gagasan, belajar bekerja sama, mengembangkan kemampuan analisis, sekaligus membangun keberanian menghadirkan sesuatu yang baru.

Karena itu, MTsN Salatiga berharap pencapaian dalam KREASI 2026 dapat menjadi pemantik lahirnya lebih banyak karya kreatif dari siswa maupun tenaga pendidik. Inovasi yang telah dikembangkan juga diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi terus disempurnakan agar memiliki peluang penerapan yang lebih luas.

Bagi madrasah tersebut, keberhasilan tiga tim di tingkat nasional bukan hanya tentang jumlah medali yang dibawa pulang. Capaian itu sekaligus menjadi dorongan untuk memperkuat budaya penelitian, membangun pembelajaran berbasis pemecahan masalah, dan memberikan ruang lebih besar bagi siswa untuk mengembangkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin dinamis, inovasi menjadi salah satu unsur penting untuk mendorong peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengolah gagasan menjadi solusi,” tandas Faisal.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 1 dari 19
1 2 →