Sunday, 20 September 2026

Gus Kikin, Anak Pesantren yang Menekuni Dunia Pelayaran dan Bisnis, Lalu Dipercaya Memimpin NU

Penulis: Mushonifin 31 August 2026, 14:56 WIB
KH Abdul Hakim Mahfudz, yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Kikin
KH Abdul Hakim Mahfudz, yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Kikin

KABARSAHABAT.ID - Di Jombang, sejarah Nahdlatul Ulama seperti menemukan kembali salah satu putranya.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin, 31 Agustus 2026, bukan sekadar forum lima tahunan untuk menentukan arah perjalanan organisasi. Muktamar kali ini juga menjadi panggung bagi perjalanan panjang seorang tokoh yang memiliki wajah berlapis: ulama pesantren, organisatoris, profesional sekaligus pengusaha.

Dialah KH Abdul Hakim Mahfudz, yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Kikin.

Dalam muktamar yang diwarnai dinamika penjaringan calon Ketua Umum PBNU, Gus Kikin akhirnya dipercaya memimpin PBNU masa khidmat 2026–2031. Majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menetapkannya secara mufakat setelah lima nama hasil penjaringan diajukan untuk dimusyawarahkan.

Keputusan itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Gus Kikin.

Sebab, sebelum dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan tokoh penting NU, ia terlebih dahulu menempuh jalan yang cukup berbeda: menjadi seorang profesional di dunia pelayaran dan membangun bisnis sendiri.

Anak Pesantren yang Memilih Dunia Pelayaran

Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia adalah putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah Ma'shum.

Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan cicit KH Muhammad Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.

Sejak kecil, kehidupan pesantren sudah menjadi bagian dari dirinya. Ia belajar di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak.

Namun, selepas pendidikan menengah, Gus Kikin mengambil jalan yang tidak sepenuhnya lazim bagi seorang putra keluarga pesantren.

Ia memilih menekuni dunia pelayaran.

Gus Kikin melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dan menjalani praktik pelayaran selama sekitar tiga tahun, ia memasuki dunia profesional.

Pilihan tersebut kelak menjadi salah satu bagian penting yang membentuk cara pandangnya.

Ia tidak hanya belajar tentang pesantren dan organisasi, tetapi juga mengenal dunia kerja, manajemen, bisnis, logistik dan bagaimana sebuah perusahaan dijalankan.

Menjadi Profesional di Djakarta Lloyd

Langkah profesional Gus Kikin dimulai di PT Djakarta Lloyd, perusahaan pelayaran milik negara.

Di perusahaan tersebut, ia menjalani karier yang cukup panjang. Sejumlah sumber mencatat Gus Kikin pernah dipercaya menjadi Kepala Cabang Djakarta Lloyd di Cilegon. Ia juga pernah menjalankan tugas sebagai pimpinan harian cabang Medan pada periode 1980–1992.

Karier tersebut memperlihatkan bahwa sebelum terjun ke dunia usaha, Gus Kikin telah memiliki pengalaman sebagai seorang profesional dan manajer.

Ia berada di lingkungan yang menuntut ketepatan, kedisiplinan dan kemampuan mengambil keputusan.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal ketika ia memutuskan membangun usaha sendiri.

Dari Pegawai Menjadi Pengusaha

Pada 1990-an, perjalanan Gus Kikin memasuki babak baru.

Ia mulai membangun kelompok usaha yang kemudian dikenal sebagai BBS Group. Sejumlah sumber menyebut pendirian grup usaha tersebut berlangsung pada 1997, sementara catatan lain menyebut ekspansi perusahaan-perusahaan Gus Kikin berkembang pesat pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Dari Surabaya, bisnisnya kemudian berkembang hingga Jakarta.

Bidang yang digarap pun tidak hanya satu.

Ada transportasi, pelayaran, kontraktor migas, teknologi informasi, komoditas hingga media penyiaran.

Sejumlah perusahaan yang disebut dalam rekam jejak bisnis Gus Kikin antara lain PT Bama Buana Sakti di sektor transportasi, PT Bama Bhakti Samudra di bidang pelayaran, PT Bama Bumi Sentosa yang bergerak dalam kontraktor migas, PT Bama Bali Sejahtera di bidang teknologi informasi, serta PT Bama Berita Sarana yang menaungi bisnis media penyiaran.

Skala bisnis tersebut kemudian berkembang menjadi kelompok usaha dengan sekitar 22 perusahaan menurut sejumlah laporan profil Gus Kikin.

Menyentuh Sektor Energi

Salah satu bidang yang menonjol dalam perjalanan bisnis Gus Kikin adalah sektor energi.

Ia terkait dengan PT Energi Mineral Langgeng (EML), perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi. Perusahaan tersebut disebut mengelola kegiatan migas di kawasan South East Madura Block.

Masuknya Gus Kikin ke sektor energi memperlihatkan spektrum bisnisnya yang cukup luas.

Dari pelayaran dan transportasi, bisnis berkembang ke kontraktor migas hingga energi.

Pengalaman tersebut juga membawanya masuk ke dunia organisasi pengusaha. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Bidang Energi Kadin Jawa Timur pada periode 2000–2013.

Dengan pengalaman itu, Gus Kikin bukan orang yang asing dengan pembicaraan tentang investasi, dunia usaha, energi, lapangan kerja maupun penguatan ekonomi.

Dan pengalaman inilah yang kelak menjadi salah satu warna penting ketika ia dipercaya menangani bidang ekonomi di PBNU.

Pengusaha yang Kembali ke Rumah Pesantren

Ada fase menarik dalam perjalanan Gus Kikin.

Setelah bertahun-tahun berada di dunia profesional dan usaha, ia semakin dekat dengan pesantren dan organisasi NU.

Ia kemudian dipercaya menjadi bagian dari kepemimpinan Pondok Pesantren Tebuireng. Pada 2020, setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, Gus Kikin meneruskan kepemimpinan pesantren tersebut dan dikenal sebagai pengasuh Tebuireng ke-8.

Di titik ini, dua dunia yang selama bertahun-tahun dijalaninya seolah bertemu.

Dunia profesional memberinya pengalaman manajemen dan pengelolaan organisasi. Dunia usaha memberinya pengalaman membangun kemandirian ekonomi. Sedangkan pesantren memberinya akar nilai, tradisi keilmuan dan pengabdian.

Ketiganya kemudian menjadi bagian dari karakter kepemimpinannya.

Dari Ekonomi NU Menuju PWNU Jawa Timur

Pengalaman bisnis Gus Kikin juga mendapat tempat dalam perjalanan organisasinya di NU.

Sejak 2022, ia dipercaya menjadi Ketua PBNU Bidang Ekonomi. Posisi tersebut cukup relevan dengan latar belakang profesional dan bisnis yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.

Sebelumnya, Gus Kikin juga telah lama aktif di PWNU Jawa Timur. Ia tercatat menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur pada periode 2008–2022.

Kemudian pada 2024, ia dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur.

Pengalaman memimpin organisasi di wilayah dengan basis pesantren dan Nahdliyin yang sangat kuat itu menjadi bekal penting sebelum namanya masuk dalam bursa kepemimpinan nasional NU.

Muktamar ke-35: Ketika Nama Gus Kikin Menguat

Muktamar ke-35 NU di Jombang kemudian menjadi panggung penentuan.

Sejumlah nama muncul dalam proses penjaringan Ketua Umum PBNU. Dinamika muktamar memperlihatkan bahwa kepemimpinan NU bukan sekadar persoalan popularitas seseorang.

Ada suara dari struktur organisasi, aspirasi pesantren, pertimbangan para kiai dan masa depan jam'iyah yang ikut diperhitungkan.

Dalam proses penjaringan, Gus Kikin memperoleh 472 suara, tertinggi dibandingkan nama-nama lain yang masuk bursa.

Lima nama kemudian diajukan kepada AHWA.

Di sinilah dinamika berubah menjadi musyawarah para ulama.

Sembilan anggota AHWA bermusyawarah untuk menentukan figur yang dinilai paling tepat memimpin NU selama lima tahun mendatang.

Hingga akhirnya, Gus Kikin ditetapkan secara mufakat sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031.

Dari Dunia Usaha ke Ekonomi Umat

Kini, pengalaman Gus Kikin sebagai pengusaha memiliki arti yang lebih luas.

NU memiliki jutaan warga dan jaringan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu tantangan besarnya adalah bagaimana kekuatan sosial dan keagamaan tersebut dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi.

Di sinilah pengalaman Gus Kikin menjadi menarik.

Ia pernah menjadi pegawai perusahaan pelayaran. Ia kemudian menjadi pengusaha dan membangun kelompok usaha dengan berbagai lini bisnis. Ia pernah aktif di Kadin. Ia kemudian dipercaya menangani bidang ekonomi PBNU.

Pengalaman itu memberinya perspektif dari sisi pelaku usaha.

Namun, di sisi lain, ia juga memahami dunia pesantren dari dalam.

Pertemuan dua pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting bagi gagasan tentang kemandirian ekonomi warga NU.

Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Warisan yang Tidak Berhenti pada Nama Besar

Menariknya, kisah Gus Kikin tidak berhenti pada statusnya sebagai cicit KH Hasyim Asy'ari.

Justru perjalanan profesionalnya menunjukkan bahwa ia pernah keluar dari zona tradisi untuk memasuki dunia yang berbeda.

Ia berlayar.

Ia bekerja sebagai profesional.

Ia membangun perusahaan.

Ia masuk ke dunia energi dan media.

Ia aktif dalam organisasi pengusaha.

Kemudian ia kembali ke pesantren.

Dan setelah perjalanan panjang itu, ia masuk ke panggung tertinggi Nahdlatul Ulama.

Karena itu, kisah Gus Kikin bukan semata kisah tentang seseorang yang mewarisi nama besar keluarga.

Ini adalah kisah tentang seseorang yang mengumpulkan pengalaman dari banyak dunia: pesantren, pelayaran, perusahaan, energi, organisasi pengusaha dan NU.

Kini semua pengalaman tersebut bermuara pada satu amanah.

Memimpin Nahdlatul Ulama.

Dari Tebuireng untuk Indonesia

Muktamar ke-35 NU telah selesai menentukan pemimpin.

Namun bagi Gus Kikin, muktamar justru menjadi awal dari pekerjaan yang jauh lebih besar.

Ia membawa warisan KH Hasyim Asy'ari, pengalaman Tebuireng, perjalanan panjang di dunia profesional, pengalaman sebagai pengusaha, sekaligus rekam jejak panjang dalam organisasi NU.

Tantangannya adalah bagaimana semua pengalaman itu diterjemahkan menjadi kebijakan dan gerakan yang dirasakan warga NU.

Dari dunia pelayaran ia belajar bergerak.

Dari dunia usaha ia belajar membangun kemandirian.

Dari pesantren ia belajar tentang nilai dan pengabdian.

Dari NU ia belajar tentang kebersamaan.

Kini, semuanya bertemu dalam satu amanah.

Gus Kikin bukan hanya sedang melanjutkan perjalanan sebuah keluarga besar. Ia sedang memasuki babak baru untuk membuktikan bahwa tradisi pesantren, profesionalisme dan kemandirian ekonomi dapat berjalan bersama dalam satu jalan pengabdian.

Dari Tebuireng ke PBNU, perjalanan itu akhirnya sampai pada satu titik.

Bukan puncak untuk berhenti.

Melainkan titik awal untuk berbuat lebih banyak.


Penulis: Mushonifin
Editor: Mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN UNTUKMU

TERKINI LAINNYA

Halaman 3 dari 4