Monday, 24 August 2026

Kelas Menengah Makin Tertekan, Bagaimana Nasib Indonesia Emas 2045?

Penulis: Super Admin 24 August 2026, 10:23 WIB
Foto Prof. Musahadi
Foto Prof. Musahadi

KABAR SAHABAT — Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus menunjukkan angka positif belum tentu sepenuhnya menggambarkan kondisi kesejahteraan masyarakat. Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional, masyarakat kelas menengah justru menghadapi berbagai tekanan yang semakin kompleks.

Berdasarkan data yang dikutip penulis dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2024 mencapai 5,03 persen secara year-on-year atau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 9,29 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) tumbuh sebesar 15,10 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang tetap berjalan. Namun, angka pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Persoalan ini salah satunya terlihat dari kondisi kelas menengah yang menghadapi tekanan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah masyarakat yang berada dalam kelompok kelas menengah mengalami perubahan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kelas menengah memiliki posisi penting dalam struktur perekonomian Indonesia.

Kelas Menengah di Tengah Dilema Ekonomi

Kelas menengah berada pada posisi yang cukup dilematis. Mereka tidak selalu masuk dalam kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utama berbagai bantuan sosial, tetapi pada saat yang sama harus menanggung berbagai kebutuhan hidup dan kewajiban ekonomi.

Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan hidup.

Biaya kebutuhan sehari-hari, harga bahan pokok, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, hingga kebutuhan lainnya terus menjadi pertimbangan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat kelas menengah dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan hariannya sekaligus mempersiapkan masa depan. Tidak jarang, kebutuhan jangka pendek akhirnya lebih diprioritaskan dibandingkan investasi atau tabungan.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa kelas menengah bukanlah kelompok masyarakat yang sepenuhnya aman dari tekanan ekonomi. Mereka tetap memiliki kerentanan untuk mengalami penurunan kondisi ekonomi apabila kehilangan pekerjaan, mengalami penurunan pendapatan, atau menghadapi beban pengeluaran yang semakin besar.

Ketika Pendapatan Tidak Sejalan dengan Kebutuhan

Salah satu persoalan yang dihadapi kelas menengah adalah kemampuan pendapatan dalam mengejar kebutuhan hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan pokok. Ada pula kebutuhan pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, transportasi, komunikasi, hingga kebutuhan sosial.

Ketika pendapatan terbatas sementara kebutuhan terus bertambah, masyarakat harus menentukan skala prioritas.

Pada titik inilah kelas menengah menghadapi dilema. Mereka harus memilih antara memenuhi kebutuhan saat ini, mempertahankan gaya hidup, membayar kewajiban, atau menyisihkan pendapatan untuk masa depan.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang, kemampuan masyarakat untuk menabung dan berinvestasi dapat semakin terbatas.

Tekanan ekonomi juga semakin terasa setelah pandemi Covid-19. Perubahan dunia kerja, persaingan mendapatkan pekerjaan, serta berbagai perubahan dalam aktivitas ekonomi membuat sebagian masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi baru.

Karena itu, persoalan kelas menengah tidak cukup dilihat hanya dari besarnya pendapatan. Stabilitas pekerjaan, biaya hidup, kemampuan menabung, akses terhadap layanan publik, serta kemampuan menghadapi kondisi darurat juga menjadi bagian penting dalam melihat ketahanan ekonomi masyarakat.

Bonus Demografi dan Tantangan Indonesia Emas 2045

Indonesia saat ini tengah mempersiapkan diri menuju visi Indonesia Emas 2045. Bonus demografi menjadi salah satu modal penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Namun, bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan apabila tidak diikuti dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kesempatan ekonomi yang memadai.

1. Minimnya Lapangan Pekerjaan

Lapangan pekerjaan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif perlu diimbangi dengan penciptaan lapangan pekerjaan yang cukup dan berkualitas. Tanpa hal tersebut, bonus demografi justru dapat menjadi tantangan baru.

Masyarakat usia produktif yang tidak memiliki pekerjaan atau memiliki pekerjaan dengan pendapatan yang tidak memadai akan lebih rentan mengalami tekanan ekonomi.

2. Pemanfaatan Bonus Demografi

Bonus demografi seharusnya menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas masyarakat usia kerja.

Generasi muda perlu memperoleh akses terhadap pendidikan, keterampilan, pekerjaan, dan ruang untuk mengembangkan potensi.

Jika peluang tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal, bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan ekonomi justru dapat menjadi persoalan sosial baru.

3. Pertumbuhan Upah dan Kenaikan Biaya Hidup

Persoalan lainnya adalah hubungan antara pendapatan dan biaya hidup.

Ketika harga kebutuhan meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, daya beli masyarakat akan semakin tertekan.

Bagi kelas menengah, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam menabung, berinvestasi, maupun memenuhi kebutuhan jangka panjang.

Kelas Menengah dan Masa Depan Indonesia

Kelas menengah memiliki posisi penting dalam perekonomian Indonesia. Mereka merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki peran dalam konsumsi, investasi, dunia usaha, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Karena itu, penurunan daya tahan ekonomi kelas menengah perlu menjadi perhatian.

Pembangunan ekonomi tidak cukup hanya diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan tersebut mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Indonesia Emas 2045 tidak seharusnya hanya menjadi slogan. Ia membutuhkan kebijakan yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas.

Kelas menengah tidak seharusnya dibiarkan berjalan sendiri menghadapi tekanan ekonomi. Mereka membutuhkan ekosistem ekonomi yang memberikan ruang untuk bekerja, berkembang, menabung, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Sebab, apabila kelompok yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian justru semakin rentan secara ekonomi, maka cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 juga menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Pertumbuhan ekonomi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi angka yang tercatat, tetapi tentang seberapa jauh pertumbuhan tersebut mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Penulis: Dzikri Hanif Salim
Editor: Tim Redaksi

Kategori Terkait:

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN UNTUKMU

TERKINI LAINNYA