Teknologi & Digital

Gerakan Mahasiswa di Era Digital Tak Cukup Berhenti di Media Sosial

Penulis: Sahabat Aamon
Bagikan
Peserta dan pemantik diskusi “Gerakan Mahasiswa di Era Digital” berfoto bersama usai kegiatan di halaman FUHUM UIN Walisongo Semarang, Selasa (6/10/2026).
Peserta dan pemantik diskusi “Gerakan Mahasiswa di Era Digital” berfoto bersama usai kegiatan di halaman FUHUM UIN Walisongo Semarang, Selasa (6/10/2026).

KABARSAHABAT.ID — Gerakan mahasiswa di era digital tidak cukup dilakukan melalui komentar, unggahan, atau membagikan ulang informasi di media sosial. Gerakan perlu dibangun melalui riset, perumusan tujuan dan tuntutan, konsolidasi, serta tindak lanjut di ruang nyata.

Hal tersebut disampaikan Annas Akmalalul Huda dalam diskusi bertajuk “Gerakan Mahasiswa di Era Digital” yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ushuluddin Komisariat UIN Walisongo Semarang di Taman Jati Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, Selasa (6/10/2026). Diskusi diikuti 44 peserta.

Annas menjelaskan, perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk menyebarkan isu dan mengonsolidasikan massa dalam waktu singkat. Berbeda dengan gerakan mahasiswa sebelum berkembangnya media digital, konsolidasi kini dapat dilakukan melalui berbagai platform digital.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Derasnya informasi membuat mahasiswa perlu memastikan kebenaran informasi sebelum menjadikannya sebagai dasar gerakan.

“Ketika kalian ingin melakukan sebuah aksi digital, riset-riset tersebut diperlukan,” kata Annas dalam diskusi.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengidentifikasi isu, memahami akar masalah, mengetahui dampaknya, serta mengumpulkan data sebelum menyampaikan tuntutan di ruang publik. Hal tersebut penting agar gerakan memiliki dasar yang jelas ketika menghadapi perbedaan pandangan maupun informasi tandingan.

Annas juga menyoroti kecenderungan menganggap komentar, share, dan repost sebagai bentuk perjuangan yang sudah cukup dilakukan. Menurutnya, aktivitas tersebut memang dapat menjadi bagian dari penyebaran informasi, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan.

“Ketika kita hanya berhenti di situ, kita tidak melakukan follow up secara langsung. Kita terjebak dalam sebuah fenomena yang namanya selektifisme,” ujarnya.

Ia kemudian mengaitkan gerakan digital dengan kemampuan mahasiswa membaca informasi secara kritis. Menurut Annas, mahasiswa perlu mengkaji isu yang diterima, membandingkan berbagai sumber, serta melihat kondisi secara langsung agar tidak mudah terjebak pada informasi yang sedang ramai.

Selain riset, kemampuan komunikasi juga menjadi bagian penting dalam membangun gerakan. Annas menilai bahasa akademik yang digunakan di lingkungan kampus tidak selalu mudah dipahami masyarakat.

“Ketika kalian sudah mempunyai riset mendalam, selain untuk menyampaikan ke ranah digital, kalian juga harus pintar bagaimana menyesuaikan pembicaraan kalian kepada orang-orang yang kalian tuju,” katanya.

Menurutnya, mahasiswa perlu memahami kondisi masyarakat dan mampu menjelaskan persoalan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan demikian, gerakan tidak hanya berputar di lingkungan kampus maupun media sosial.

Annas juga menegaskan bahwa gerakan digital harus memiliki kesinambungan dengan gerakan di ruang nyata. Gagasan yang disampaikan melalui media sosial perlu diikuti langkah konkret agar tidak berhenti sebagai wacana.

“Pastikan juga kalian punya pandangan bahwasanya aksi tersebut harus berjalan di ranah real. Jadi, tidak hanya berhenti di ranah digital,” ungkapnya.

Selain riset dan komunikasi, konsolidasi menjadi bagian penting dalam gerakan. Annas menjelaskan bahwa konsolidasi diperlukan untuk menyamakan tujuan, tuntutan, strategi, hingga teknis pelaksanaan sebelum sebuah gerakan dilakukan.

Ia menyebut tiga hal yang perlu dipahami mahasiswa sebelum membawa gerakan ke ruang digital, yakni apa tuntutannya, apa tujuan gerakannya, dan bagaimana cara mengeksekusinya.

“Ketika kalian sudah mulai berbicara ke ranah digital, kalian harus paham dulu tuntutan kalian itu apa, tujuan kalian melakukan aksi itu apa, dan yang terakhir bagaimana cara kalian akan mengeksekusi aksi tersebut,” tutur Annas.

Dalam sesi tanya jawab, peserta membahas tantangan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi di tengah pembatasan maupun tekanan di ruang digital. Annas menekankan bahwa gerakan perlu memiliki dasar kajian dan data yang kuat agar setiap pernyataan dapat dipertanggungjawabkan.

Peserta juga mempertanyakan cara memilah isu di tengah banyaknya informasi viral di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Annas kembali menekankan pentingnya berpikir kritis agar mahasiswa tidak mudah terdistraksi oleh isu yang sedang ramai dan tetap mampu menentukan persoalan yang perlu dikaji lebih lanjut.

Ia juga mendorong mahasiswa membangun kesadaran secara kolektif melalui organisasi. Menurutnya, kesadaran individual dapat dikembangkan melalui diskusi dan konsolidasi sebelum diterjemahkan menjadi gerakan yang lebih luas.

“Mulai dari satu orang, dua orang, sepuluh orang, lalu satu organisasi, satu rayon, satu komisariat, berlanjut ke satu cabang. Jika konsep kalian jelas, konsolidasi seperti itu bisa dilakukan,” ucapnya.

Diskusi tersebut menempatkan riset, berpikir kritis, komunikasi, konsolidasi, dan eksekusi sebagai bagian yang saling berkaitan dalam gerakan mahasiswa di era digital. Media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan gagasan dan membangun konsolidasi, tetapi keberlanjutan gerakan tetap membutuhkan tindakan nyata.

Penulis: Sahabat Aamon
Editor: Tim Redaksi

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 6 dari 19
← 5 6 7 →