Religi

Malam di Pesarean Setono Gedong Kediri: Menemukan Jejak Sejarah dan Spiritualitas Makam Syekh Wasil

Penulis: Muhammad Novan Heromando (An English Learner)
Bagikan
Gapura makam Syekh Syamsuddin Al-Wasil, sosok yang dikenal luas oleh masyarakat sebagai Mbah Wasil.
Gapura makam Syekh Syamsuddin Al-Wasil, sosok yang dikenal luas oleh masyarakat sebagai Mbah Wasil.

Di tengah kesibukan belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, sebuah perjalanan malam membawa saya mengenal lebih dekat salah satu situs religi yang lekat dengan sejarah dan tradisi masyarakat Kediri.

Ada kebiasaan yang selalu berusaha saya jaga ketika mengunjungi suatu daerah: menyempatkan diri untuk berziarah ke makam para tokoh yang memiliki jejak dalam sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.

Bagi saya, perjalanan tidak selalu harus berakhir di tempat wisata yang menawarkan pemandangan indah. Terkadang, mengunjungi makam seorang tokoh justru membuka kesempatan untuk mengenal sebuah daerah dari sisi yang berbeda melalui sejarah, tradisi, dan ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kebiasaan itulah yang membawa saya pada sebuah keinginan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kediri untuk belajar bahasa Inggris.

Nama Syekh Syamsuddin Al-Wasil, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Mbah Wasil, sudah tidak asing bagi saya. Terlebih, nama Syekh Wasil juga digunakan sebagai nama Perguruan Tinggi Islam Negeri di Kediri, yakni UIN Syekh Wasil Kediri.

Rasa penasaran pun muncul. Siapakah sosok yang makamnya menjadi tujuan ziarah banyak orang tersebut? Bagaimana jejaknya melekat dalam kehidupan masyarakat Kediri?

Sebelum berkunjung, saya mencoba membaca sejumlah tulisan tentang beliau. Beberapa sumber menyebutkan bahwa makam Mbah Wasil berada di kawasan Setono Gedong, di pusat Kota Kediri. Namun, informasi mengenai masa hidup dan asal-usul beliau masih memiliki sejumlah versi.

Semakin banyak membaca, semakin besar pula keinginan saya untuk datang langsung ke tempat tersebut. Saya juga menyimpan harapan untuk suatu hari dapat mengunjungi makam para raja dan tokoh lain yang berkaitan dengan sejarah Kediri.

Dua Bulan Menunggu Kesempatan

Keinginan itu ternyata tidak langsung terwujud.

Aktivitas belajar di Basic English Course (BEC), Kampung Inggris Pare, cukup padat, terutama dari Senin hingga Jumat. Sementara itu, perjalanan menuju makam Mbah Wasil membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari tempat kursus saya.

Akhirnya, pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026, kesempatan itu datang.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, saya berangkat bersama teman satu kos sekaligus teman kursus, Ncing Kholis, yang berasal dari Betawi, Jakarta.

Ada sedikit cerita sebelum perjalanan dimulai. Kami berdua tidak memiliki sepeda motor. Pilihannya hanya dua: menyewa kendaraan atau meminjam motor teman.

Setelah menghubungi sekitar tiga orang teman, akhirnya kami mendapatkan pinjaman motor. Alhamdulillah, tidak perlu mengeluarkan biaya sewa. Kami cukup mengganti dengan tambahan bensin sebagai bentuk terima kasih kepada pemiliknya.

Perjalanan pun dimulai.

Sepanjang jalan, kami melewati kawasan Kota dan Kabupaten Kediri yang menyimpan banyak cerita sejarah. Malam itu, tujuan kami bukan sekadar berkeliling kota, melainkan mendatangi sebuah tempat yang sudah lama masuk dalam daftar kunjungan yang ingin saya wujudkan.

Perjalanan yang diperkirakan memakan waktu sekitar 40 menit itu sempat diwarnai sedikit kebingungan. Google Maps membawa kami ke titik yang kurang presisi sehingga kami sempat tersasar.

Untungnya, kami tidak terlalu panik. Pengalaman menghadapi petunjuk arah yang terkadang kurang akurat membuat kami tahu bahwa bertanya kepada warga setempat sering kali menjadi pilihan yang lebih tepat.

Benar saja, setelah bertanya, kami mengetahui bahwa lokasi yang kami cari ternyata sudah dekat. Titik parkir pada peta berada di bagian belakang area parkir yang sebenarnya.

Dari situ, perjalanan berlanjut memasuki gang yang tidak terlalu lebar hingga akhirnya kami menemukan kawasan makam.

Terkadang, perjalanan menuju suatu tempat mengajarkan hal sederhana: teknologi memang membantu, tetapi tidak selalu mampu menggantikan pengetahuan dan keramahan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Memasuki Pesarean Agung Kramat Setono Gedong

Gerbang Pesarean Agung Kramat Setono Gedong, salah satu penanda kawasan religi bersejarah di Kota Kediri.
Sesampainya di lokasi, seorang bapak penjaga mengarahkan kami untuk memarkirkan motor di area yang tersedia di antara warung-warung sekitar kompleks.

Pada awalnya, kami disambut oleh area pemakaman umum. Kami kemudian melanjutkan langkah menuju bagian dalam kompleks, tempat makam Mbah Wasil berada, berdekatan dengan area masjid dan pendopo.

Di hadapan kami berdiri sebuah gerbang dengan tulisan Pesarean Agung Kramat Setono Gedong Kotamadya Kediri.

Suasananya terasa cukup tenang dan asri. Setelah melewati perjalanan malam dan sedikit kebingungan mencari arah, akhirnya kami sampai di tempat yang sejak lama ingin saya kunjungi.

Sebelum memasuki area makam beliau, terdapat sebuah gapura kecil dengan tulisan Syekh Alwasil Syamsudin Pangeran Makkah.

Tulisan itu menjadi salah satu penanda yang membuat tujuan kami semakin terasa nyata. Sosok yang sebelumnya hanya saya kenal melalui bacaan dan nama sebuah perguruan tinggi kini menjadi bagian dari pengalaman perjalanan saya sendiri.

Setono Gedong bukan sekadar nama sebuah kawasan pemakaman. Kompleks ini juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Kota Kediri. Di dalamnya terdapat ruang-ruang yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan, bangunan masjid, pendopo, serta sejumlah makam yang memiliki sebutan dan kisah tersendiri.

Keberadaan berbagai unsur tersebut membuat kunjungan ke Setono Gedong tidak hanya berkaitan dengan ziarah, tetapi juga membuka ruang untuk mengenal warisan budaya dan tradisi lokal.

Berdoa di Makam Mbah Wasil

Suasana malam di kompleks Setono Gedong. Di tempat ini, tradisi ziarah dan penghormatan terhadap tokoh yang dikenang masyarakat masih menjadi bagian dari kehidupan spiritual.
Alhamdulillah, malam itu saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berziarah ke makam Syekh Syamsuddin Al-Wasil.

Saya melantunkan doa dan tahlil sebagai bagian dari ziarah, seraya memohon izin dengan ungkapan nuwun sewu kepada sohibul bait Kediri sebuah ungkapan Jawa yang saya gunakan sebagai bentuk penghormatan ketika memasuki tempat yang dianggap memiliki kedudukan penting dalam tradisi masyarakat setempat.

Saat itu, saya tidak sendirian. Ada sejumlah peziarah lain yang juga sedang berdoa dan mengikuti kegiatan keagamaan bersama suatu majelis. Saya tidak sempat memastikan nama majelis tersebut, sehingga saya memilih untuk tidak menyebutkannya secara spesifik.

Pemandangan itu memperlihatkan bahwa tempat ini bukan hanya dikenal melalui cerita sejarahnya. Bagi sebagian masyarakat, Setono Gedong juga menjadi ruang untuk menjalankan tradisi keagamaan, berdoa, dan mengenang sosok yang dihormati.

Bagi saya pribadi, kesempatan berziarah tersebut menghadirkan rasa syukur. Setelah kurang lebih dua bulan berada di Kediri, di tengah rutinitas belajar bahasa Inggris, akhirnya salah satu keinginan yang saya simpan sejak awal kedatangan dapat terlaksana.

Saya tidak datang dengan harapan menemukan jawaban atas seluruh misteri sejarah yang melekat pada sosok Mbah Wasil. Saya hanya ingin mengenal tempat ini lebih dekat, menghormati tradisi yang hidup di masyarakat, dan mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut.

Bukan Hanya Makam Mbah Wasil

Bukan hanya makam Mbah Wasil. Berbagai petunjuk menuju makam, masjid, pendopo, Sumur Tiban Banyu Panguripan, dan sejumlah lokasi lain memperlihatkan bahwa masih banyak sudut Setono Gedong yang menarik untuk ditelusuri.
Setelah selesai berziarah, saya tidak langsung bergegas pulang.

Di sekitar kompleks terdapat sejumlah petunjuk arah menuju lokasi lain yang menarik perhatian saya. Beberapa di antaranya adalah makam Syekh Al-Wasil, Masjid, Pendopo, Sumur Tiban Banyu Panguripan, Makam Sunan Demang, Sunan Kabul dan Sunan Bakul, Sunan Penanggungan, dan makam-makam lain.

Saya sempat mendokumentasikan beberapa petunjuk tersebut melalui foto dan video. Sayangnya, tidak semua lokasi dan sudut kompleks sempat saya dokumentasikan karena keterbatasan waktu.


Namun, keberadaan petunjuk itu membuat saya menyadari bahwa kawasan Setono Gedong menyimpan lebih banyak hal daripada yang semula saya bayangkan.

Ada berbagai nama, bangunan, dan tradisi yang masih layak ditelusuri lebih jauh. Setiap sudut seolah membuka pintu menuju pertanyaan baru tentang sejarah kawasan ini dan bagaimana masyarakat merawat ingatan terhadap masa lalu.

Tentu saja, nama-nama yang tertera pada petunjuk tersebut tidak serta-merta menjelaskan seluruh riwayat tokoh maupun tempatnya. Diperlukan penelusuran lebih lanjut melalui sumber sejarah dan keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan agar setiap kisah dapat dipahami secara tepat.

Meski begitu, bagi saya, petunjuk-petunjuk tersebut sudah cukup menjadi alasan untuk kembali suatu hari nanti.

Masih ada bagian dari Kediri yang ingin saya kenali. Masih ada makam tokoh dan raja yang ingin saya kunjungi. Dan masih banyak cerita lokal yang barangkali belum pernah saya dengar sebelumnya.

Mengenal Masa Lalu, Memahami Masa Kini

Pigura Sejarah Syekh Al Wasil Syamsudin.
Membaca kembali sejumlah tulisan mengenai Mbah Wasil membuat saya memahami satu hal: tidak semua tokoh yang dihormati masyarakat memiliki riwayat kehidupan yang sepenuhnya dapat dipastikan melalui sumber tertulis.

Informasi mengenai masa hidup dan asal-usul Mbah Wasil, misalnya, memiliki beberapa versi. Ada sumber yang mengaitkan beliau dengan masa Kerajaan Kediri, sementara versi lain menghubungkannya dengan periode Wali Songo. Sebagian kisah mengenai beliau juga berkembang melalui tradisi lisan masyarakat.

Perbedaan tersebut penting untuk disadari. Menghormati seorang tokoh dan mempelajari sejarahnya tidak berarti kita harus menganggap setiap cerita yang beredar sebagai fakta yang sudah pasti.

Justru, sikap menghargai sejarah perlu disertai kemauan untuk membaca, membandingkan sumber, dan membedakan catatan sejarah dari cerita tutur.

Di sisi lain, keterbatasan sumber tertulis tidak serta-merta menghapus arti sebuah tempat bagi masyarakat yang terus merawat tradisinya. Setono Gedong memperlihatkan bagaimana sebuah kawasan dapat menjadi ruang pertemuan antara sejarah, keagamaan, budaya, dan kehidupan masyarakat masa kini.

Bagi saya, di sinilah perjalanan religi menemukan makna yang lebih luas. Ziarah bukan hanya tentang mendatangi suatu lokasi, melainkan juga tentang kesediaan untuk belajar, menghormati, dan merenungkan jejak kehidupan manusia yang datang sebelum kita.

Menutup Malam di Kediri

Setelah menghabiskan waktu di kompleks Setono Gedong, saya dan Ncing Kholis melanjutkan perjalanan berkeliling Kota Kediri.

Malam belum sepenuhnya berakhir. Setelah menyusuri sejumlah ruas jalan, perjalanan kami ditutup dengan menikmati kopi di kawasan Simpang Lima Gumul.

Sebuah malam yang awalnya direncanakan sederhana ternyata memberikan pengalaman yang lebih berkesan daripada sekadar perjalanan keluar dari tempat kursus.

Ada cerita tentang meminjam motor, mencari arah, bertanya kepada warga, memasuki kompleks makam, berdoa, hingga menemukan berbagai petunjuk menuju tempat-tempat lain yang belum sempat dijelajahi.

Bagi orang lain, perjalanan tersebut mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi saya, malam itu menjadi bagian dari perjalanan mengenal Kediri lebih dekat bukan hanya sebagai tempat untuk belajar bahasa Inggris, melainkan juga sebagai daerah yang memiliki sejarah, tradisi, dan kehidupan spiritual yang menarik untuk dipelajari.

Saya datang ke Pare dengan tujuan utama belajar bahasa Inggris. Namun, tinggal di suatu daerah juga memberi kesempatan untuk memahami lingkungan tempat kita belajar: mengenal masyarakatnya, menelusuri sejarahnya, dan menghargai kebudayaannya.

Perjalanan ke Setono Gedong mengingatkan saya bahwa proses belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Terkadang, kita juga belajar melalui perjalanan, percakapan dengan warga, bangunan bersejarah, dan tempat-tempat yang menyimpan ingatan kolektif masyarakat.

Malam itu, satu keinginan telah terwujud. Akan tetapi, perjalanan saya mengenal Kediri belum selesai.

Masih ada tempat yang ingin saya datangi, tokoh yang ingin saya pelajari, dan cerita yang ingin saya dengar.

Sebab, mengenal sebuah daerah tidak cukup hanya dengan melewati jalan-jalannya. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan mencoba memahami jejak yang telah ditinggalkan oleh mereka yang hidup sebelum kita.

Referensi bacaan

  1. NU Online. Menelusuri Eksotisme Makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil.
  2. Pemerintah Kota Kediri. Inilah 4 Destinasi Wisata Religi di Kediri, Makam Syekh Syamsudin atau Mbah Wasil Salah Satunya.
  3. Wikipedia bahasa Indonesia. Syaikh Syamsuddin Al-Wasil.
  4. detikJatim. Jejak Mbah Wasil Konon Punya 'Andil' dalam Ramalan Jayabaya-Syiar Agama Islam.

Catatan: Artikel ini memadukan pengalaman perjalanan pribadi dengan informasi dari sumber bacaan. Detail sejarah yang masih memiliki beberapa versi disajikan secara hati-hati dan tidak diperlakukan sebagai kepastian sejarah.

Penulis: Muhammad Novan Heromando (An English Learner)
Editor: Tim Redaksi

Kanal terkait

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 15 dari 19
← 14 15 16 →