Sunday, 20 September 2026

Menjadi Mahasiswa: Membaca, Menulis, Berdiskusi, dan Aksi

Penulis: Mushonifin 04 September 2026, 13:44 WIB
Dokumentasi Membaca Menulis Berdiskusi dan Aksi
Dokumentasi Membaca Menulis Berdiskusi dan Aksi

Oleh : Muhammad Novan Heromando

KABARSAHABAT.ID — Menjadi mahasiswa bukan hanya soal datang ke kelas, mengerjakan tugas, mengejar nilai, lalu menunggu wisuda. Ada sesuatu yang seharusnya ikut tumbuh selama seseorang menyandang status mahasiswa: rasa ingin tahu, keberanian berpikir, kemauan berbicara, dan kesediaan untuk melakukan.

Karena itu, bagi saya, ada empat tradisi yang semestinya dekat dengan kehidupan mahasiswa: membaca, menulis, berdiskusi, dan aksi. Empat hal yang terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, dapat mengubah cara seseorang melihat dunia dan menjalani hidupnya.

Membaca membuat kita tahu. Menulis membuat kita berbagi. Berdiskusi membuat kita memahami. Dan aksi membuat apa yang kita pikirkan tidak berhenti hanya menjadi sebuah angan.

Membaca untuk Mengenal Dunia

Ada sebuah kata yang begitu dekat dengan dunia pendidikan: Iqra’—bacalah.

Membaca adalah pintu untuk mengenal dunia. Dengan membaca, kita bertemu dengan banyak pikiran, banyak pengalaman, banyak cerita, dan banyak kehidupan yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Kita bisa mengenal sejarah tanpa hidup di masa lalu. Kita bisa mengenal pemikiran seseorang tanpa pernah duduk bersamanya. Kita bisa memahami pengalaman orang lain meskipun tidak pernah menjalani kehidupan yang sama.

Itulah menariknya membaca. Sebuah buku mungkin hanya memiliki ratusan halaman, tetapi dari halaman-halaman itu kita bisa berjalan sangat jauh.

Saya pernah membaca sebuah tulisan tentang orang tua. Saya tidak lagi ingat persis judul bukunya atau siapa penulisnya. Tetapi saya masih ingat perasaan yang muncul ketika membacanya. Mata saya berkaca-kaca. Ada sesuatu yang sampai kepada saya, bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai perasaan.

Dari sana saya belajar bahwa membaca tidak selalu membuat kita menjadi lebih tahu. Kadang membaca justru membuat kita menjadi lebih peka.

Dengan membaca, kita mengenal dunia. Dengan membaca pula, kita mulai mengenal diri sendiri.


Menulis untuk Menyampaikan Pikiran

Lalu, setelah membaca, apa yang kita lakukan dengan semua pengetahuan dan pengalaman itu?

Salah satunya adalah menulis.

Membaca memberi kita banyak hal untuk dipikirkan. Menulis membantu kita menyusun apa yang ada di pikiran. Apa yang sebelumnya hanya menjadi keresahan dapat dirangkai menjadi gagasan. Apa yang sebelumnya hanya menjadi pembicaraan dapat disimpan menjadi tulisan.

Saya pernah menulis sebuah buku berjudul Aku Mahasiswa Maka Aku Bergerak. Bagi saya, menulis buku tersebut bukan hanya tentang menyusun kata. Ada gagasan, keresahan, pengalaman, dan harapan yang ingin saya titipkan melalui tulisan.

Sebab, tidak semua hal dapat selesai hanya dengan dibicarakan. Ada hal-hal yang perlu dituliskan agar dapat dibaca kembali. Ada gagasan yang perlu dicatat agar tidak hilang. Ada pengalaman yang layak dibagikan agar orang lain bisa belajar.

Menulis juga bukan soal harus selalu hebat. Tidak semua tulisan harus menjadi tulisan besar. Tidak semua tulisan harus mendapatkan banyak pembaca. Kadang sebuah tulisan cukup menjadi catatan kecil tentang apa yang kita pikirkan hari ini. Tetapi dari catatan kecil itu, bisa saja lahir gagasan yang lebih besar.

Dengan membaca, kita mengenal dunia. Dengan menulis, kita mengenalkan pikiran kepada dunia.

Berdiskusi untuk Saling Memahami

Mahasiswa juga tidak boleh jauh dari diskusi. Sebab, tidak semua pengetahuan dapat kita dapatkan hanya dengan membaca buku atau mendengarkan dosen di dalam kelas.

Saya pernah mengikuti Diskusi Bulanan Filsafat di PMII Rayon Abdurrahman Wahid. Beberapa waktu kemudian, pembahasan yang sama muncul dalam perkuliahan. Saat itu saya merasa lebih mudah memahami materi karena sebelumnya sudah pernah mendengarnya dalam forum diskusi.

Pengalaman sederhana itu membuat saya sadar bahwa ruang belajar sebenarnya ada di mana-mana. Kelas adalah ruang belajar. Buku adalah ruang belajar. Organisasi adalah ruang belajar. Dan diskusi juga merupakan ruang belajar.

Di dalam diskusi, kita bertemu dengan orang yang memiliki pengalaman dan cara berpikir yang berbeda. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Ada yang bertanya, ada yang menjawab. Ada yang menyampaikan pendapat dengan tegas, ada pula yang memilih mendengarkan.

Di situlah kita belajar bahwa berbeda pikiran tidak berarti harus bermusuhan.

Diskusi bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling pintar. Diskusi juga bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling benar. Diskusi adalah kesempatan untuk saling mendengar, saling bertanya, dan saling belajar.

Sebab, terkadang kita tidak membutuhkan orang lain untuk mengubah pendapat kita. Kita hanya perlu mendengarkan agar tahu mengapa orang lain memiliki pendapat yang berbeda.

Membaca membuat kita tahu. Berdiskusi membuat kita memahami. Dan dari memahami itulah kita belajar menghargai manusia.

Aksi untuk Membawa Gagasan

Setelah membaca, menulis, dan berdiskusi, ada satu hal lagi yang tidak kalah penting: aksi.

Aksi sering kali hanya dipahami sebagai demonstrasi atau turun ke jalan. Padahal, aksi memiliki makna yang lebih luas. Mengajar adalah aksi. Mengabdi adalah aksi. Membantu orang lain adalah aksi. Melakukan advokasi adalah aksi. Menulis juga bisa menjadi aksi. Bahkan keberanian untuk mengambil peran ketika orang lain memilih diam pun merupakan sebuah aksi.

Pengetahuan yang kita miliki akan lebih berarti ketika kita gunakan untuk melakukan sesuatu.

Kita membaca agar tahu persoalan. Kita menulis agar gagasan tidak hilang. Kita berdiskusi agar pikiran tidak berjalan sendirian. Setelah itu, kita bergerak agar apa yang kita pikirkan dapat dirasakan manfaatnya. Sebab, gagasan yang baik akan menjadi lebih berarti ketika ia sampai kepada kehidupan.

Aksi tidak selalu harus besar. Tidak harus menunggu menjadi pejabat, pemimpin organisasi, atau orang terkenal. Kadang aksi dimulai dari hal sederhana: membantu teman, mengajar anak-anak, mendampingi masyarakat, membuat kegiatan, menyampaikan kritik, atau melakukan sesuatu yang menurut kita memang perlu dilakukan.

Empat Tradisi yang Saling Berkaitan: Baca, Tulis, Diskusi, Aksi

Kalau kita perhatikan, membaca, menulis, berdiskusi, dan aksi sebenarnya bukan empat hal yang berdiri sendiri. Keempatnya saling berhubungan.

Membaca melahirkan pengetahuan. Pengetahuan melahirkan pikiran. Pikiran kemudian dapat dituangkan melalui tulisan. Tulisan dapat dibawa ke ruang diskusi. Dari diskusi, lahir pemahaman dan gagasan baru. Setelah itu, gagasan dibawa ke kehidupan melalui aksi.

Setelah melakukan aksi, kita kembali menemukan pengalaman dan persoalan baru. Dari sana, kita kembali membaca. Begitu seterusnya. Membaca, berpikir, menulis, berdiskusi, dan bergerak menjadi sebuah siklus yang terus berjalan.

Karena itu, mahasiswa tidak harus memilih hanya menjadi pembaca, hanya menjadi penulis, hanya menjadi orang yang suka berdiskusi, atau hanya menjadi orang yang aktif bergerak. Keempatnya justru dapat saling melengkapi.

Baca untuk tahu. Tulis untuk berbagi. Diskusi untuk memahami. Aksi untuk mengabdi.

Ada satu kalimat yang terus saya pegang:

Aku mahasiswa, maka aku membaca. Aku membaca, maka aku berpikir. Aku berpikir, maka aku menulis. Aku menulis, maka aku berdiskusi. Aku berdiskusi, maka aku bergerak. Aku bergerak, maka aku ada. Aku ada dan terus berlipat ganda.


Berlipat ganda bukan berarti ingin menjadi paling banyak, bukan pula soal mengejar jumlah. Berlipat ganda berarti kesadaran yang kita miliki tidak berhenti pada diri sendiri.

Satu orang membaca, lalu mengajak orang lain membaca. Satu orang menulis, lalu membuat orang lain berani menulis. Satu ruang diskusi melahirkan ruang diskusi berikutnya. Satu gerakan melahirkan gerakan yang lain.

Dari satu orang menjadi dua, dari dua menjadi sepuluh. Dari sepuluh menjadi seratus. Begitulah sebuah tradisi bertahan. Bukan karena banyak orang membicarakannya, tetapi karena ada orang yang mau melakukannya.

Menjadi Mahasiswa

Setiap mahasiswa tentu memiliki jalan yang berbeda. Ada yang ingin menjadi guru, penulis, pengusaha, peneliti, birokrat, pekerja profesional, politisi, atau memilih jalan lain yang mungkin belum pernah kita bayangkan.

Tidak ada satu jalan yang harus dilalui semua mahasiswa. Ada mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan. Ada yang aktif di organisasi, ada yang sibuk dengan penelitian. Ada yang bekerja sambil kuliah, ada yang aktif di masyarakat. Ada pula yang memilih fokus menyelesaikan perkuliahan.

Semua memiliki pilihan masing-masing.

Namun, apa pun jalan yang dipilih, saya kira mahasiswa tetap perlu memiliki ruang untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan melakukan sesuatu bagi lingkungan di sekitarnya.

Sebab, empat tradisi itu bukan milik organisasi tertentu. Bukan pula milik mahasiswa yang suka demonstrasi saja. Empat tradisi itu adalah bagian dari cara kita belajar sebagai mahasiswa.

  • Kita membaca agar tidak mudah percaya.
  • Kita menulis agar tidak hanya pandai berbicara.
  • Kita berdiskusi agar tidak merasa paling benar sendiri.
  • Kita beraksi agar pengetahuan yang kita miliki tidak hanya berguna bagi diri sendiri.


Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Bukan hanya tentang lulus tepat waktu. Bukan pula hanya tentang mendapatkan pekerjaan setelah wisuda.

Ada proses panjang yang berlangsung selama kita berada di bangku kuliah. Ada buku yang kita baca, tulisan yang kita hasilkan, perdebatan yang kita lalui, orang-orang yang kita temui, dan tindakan yang pernah kita lakukan.

Semua itu akan menjadi bagian dari perjalanan kita. Maka, jika suatu hari seseorang bertanya, “Apa artinya menjadi mahasiswa?” Mungkin jawabannya tidak perlu terlalu rumit.

Baca. Tulis. Diskusi. Aksi.

Ngaliyan, 01 Agustus 2024

Penulis: Muhammad Novan Heromando
Editor: Mushonifin

Kategori Terkait:

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN UNTUKMU

TERKINI LAINNYA

Halaman 3 dari 4