Menjadi mahasiswa baru berarti bertemu dengan banyak pilihan.
Pilihan kelas, pilihan teman, pilihan tempat tinggal, pilihan kegiatan, sampai pilihan organisasi. Di awal kuliah, semuanya terasa baru. Kita belum benar-benar tahu akan menjadi seperti apa setelah empat tahun nanti.
Saya pun begitu.
Ketika pertama kali menjadi mahasiswa, saya tidak punya rencana besar tentang organisasi. Saya hanya ingin punya teman, punya kegiatan positif, dan tentu saja punya ruang untuk belajar lebih banyak di luar kelas.
Makanya, ketika melihat banyak organisasi menawarkan berbagai macam kegiatan, saya tidak langsung berpikir, “Saya harus masuk yang ini.”
Saya lebih banyak melihat dan mengamati.
Salah satu yang paling sering saya lihat waktu itu adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ajakan untuk mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) datang cukup sering. Ada kertas formulir, ada ajakan mengisi identitas, bahkan ada semacam uang komitmen yang kalau tidak salah sekitar lima ribu rupiah sebagai bentuk comitment fee (baca:ikatan).
Saya tidak langsung mengisinya.
Bukan karena tidak tertarik. Saya hanya belum ingin terburu-buru.
Waktu itu saya punya pegangan sederhana:
Ikuti dulu, kenali dulu, rasakan dulu, baru pilih.
Toh, saya masih mahasiswa baru. Rasanya terlalu cepat kalau baru melihat organisasi dari luar, lalu langsung memutuskan apakah saya cocok atau tidak.
Sebelum MAPABA, saya bertanya-tanya dulu
Salah satu orang yang cukup sering menjadi teman ngobrol saya soal PMII waktu itu adalah Sahabat Nizar Zuhdi Al-Hakimi atau kerap saya sapa Gus Zihad.
Obrolannya juga tidak selalu serius. Kadang membahas sejarah PMII dan kehidupan kampus, kadang tentang NU, senioritas, politik kampus, kelebihan dan kekurangan organisasi, sampai hal-hal yang sebenarnya ngalor-ngidul ke mana-mana.
Justru dari obrolan seperti itu saya mulai melihat bahwa masuk organisasi bukan hanya soal ikut kegiatan.
Ada sesuatu yang perlu saya kenali lebih dulu.
Saya juga mulai mendengar berbagai cerita tentang PMII. Ada yang baik, ada yang kurang baik. Ada yang memuji, ada pula yang mengkritik. Bagi saya, semuanya perlu didengar.
Sebab kalau hanya mendengar cerita orang yang suka, kita bisa terlalu cepat mengidealkan. Kalau hanya mendengar orang yang tidak suka, kita juga bisa terlalu cepat membenci.
Akhirnya saya berpikir:
Ya sudah, coba saja dulu.
Kalau nyaman, lanjut.
Kalau tidak nyaman, nanti dipikirkan lagi.
Sesederhana itu.
MAPABA: masuk ke sebuah gerbang
Hari MAPABA pun tiba.
Saya datang dalam kondisi badan yang sebenarnya kurang baik. Malam sebelumnya sempat sakit, tetapi pagi harinya merasa sedikit lebih baik. Saya tetap berangkat.
Kalau mengingat kembali suasananya, saya masih merasa lucu sendiri.
Sebagai mahasiswa baru, saya lebih banyak diam dan mengamati. Banyak hal yang ingin ditanyakan, tetapi tidak semuanya berani saya tanyakan. Banyak materi yang disampaikan, tetapi jujur saja, tidak semuanya langsung saya mengerti.
Saya mengikuti prosesnya.
Mendengarkan.
Mencatat.
Mengamati orang-orang di sekitar.
Sampai akhirnya tiba pada proses baiat.
Sejak saat itu saya menjadi kader mu'taqid.
Ada kalimat yang kemudian cukup melekat:
“Satu angkatan satu jiwa, sekali MAPABA sahabat selamanya.”
Tetapi kalau boleh jujur, setelah MAPABA saya belum langsung merasa, “Nah, ini tempat saya.”
Saya juga belum tiba-tiba memahami PMII secara utuh.
Dan menurut saya, justru di situlah menariknya.
Karena MAPABA ternyata bukan tempat semua jawaban diberikan.
MAPABA hanyalah gerbang.
Setelah melewati gerbang itu, proses sebenarnya justru baru dimulai.
Ternyata banyak hal baru saya pahami setelahnya
Salah satu materi yang kemudian terus teringat adalah Pendidikan Kritis.
Waktu itu saya pernah ditanya tentang tujuan pendidikan.
Padahal mahasiswa Tarbiyah/Pendidikan tapi saya tidak mampu menjawab dengan baik.
Kemudian saya dikenalkan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire. Saya mulai mengenal kritik terhadap dunia pendidikan yang disebut Gaya Bank, dimana peserta didik layakanya seperti gelas kosong yang harus terus diisi oleh pendidik. Saya mulai mengenal pentingnya dialog, pengalaman, dan kemampuan manusia untuk membaca realitas di sekitarnya.
Menariknya, beberapa waktu setelah itu saya bertemu dengan pembahasan yang beririsan dengan apa yang pernah didiskusikan di PMII ketika mengikuti perkuliahan.
Di situ saya mulai merasa:
“Oh, ternyata yang kemarin dibahas itu ada hubungannya dengan ini.”
Hal-hal yang sebelumnya terasa seperti materi diskusi biasa perlahan menemukan konteksnya.
Itu yang kemudian membuat saya melihat PMII dengan cara yang berbeda.
Bagi saya, PMII perlahan menjadi semacam kelas kedua setelah kelas di kampus.
Kalau di kampus saya belajar dari dosen, buku, tugas, dan perkuliahan, di organisasi saya belajar dari forum diskusi, membaca, menulis, berdebat, mengelola kegiatan, bertemu banyak karakter manusia, sampai belajar menyelesaikan masalah dan mencari jalan agar persoalan itu bisa berujung pada maslahah.
Tentu saja keduanya tidak selalu berjalan mulus.
Tetapi justru karena itulah saya belajar.
Dari sekadar mencoba menjadi nyaman
Awalnya saya hanya ingin mencoba.
Kemudian saya mulai sering datang.
Mulai mengenal lebih banyak orang.
Mulai membaca.
Mulai menulis.
Mulai berdiskusi.
Mulai berani menyampaikan pendapat.
Mulai belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang berbeda pandangan.
Saya tidak merasa berubah dalam satu malam.
Kalau sekarang saya melihat kembali perjalanan itu, rasanya bukan saya yang tiba-tiba memutuskan untuk berubah.
Banyak hal yang mengubah saya.
Orang-orang yang saya temui.
Buku-buku yang saya baca.
Diskusi-diskusi yang saya ikuti.
Kesalahan-kesalahan yang saya lakukan.
Keberhasilan-keberhasilan kecil yang saya rasakan.
Bahkan kegagalan yang sempat membuat saya kecewa.
Semuanya ikut membentuk.
Sampai akhirnya saya berada di satu titik:
Saya nyaman.
Dan karena nyaman, saya keterusan.
Hehehe.
Kalau sudah nyemplung, sekalian menyelam
Semakin lama berada di organisasi, saya juga semakin tahu bahwa PMII tidak sempurna.
Ada hal-hal yang saya suka.
Ada hal-hal yang tidak saya suka.
Ada keputusan yang saya setujui.
Ada pula yang saya kritik.
Ada kader yang membuat saya bangga.
Ada juga perilaku kader yang menurut saya justru perlu dievaluasi.
Bagi saya, itu bagian dari berorganisasi.
Saya tidak ingin mencintai organisasi dengan cara menganggapnya selalu benar.
Kalau memang ada yang salah, ya harus bisa dikritik.
Bahkan kalau kritik itu berasal dari diri sendiri.
Saya kemudian punya pegangan yang sederhana: kalau memang sudah masuk, jangan hanya mencelupkan kaki.
Kalau baru sedikit masuk lalu buru-buru menyimpulkan seluruh isinya, mungkin yang kita kenal baru permukaannya.
Kalau sudah terlanjur nyemplung, sekalian berenang dan menyelam lebih dalam.
Bukan berarti harus membela semua hal.
Justru dengan masuk lebih dalam, kita bisa melihat mana yang baik, mana yang buruk, mana yang harus dipertahankan, dan mana yang harus diperbaiki.
Saya menyebutnya sebagai berproses 1.000 hari.
Tahun pertama menjadi kader.
Tahun kedua mulai belajar menjadi pengurus.
Tahun ketiga mulai memegang tanggung jawab yang lebih besar.
Selama proses itu, kita melihat organisasi dari berbagai sisi.
Bagi saya, waktu yang panjang membuat penilaian menjadi lebih matang.
Bukan berarti setelah seribu hari kita otomatis paling tahu.
Tetapi setidaknya kita tidak hanya menilai dari apa yang terlihat di luar.
Terbentur, Terbentur, dan Terbentuk
Setelah itu, perjalanan saya di PMII semakin jauh.
Saya mengikuti PKD.
Mulai lebih serius.
Mulai terlibat dalam kepengurusan.
Mulai memegang tanggung jawab.
Mulai belajar memimpin.
Mulai lebih sering menulis dan berdiskusi.
Bahkan sampai turun aksi dan belajar memegang mikrofon di depan massa.
Pertama kali berorasi, jujur saja, tangan saya gemetar.
Takut salah.
Takut suara saya tidak keluar.
Takut apa yang saya sampaikan tidak jelas.
Tetapi setelah beberapa saat, ya mengalir saja.
Ternyata keberanian juga bisa dilatih.
Saya belajar bahwa ruang diskusi memang penting.
Tetapi mahasiswa tidak mungkin selamanya hanya duduk di ruangan.
Di ruangan kita merencanakan.
Di luar ruangan kita melaksanakan.
Di situlah teori bertemu kenyataan.
Dan tentu saja, dalam proses itu saya juga pernah salah.
Pernah mengalami kekalahan.
Pernah salah berkomunikasi.
Pernah kecewa.
Pernah berpikir ulang tentang banyak hal.
Tetapi mungkin memang seperti itulah prosesnya.
Terbentur, terbentur, dan terbentuk.
Bukan karena semua yang saya lakukan benar.
Justru karena beberapa kali salah, saya jadi tahu apa yang seharusnya tidak saya ulangi.
Organisasi bukan alasan untuk meninggalkan kuliah
Ada satu hal yang juga saya pelajari selama menjadi mahasiswa.
Aktif organisasi dan belajar di kampus seharusnya tidak selalu ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan.
Saya pernah menjadi pengurus, memimpin organisasi, mengikuti diskusi, menulis, turun aksi, dan menjalani berbagai kegiatan kemahasiswaan.
Tetapi di sisi lain, saya tetap harus mengerjakan tugas, mengikuti perkuliahan, melakukan penelitian, menulis skripsi, dan akhirnya mempertanggungjawabkan semuanya di ruang sidang.
Alhamdulillah, saya menyelesaikan kuliah dalam delapan semester.
Bukan untuk mengatakan bahwa aktivis harus selalu lulus cepat.
Bukan juga untuk membuktikan bahwa organisasi lebih penting daripada kuliah.
Justru sebaliknya.
Saya belajar bahwa keduanya bisa berjalan bersama, selama kita mau belajar mengatur diri dan bertanggung jawab terhadap pilihan masing-masing.
Karena pada akhirnya, organisasi juga seharusnya membuat kita semakin sadar terhadap tanggung jawab akademik, bukan malah menjadikannya alasan untuk mengabaikan kuliah.
Jadi, kenapa saya memilih MAPABA?
Kalau hari ini saya ditanya mengapa dulu memilih MAPABA, jawabannya ternyata tidak serumit yang mungkin saya bayangkan.
Saya tidak masuk karena sejak awal yakin PMII adalah organisasi terbaik.
Saya juga tidak masuk karena merasa semua yang ada di dalamnya pasti benar.
Saya hanya ingin mencoba.
Saya ingin punya teman.
Saya ingin punya kegiatan.
Saya ingin belajar.
Kemudian saya mengikuti prosesnya.
Saya mulai mengenal orang-orangnya.
Saya mulai membaca.
Saya mulai berdiskusi.
Saya mulai menemukan ruang untuk menulis.
Saya mulai belajar berbicara.
Saya mulai belajar memimpin.
Saya mulai tahu bahwa organisasi punya kelebihan sekaligus kekurangan.
Dan entah bagaimana, dari yang awalnya hanya mencoba, saya malah merasa nyaman, lalu keterusan.
Mungkin memang begitulah sebagian keputusan dalam hidup bekerja.
Kita tidak selalu tahu jawabannya sejak awal.
Kadang kita hanya perlu berani mencoba.
Kalau cocok, lanjutkan.
Kalau tidak cocok, pikirkan kembali.
Tetapi sebelum memutuskan sesuatu, mungkin ada baiknya kita mengenalnya lebih dalam.
Sebab saya belajar satu hal dari perjalanan ini:
Jangan buru-buru menilai sesuatu hanya dari permukaannya.
Dulu saya adalah seorang MABA yang sedang mencari tempat untuk belajar dan berteman.
Saya memilih MAPABA.
Dan dari sebuah MAPABA, saya kemudian menjalani perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang pernah saya bayangkan.
Empat tahun kemudian, ketika melihat kembali foto-foto lama itu, saya baru sadar:
Ternyata keputusan yang waktu itu terlihat sederhana membawa saya sejauh ini.