Pendidikan & Budaya

Tolak Tawaran Jabatan dari Soekarno, Mbah Soekaini Pilih Kembali Mengajar Ngaji Usai Dipenjara Belanda

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Dua orang pria berziarah di makam Mbah Soekaini di kompleks pemakaman Ibrahim Fatah, Jalan Wolter Monginsidi, Kecamatan Genuk, Semarang.
Dua orang pria berziarah di makam Mbah Soekaini di kompleks pemakaman Ibrahim Fatah, Jalan Wolter Monginsidi, Kecamatan Genuk, Semarang.

KABARSAHABAT.ID – Perjalanan hidup Mbah Soekaini menyimpan kisah yang berbeda dari kebanyakan tokoh perlawanan pada masa kolonial. Setelah memimpin perlawanan rakyat dalam Geger Kaligawe pada 1935 dan dijatuhi hukuman 12 tahun penjara oleh pengadilan kolonial Belanda, ia justru memilih kembali menjalani kehidupan sederhana sebagai guru mengaji setelah Indonesia merdeka.

Ketua Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Semarang, M Kholidul Adib, mengungkapkan bahwa Soekaini merupakan salah satu tokoh lokal yang kisah perjuangannya layak mendapat perhatian lebih luas. Sosok yang berasal dari Tanggulangin, Banjardowo, Genuk, itu bukan hanya dikenal sebagai pemimpin perlawanan, tetapi juga kusir gerobak, guru ngaji, dan ahli silat.

Kisah Soekaini memperlihatkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak selalu dilakukan oleh tokoh dari kalangan elite. Rakyat biasa yang sehari-hari bergelut dengan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga dapat mengambil peran ketika berhadapan dengan kebijakan yang dianggap tidak adil.

Menurut M Kholidul Adib, salah satu peristiwa penting yang menempatkan nama Soekaini dalam sejarah lokal Semarang adalah Geger Kaligawe pada 1935. Peristiwa tersebut bermula dari persoalan pungutan terhadap gerobak pengangkut hasil bumi di pos polisi perbatasan Semarang-Demak.

Saat itu, para kusir dari Genuk, yang masih masuk wilayah Kabupaten Demak, harus melewati pos tersebut ketika membawa hasil bumi untuk dijual ke Pasar Johar. Pungutan yang diberlakukan aparat kolonial menimbulkan keberatan karena mereka merasa telah membayar retribusi di wilayah asalnya.

Persoalan ekonomi yang membelit para kusir itu kemudian berkembang menjadi perlawanan terbuka. Soekaini tampil sebagai pemimpin yang menggerakkan puluhan kusir gerobak untuk menghadapi aparat di pos Kaligawe.

Catatan surat kabar De Locomotief edisi 5 Februari 1935 menyebut Soekaini sebagai pemimpin kelompok kusir yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Bentrokan berlangsung sengit. Para kusir menggunakan arit untuk melawan aparat yang sebagian membawa senjata tajam, sementara seorang petugas Belanda dilaporkan membawa revolver. Peristiwa itu mengakibatkan tiga anggota kepolisian, yakni Roestam, Resodirdjo, dan Marban, tewas. Petugas pajak HJ de Boer mengalami luka berat, agen polisi HC Engelman terluka, dan seorang kusir gerobak juga meninggal dunia.

Bantuan polisi bersenjata api dari Semarang akhirnya memadamkan perlawanan. Ratusan orang ditangkap, sedangkan 43 kusir gerobak diproses melalui pengadilan kolonial.

Dari Pemimpin Perlawanan Menjadi Tahanan Kolonial

Konsekuensi paling berat ditanggung Soekaini. Sebagai orang yang dianggap menjadi penggerak utama, ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara oleh pengadilan tingkat pertama. Hukuman itu kemudian diperberat menjadi 12 tahun setelah proses banding di Raad van Justitie Semarang.

Lima kusir lainnya juga mengalami pemberatan hukuman dari lima menjadi delapan tahun penjara. Perkembangan putusan tersebut diberitakan De Locomotief edisi 28 April 1936.

Dalam catatan sejarah yang disampaikan M Kholidul Adib, Soekaini kemudian dibuang ke Papua. Ia dikisahkan berulang kali mengalami penyiksaan selama menjalani masa pembuangan. Setelah itu, perjalanan hidupnya berlanjut ke Kalimantan.

Di tempat pembuangan tersebut, Soekaini tidak meninggalkan kegiatan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya. Ia tetap mengajar mengaji dan membuka padepokan silat. Aktivitas itu dijalaninya hingga akhirnya kembali ke Jawa.

Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan Soekaini tidak hanya berkaitan dengan perlawanan fisik. Ia juga memiliki peran dalam pendidikan agama dan pembinaan masyarakat, baik sebelum maupun setelah melewati masa penahanan.

Kesempatan Menduduki Jabatan Tak Mengubah Pilihannya

Hal yang menarik dari perjalanan Soekaini justru terjadi setelah Indonesia merdeka. Menurut catatan yang disampaikan Adib, Soekaini pernah mendapat surat dari Presiden Soekarno yang menawarkan pilihan jabatan gubernur atau bupati.

Namun, ia disebut menolak tawaran tersebut dan memilih kembali ke kampung halaman untuk menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa.

Alih-alih memasuki pemerintahan, Soekaini menekuni kegiatan mengajar mengaji. Rumahnya di kawasan Gunung Kunir menjadi tempat masyarakat belajar agama. Banyak orang datang untuk menimba ilmu, sementara ia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka menolong orang yang sedang mengalami kesulitan.

Pilihan itu menjadi bagian penting dari kisah hidupnya. Setelah mengalami konflik dengan pemerintah kolonial, menjalani hukuman berat, dan melewati masa pembuangan, Soekaini tidak menjadikan pengalaman perjuangannya sebagai jalan untuk mengejar kedudukan.

Ia justru kembali pada aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni mengajar agama dan membimbing orang-orang di sekitarnya.

Bagi penulisan sejarah lokal, perjalanan semacam ini memberikan gambaran lebih utuh tentang seorang tokoh. Soekaini tidak hanya dikenang melalui peristiwa perlawanan yang dipimpinnya, tetapi juga melalui kehidupan setelah perjuangan tersebut berakhir.

Mbah Soekaini dan Ingatan Sejarah Semarang

Mbah Soekaini diperkirakan lahir sekitar 1905 dan wafat pada 1965, dalam usia kurang lebih 60 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Ibrahim Fatah, Jalan Wolter Monginsidi, Kecamatan Genuk, Semarang.

Ketua LTN PCNU Kota Semarang, M Kholidul Adib, melalui penelusuran sejarah tokoh-tokoh lokal mengangkat kembali kisah Soekaini sebagai bagian dari perjalanan masyarakat Semarang dalam menghadapi kolonialisme.

Geger Kaligawe 1935 memang meninggalkan catatan bentrokan dan hukuman berat bagi para pelakunya. Namun, kisah Soekaini juga menyimpan sisi lain yang tidak kalah penting: bagaimana seorang rakyat biasa menjalani kehidupannya setelah melewati masa perjuangan, tanpa meninggalkan pengabdian kepada masyarakat.

Sejarahnya mengingatkan bahwa jejak perjuangan tidak selalu berakhir dengan jabatan atau penghargaan. Ada pula tokoh yang setelah melewati berbagai peristiwa besar memilih kembali ke kampung halaman, mengajar generasi muda, dan menjalani kehidupan sederhana.

Melalui kisah Mbah Soekaini, sejarah Semarang tidak hanya berbicara tentang perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga tentang pengabdian, pendidikan agama, dan pilihan hidup seorang tokoh setelah Indonesia merdeka.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 3 dari 19
← 2 3 4 →