Sunday, 20 September 2026

Kiprah Nahdlatul Ulama Dalam Merawat NKRI

Penulis: Mushonifin 30 August 2026, 18:33 WIB
Adnan Ahmad
Adnan Ahmad

KABARSAHABAT.ID - Indonesia adalah negara yang dibangun dari keberagaman. Perbedaan suku, bahasa, budaya, tradisi, dan agama menjadi kenyataan sosial yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa. 

Dalam situasi seperti itu, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu generasi. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus dirawat melalui sikap kebangsaan, toleransi, persatuan, serta komitmen terhadap konstitusi. 

Di antara organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga persatuan bangsa adalah Nahdlatul Ulama (NU)

Sejak berdiri pada 31 Januari 1926, NU tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga mengambil peran penting dalam perjalanan kebangsaan Indonesia. 

Kiprah tersebut menjadikan NU sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil yang turut memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan dan merawat NKRI. 

Bagi NU, kecintaan terhadap tanah air bukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, menjaga keamanan, persatuan, dan kemaslahatan bangsa merupakan bagian dari tanggung jawab moral umat Islam. Pandangan keagamaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan antara Islam, kebangsaan, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Resolusi Jihad dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan 

Salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan NU adalah lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut dikeluarkan dalam konteks mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan. Ketika pasukan Sekutu bersama unsur Belanda berupaya kembali ke Indonesia, para ulama NU menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara. 

Resolusi Jihad memiliki arti penting karena memberikan legitimasi keagamaan kepada masyarakat, khususnya umat Islam, untuk mempertahankan kemerdekaan. Seruan para ulama kemudian membangkitkan semangat para santri dan masyarakat untuk ikut berjuang. Peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya menjadi salah satu momentum penting yang tidak dapat dilepaskan dari suasana perjuangan tersebut. 

Kiprah para ulama dan santri menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh kelompok tertentu. Kemerdekaan merupakan hasil perjuangan berbagai elemen bangsa. Dalam konteks itu, NU bersama para ulama dan santrinya telah memberikan kontribusi nyata dalam mempertahankan negara yang baru berdiri. 

Warisan sejarah tersebut memiliki pesan penting bagi generasi sekarang. Membela negara tidak selalu berarti mengangkat senjata. Pada masa kini, mempertahankan NKRI dapat diwujudkan melalui pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, menjaga kerukunan, melawan hoaks, menolak intoleransi, serta membangun kehidupan sosial yang damai. 

 

Islam dan Nasionalisme Bukan Dua Hal yang Dipertentangkan 

Salah satu kontribusi besar NU dalam kehidupan kebangsaan adalah kemampuannya mempertemukan identitas keislaman dengan identitas kebangsaan. NU mengembangkan pandangan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak mengharuskan seseorang menolak identitas sebagai warga negara Indonesia. 

Pandangan tersebut menjadi sangat penting di tengah perdebatan mengenai hubungan agama dan negara. Dalam masyarakat yang majemuk, agama tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sebaliknya, nilai-nilai agama dapat menjadi sumber moral untuk membangun kehidupan kebangsaan yang adil, damai, dan beradab. 

NU menerima Pancasila sebagai dasar negara dan memandang NKRI sebagai bentuk kesepakatan kebangsaan yang harus dijaga. Sikap tersebut bukan berarti mengurangi komitmen terhadap ajaran Islam. Justru, nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi ruang bersama bagi seluruh warga negara yang memiliki latar belakang berbeda. 

Dalam konteks ini, nasionalisme yang dikembangkan NU bukan nasionalisme sempit yang mengagungkan bangsa sendiri dan merendahkan bangsa lain. Nasionalisme tersebut merupakan kecintaan terhadap tanah air yang disertai tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan seluruh masyarakat. 

Merawat Tradisi Keagamaan dan Kebudayaan 

Kiprah NU dalam merawat NKRI juga tampak dalam kemampuannya menjaga hubungan harmonis antara agama dan kebudayaan. Indonesia memiliki tradisi lokal yang sangat beragam. Sebagian tradisi tersebut tumbuh melalui proses panjang interaksi antara nilai agama, budaya, dan kehidupan masyarakat. 

NU melalui pesantren, ulama, kiai, dan jaringan organisasinya memiliki peran besar dalam menjaga tradisi keagamaan yang moderat dan kontekstual. Tradisi seperti tahlilan, yasinan, pengajian, selamatan, dan berbagai bentuk kegiatan sosial-keagamaan menjadi ruang perjumpaan masyarakat. 

Tradisi semacam itu bukan sekadar ritual keagamaan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, dan kepedulian sosial. Ketika masyarakat berkumpul tanpa mempersoalkan perbedaan status sosial, mereka sedang membangun modal sosial yang sangat penting bagi persatuan bangsa. 

Pada titik inilah peran NU dalam merawat NKRI menjadi semakin relevan. Negara yang besar tidak hanya membutuhkan sistem politik dan hukum yang kuat, tetapi juga masyarakat yang memiliki ikatan sosial. Ketika hubungan antarwarga terjaga, potensi konflik dapat ditekan dan rasa memiliki terhadap bangsa semakin kuat. 

Pesantren sebagai Benteng Kebangsaan 

Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan yang memiliki posisi strategis dalam sejarah NU. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan kepedulian sosial. 

Dalam banyak pesantren, santri dididik untuk menghormati guru, menghargai perbedaan, hidup sederhana, dan mengutamakan kepentingan bersama. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting dalam membangun warga negara yang bertanggung jawab. 

Di tengah perkembangan teknologi digital, pesantren menghadapi tantangan baru. Generasi muda hidup dalam lingkungan informasi yang sangat terbuka. Berbagai ide, termasuk ide ekstrem, intoleran, dan anti-kebangsaan, dapat menyebar melalui media sosial. 

Karena itu, pesantren dan lembaga pendidikan NU perlu terus beradaptasi. Pendidikan keagamaan harus mampu berjalan beriringan dengan literasi digital, pendidikan kewarganegaraan, penguatan karakter, serta kemampuan berpikir kritis. Santri tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga harus mampu menjadi warga negara yang bijak dalam menggunakan teknologi. 

Moderasi Beragama untuk Menjaga Persatuan 

Indonesia membutuhkan cara beragama yang mampu menghadirkan kedamaian. Dalam masyarakat yang plural, keberagamaan harus disertai sikap toleran dan penghormatan terhadap hak warga negara lainnya. 

Dalam konteks ini, gagasan moderasi beragama memiliki relevansi besar dengan kiprah NU. Sikap tawassuth atau moderat, tawazun atau seimbang, i'tidal atau adil, dan tasamuh atau toleran menjadi nilai yang penting dalam kehidupan bersama. 

Moderasi bukan berarti mengurangi keyakinan agama. Moderasi justru mengajarkan seseorang untuk teguh dalam keyakinannya sekaligus menghormati orang lain yang berbeda. Sikap semacam ini sangat diperlukan agar perbedaan agama, mazhab, pilihan politik, dan pandangan sosial tidak berkembang menjadi permusuhan. 

NU mempunyai modal sosial yang besar untuk mengembangkan pendekatan tersebut melalui jaringan ulama, pesantren, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, badan otonom, serta komunitas masyarakat. Jika modal tersebut terus diperkuat, NU dapat memainkan peran semakin besar dalam membangun budaya kebangsaan yang damai. 

NU dan Demokrasi 

Merawat NKRI juga berarti merawat demokrasi. Demokrasi memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, melakukan kritik, dan berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan negara. 

NU memiliki pengalaman panjang dalam dinamika politik Indonesia. Namun, salah satu pelajaran penting yang dapat diambil adalah bahwa kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok. Perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi dan tidak semestinya merusak hubungan sosial. 

Dalam kehidupan politik, masyarakat sering terjebak dalam polarisasi. Perbedaan pilihan politik dapat berkembang menjadi permusuhan personal, bahkan memecah hubungan keluarga dan persahabatan. Kondisi semacam ini tentu berbahaya bagi persatuan bangsa. 

Karena itu, tradisi dialog, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu terus dikembangkan. NU dapat menjadi kekuatan moral untuk mengingatkan masyarakat bahwa politik hanyalah salah satu instrumen dalam mengelola negara, sedangkan persaudaraan kebangsaan harus tetap dijaga. 

Menolak Radikalisme dan Intoleransi 

Tantangan terhadap NKRI saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman militer. Ancaman dapat muncul dalam bentuk intoleransi, ekstremisme, radikalisme, politik identitas yang berlebihan, ujaran kebencian, disinformasi, dan konflik sosial. 

Perkembangan media sosial membuat penyebaran informasi berlangsung sangat cepat. Pernyataan provokatif yang dahulu hanya didengar oleh kelompok kecil kini dapat menjangkau jutaan orang. Jika masyarakat tidak memiliki kemampuan menyaring informasi, media sosial dapat menjadi ruang yang memperbesar konflik. 

NU memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Para ulama, dai, pendidik, dan aktivis NU dapat memberikan pemahaman keagamaan yang sejuk sekaligus memperkuat kesadaran kebangsaan. Dakwah perlu diarahkan untuk membangun persaudaraan, bukan memperlebar perbedaan. 

Masyarakat juga perlu diajak memahami bahwa kritik terhadap pemerintah adalah bagian dari demokrasi, tetapi kritik harus disampaikan secara bertanggung jawab. Demikian pula, kecintaan kepada agama tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan kelompok lain. 

Gotong Royong sebagai Kekuatan Sosial 

Salah satu nilai yang sangat penting dalam tradisi NU adalah kepedulian terhadap masyarakat. Berbagai kegiatan sosial, pelayanan pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, dan aktivitas keagamaan menjadi bagian dari kontribusi NU bagi masyarakat. 

Semangat tersebut sejalan dengan budaya gotong royong yang menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia. Gotong royong membuat masyarakat tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga kepentingan bersama. 

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, nilai gotong royong perlu kembali diperkuat. Kemajuan teknologi dan ekonomi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kepedulian sosial. Justru, semakin kompleks persoalan bangsa, semakin besar kebutuhan terhadap solidaritas. 

NU dapat terus mengembangkan gerakan sosial yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan, kesehatan, bantuan kebencanaan, dan penguatan masyarakat desa merupakan bentuk nyata merawat NKRI dari tingkat paling bawah. 

Menjaga NKRI di Era Digital 

Generasi muda merupakan kelompok yang sangat menentukan masa depan Indonesia. Karena itu, menjaga NKRI pada era digital membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi muda. 

NU memiliki jaringan generasi muda melalui berbagai organisasi dan komunitas. Ruang digital dapat digunakan untuk menyebarkan pesan Islam yang damai, memperkenalkan sejarah perjuangan bangsa, mengembangkan literasi kebangsaan, serta membangun dialog antaragama dan antarkelompok. 

Dakwah digital harus mengedepankan keteladanan dan argumentasi yang mencerdaskan. Konten keagamaan sebaiknya tidak hanya berisi perdebatan mengenai perbedaan, tetapi juga menawarkan solusi terhadap persoalan masyarakat. 

Generasi muda perlu didorong menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab. Prinsip sederhana seperti berpikir sebelum membagikan dan berkomentar menjadi sangat penting. Setiap informasi harus diverifikasi, setiap tuduhan harus diperiksa, dan setiap komentar harus mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. 

Merawat NKRI sebagai Amanah Bersama 

Kiprah NU dalam merawat NKRI merupakan bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Dari Resolusi Jihad, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, penguatan pendidikan pesantren, penerimaan Pancasila, hingga pengembangan moderasi beragama, NU telah memberikan kontribusi penting dalam membangun kehidupan kebangsaan. 

Namun, tugas merawat NKRI tidak dapat dibebankan kepada NU semata. Seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab yang sama. Pemerintah harus membangun pemerintahan yang adil dan bersih. Aparat negara harus menegakkan hukum secara profesional. Lembaga pendidikan harus membangun karakter kebangsaan. Tokoh agama harus menghadirkan dakwah yang mendamaikan. Media harus menjaga kualitas informasi. Sementara masyarakat harus mengembangkan budaya toleransi dan gotong royong. 

Dalam konteks itulah, warisan NU menjadi relevan untuk terus dikembangkan. Islam dan kebangsaan tidak harus dipertentangkan. Keberagamaan dapat menjadi sumber kekuatan moral untuk menjaga persatuan. Nasionalisme dapat menjadi ruang bersama bagi umat beragama untuk mewujudkan kemaslahatan. 

Menatap Masa Depan Indonesia 

Indonesia ke depan akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan global, perubahan teknologi, kesenjangan ekonomi, krisis lingkungan, perkembangan kecerdasan buatan, serta dinamika politik dan sosial akan menguji ketahanan bangsa. 

Dalam situasi tersebut, Indonesia membutuhkan organisasi masyarakat yang mampu menjadi jembatan antara nilai agama dan realitas kebangsaan. NU memiliki pengalaman, jaringan, dan tradisi intelektual yang dapat menjadi modal untuk memainkan peran tersebut. 

Merawat NKRI pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan batas wilayah. Lebih jauh, merawat NKRI berarti menjaga cita-cita kemerdekaan agar negara benar-benar menjadi rumah bersama. Rumah yang memberikan ruang bagi perbedaan, menjamin keadilan, menghormati kebebasan beragama, serta menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. 

Kiprah NU mengajarkan bahwa mempertahankan Indonesia harus dilakukan melalui perjuangan yang terus-menerus. Pada masa perjuangan fisik, ulama dan santri berada di garis depan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa sekarang, perjuangan tersebut berubah bentuk menjadi perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, intoleransi, korupsi, hoaks, ekstremisme, dan berbagai bentuk ketidakadilan. 

Karena itu, kecintaan terhadap NKRI harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, membantu sesama, menaati hukum, menjaga lingkungan, menggunakan media sosial secara bijak, dan membangun pendidikan yang berkualitas merupakan bagian dari upaya merawat Indonesia. 

NU telah memberikan teladan bahwa keberagamaan dan kebangsaan dapat berjalan bersama. Tantangan generasi sekarang adalah meneruskan warisan tersebut dalam konteks zaman yang terus berubah. Dengan semangat Islam yang rahmatan lil 'alamin, moderasi beragama, persaudaraan, gotong royong, dan komitmen terhadap Pancasila serta NKRI, Indonesia dapat terus berdiri sebagai bangsa yang kuat, damai, dan bermartabat. 

Pada akhirnya, merawat NKRI bukan sekadar kewajiban konstitusional, melainkan amanah moral bagi seluruh anak bangsa. NU telah menorehkan bagian penting dalam perjalanan tersebut. Kini, tugas itu harus dilanjutkan bersama agar Indonesia tetap menjadi rumah besar yang menaungi seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang agama, suku, budaya, maupun pilihan politik. NKRI adalah milik bersama, dan merawatnya adalah tanggung jawab bersama. 

Penulis: Adnan Ahmad
Editor: Mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN UNTUKMU

TERKINI LAINNYA

Halaman 1 dari 4
1 2 3 Berikutnya →