Pendidikan & Budaya

Dari Medan Perang hingga Ruang Pendidikan, Jejak Perjuangan KH Badruddin Honggowongso

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Dari Medan Perang hingga Ruang Pendidikan, Jejak Perjuangan KH Badruddin Honggowongso
Dari Medan Perang hingga Ruang Pendidikan, Jejak Perjuangan KH Badruddin Honggowongso

KABARSAHABAT.ID – Perjuangan KH Muhammad Badruddin Honggowongso tidak hanya tercatat dalam sejarah organisasi Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, membangun pendidikan Islam, dan mengembangkan pemikiran keagamaan di Jawa Tengah. Ulama kelahiran Kartasura, Sukoharjo, pada 1901 ini menjalani pengabdian panjang dengan berpindah dari satu medan perjuangan ke medan lainnya.

Salah satu jejak pentingnya adalah keterlibatan dalam Barisan Sabilillah setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di tengah ancaman kembalinya kekuasaan kolonial, KH Badruddin turut menjadi bagian dari kalangan ulama yang mendukung perjuangan mempertahankan Republik. Sebelumnya, pada 1939, ia telah dipercaya menjadi utusan NU Semarang dalam Muktamar NU ke-14 di Magelang.

Ketua Lajnah Ta'lif wan Nasyar (LTN) PCNU Kota Semarang, Dr M Kholidul Adib, mengungkapkan bahwa perjalanan hidup KH Badruddin memperlihatkan luasnya peran ulama dalam sejarah bangsa. Pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui ceramah dan kegiatan keagamaan, tetapi juga melalui perjuangan kemerdekaan, pendidikan, organisasi, dan politik.

“KH Badruddin Honggowongso merupakan salah satu ulama yang jejak pengabdiannya melintasi berbagai bidang. Beliau terlibat dalam perjalanan organisasi NU, ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan, mendirikan lembaga pendidikan, serta mengembangkan keilmuan Islam. Perjalanan ini menunjukkan bahwa pengabdian ulama kepada umat dan bangsa dapat diwujudkan melalui banyak jalan,” ujar Adib.

Ketika Ulama Turut Mempertahankan Kemerdekaan

Bergabungnya KH Badruddin dengan Barisan Sabilillah menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, ancaman terhadap kedaulatan negara mendorong berbagai elemen masyarakat untuk terlibat dalam perjuangan, termasuk para kiai dan santri.

Barisan Sabilillah menjadi wadah perjuangan yang menghimpun kalangan ulama dan umat Islam. Peran mereka tidak hanya berkaitan dengan penguatan semangat keagamaan, tetapi juga keterlibatan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

KH Badruddin berada di antara ulama yang mengambil bagian dalam arus perjuangan tersebut. Ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung pada 1948, situasi keamanan yang memburuk membuat dirinya bersama keluarga harus mengungsi ke kawasan Prambanan.

Pengungsian itu menggambarkan beratnya keadaan yang dihadapi para pejuang pada masa revolusi. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya menuntut keberanian di medan pertempuran, melainkan juga kesediaan menghadapi ketidakpastian hidup dan keselamatan keluarga.

Bagi Adib, kisah KH Badruddin penting ditempatkan dalam rangkaian sejarah perjuangan ulama yang kerap belum memperoleh perhatian luas.

“Sejarah perjuangan kemerdekaan tidak hanya berisi kisah para tokoh militer atau pemimpin nasional. Para ulama dan santri juga memiliki peran penting. Mereka memberikan kekuatan moral, menggerakkan masyarakat, dan turut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan,” jelasnya.

Dipercaya Menjadi Utusan NU Semarang pada 1939

Sebelum terlibat dalam perjuangan bersenjata, KH Badruddin telah aktif dalam perkembangan organisasi NU. Setelah pindah dari Kaliyoso ke Semarang atas saran kerabatnya, KH Abdurrohman, ia menetap di kawasan Gedung Bobrok, Semarang Lama.

Di kota ini, Badruddin mengajar di sejumlah madrasah dan aktif dalam kegiatan NU. Organisasi tersebut telah berdiri di Semarang sejak 1928, dengan sejumlah tokoh yang berperan dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat.

Pada Juli 1939, Badruddin mendapat kepercayaan menjadi utusan NU Semarang dalam Muktamar NU ke-14 di Magelang. Ia juga tercatat terlibat dalam kepanitiaan kegiatan tersebut bersama sejumlah tokoh NU lainnya, termasuk KH Muchtar, Kiai Muslich, dan KH Saifuddin Zuhri.

Muktamar dipimpin oleh Rais Akbar KH Hasyim Asy'ari dan Ketua Tanfidziyah KH Mahfudz Siddiq. Pertemuan tersebut membahas berbagai persoalan organisasi dan umat, termasuk penguatan struktur NU, bantuan untuk Palestina, serta sikap organisasi terhadap lembaga bentukan pemerintah kolonial Belanda.

NU ketika itu memilih tidak mengirimkan wakil ke Volksraad atau Dewan Rakyat bentukan pemerintah kolonial. Sikap tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kemandirian organisasi di tengah situasi politik Hindia Belanda.

Menurut Adib, keterlibatan Badruddin dalam muktamar menjadi petunjuk penting mengenai kiprah tokoh-tokoh NU Semarang pada masa sebelum kemerdekaan.

“Walaupun jabatan struktural beliau dalam kepengurusan NU Semarang pada 1939 belum diketahui secara pasti, statusnya sebagai utusan resmi menunjukkan adanya kepercayaan organisasi terhadap beliau. Ini menjadi bagian penting yang perlu terus ditelusuri dalam penulisan sejarah NU di Kota Semarang,” kata Adib.

Perjalanan Pendidikan yang Terhenti, Semangat Belajar Tak Padam

Di balik kiprahnya sebagai ulama, KH Badruddin memiliki perjalanan pendidikan yang tidak selalu berjalan mulus. Ia lahir pada 1901 dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam. Ayahnya, Kiai Zakaria atau Abdul Syukur, dan ibunya, Nyai Tari, berasal dari lingkungan keluarga santri.

Badruddin mengawali pendidikan agama di lingkungan keluarga sebelum melanjutkan belajar di Pesantren Kacangan, Andong, Boyolali, di bawah asuhan KH Zuhdi. Ia kemudian meneruskan pendidikan ke Madrasah Mambaul Ulum Surakarta yang diasuh Kiai Idris.

Kemampuan yang diperolehnya di pesantren membuat Badruddin dapat diterima langsung di kelas lanjutan ketika berusia sekitar 15 tahun. Ia bahkan memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Mesir.

Namun, cita-cita itu harus terhenti setelah ayahnya meninggal dunia ketika ia naik ke kelas XI. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya tidak mampu melanjutkan pendidikan hingga selesai.

Meski demikian, Badruddin tidak meninggalkan dunia ilmu. Ia melanjutkan pengajian kepada sejumlah kiai dan mendalami berbagai kitab keislaman. Ketekunan tersebut kelak menjadi bekal penting ketika dirinya dikenal sebagai ulama yang memiliki kemampuan mendalam dalam pembahasan hukum Islam.

Sebelum menetap di Semarang, ia juga tinggal di Kaliyoso, tempat asal leluhurnya. Di sana, masyarakat kerap meminta bantuannya untuk mengurus pernikahan sebagai naib serta memberikan pengobatan kepada orang sakit.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan seorang ulama tidak selalu berlangsung melalui pendidikan formal hingga jenjang tertinggi. Ketekunan mengaji, pengalaman bermasyarakat, dan pengabdian menjadi bagian dari proses panjang yang dijalani Badruddin.

Rumah Pribadi yang Menjadi Tempat Lahirnya Madrasah

Setelah Indonesia merdeka, KH Badruddin bertugas sebagai pegawai negeri di Departemen Agama dan ditempatkan di Salatiga. Di kota tersebut, ia tidak hanya menjalankan tugas pemerintahan, tetapi juga melanjutkan pengabdiannya dalam bidang pendidikan.

Pada 1959, Badruddin bersama KH Zubair Salatiga, KH Ghufron, KH Kasmuni, dan KH Zainidin merintis pendirian MTs NU Salatiga.

Pada masa awal, madrasah tersebut belum memiliki gedung sendiri. Hingga 1964, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di rumah Badruddin di Jalan Taman Pahlawan Nomor 2, Salatiga.

Keputusan menggunakan rumah pribadi sebagai tempat belajar memperlihatkan bagaimana keterbatasan sarana tidak menghentikan upaya para ulama dalam memperluas akses pendidikan. Rumah yang dibeli Badruddin dengan cara mencicil itu menjadi salah satu tempat penting dalam sejarah awal perkembangan MTs NU Salatiga.

Bahkan, lembaga pendidikan tersebut turut menjadi tempat belajar bagi putra-putrinya sendiri.

Selain di Salatiga, Badruddin ikut merintis pendidikan di Kaliyoso yang kemudian menjadi cikal bakal Yayasan Umat Islam Kaliyoso (YAUMIKA). Upaya tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak berhenti ketika dirinya telah memiliki jabatan atau kedudukan di organisasi.

Dari Anggota DPRD hingga Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah

Pengabdian KH Badruddin juga merambah bidang politik dan pemerintahan. Setelah NU menjadi partai politik, ia terpilih sebagai anggota DPRD Kota Salatiga melalui Pemilu 1955. Pada Pemilu 1971, ia kembali memperoleh kepercayaan menjadi anggota DPRD Jawa Tengah dari Partai NU.

Di lingkungan organisasi, Badruddin kemudian dikenal sebagai ulama yang aktif dalam forum bahtsul masail, yakni pembahasan persoalan keagamaan berdasarkan kajian kitab-kitab klasik Islam.

Penguasaan terhadap literatur keislaman membuatnya disegani di kalangan Nahdliyin. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, posisi yang berkaitan dengan kepemimpinan dan pembinaan keagamaan di lingkungan organisasi.

Badruddin dikenal sebagai sosok alim, bersahaja, dan tawadhu. Ia juga terus mengembangkan keilmuan melalui dunia akademik dengan menjadi dosen senior di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Bahkan ketika usianya telah lanjut, ia tetap menjalani perjalanan pulang-pergi dari Salatiga ke Solo menggunakan bus untuk mengajar. Kebiasaan tersebut menjadi gambaran ketekunannya dalam menjaga tradisi keilmuan dan membagikan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Warisan Ulama yang Melampaui Jabatan

KH Muhammad Badruddin Honggowongso wafat pada Jumat, 5 Maret 1987, bertepatan dengan 6 Rajab 1407 Hijriah. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Pamijen, di belakang Masjid Jami' Kaliyoso, Sragen, Jawa Tengah.

Kepergiannya mengakhiri perjalanan seorang ulama yang menjalani berbagai bentuk pengabdian sepanjang hidupnya. Ia pernah menjadi utusan NU Semarang dalam muktamar, ikut dalam Barisan Sabilillah, mengabdi sebagai pegawai Departemen Agama, menjadi anggota legislatif, mendirikan madrasah, serta memimpin Syuriyah NU Jawa Tengah.

Dr M Kholidul Adib menilai, rekam jejak Badruddin menjadi bagian penting dari sejarah ulama NU yang perlu terus dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurutnya, warisan tokoh seperti KH Badruddin tidak semata-mata terletak pada jabatan yang pernah diemban, tetapi juga pada konsistensi dalam mengabdikan ilmu dan tenaga untuk kepentingan umat serta bangsa.

Kisah hidupnya memperlihatkan bahwa perjuangan seorang ulama dapat berlangsung dalam banyak bentuk. Ketika bangsa menghadapi ancaman, ia ikut mempertahankan kemerdekaan. Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, ia membuka ruang belajar. Ketika umat menghadapi persoalan keagamaan, ia mendalami kitab dan terlibat dalam bahtsul masail.

Dari Semarang hingga Salatiga, dari forum organisasi hingga ruang kelas, jejak KH Badruddin Honggowongso menjadi pengingat bahwa sejarah NU dibangun oleh para ulama yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi juga mewujudkannya melalui kerja nyata bagi masyarakat dan bangsa.


Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 4 dari 19
← 3 4 5 →