Pendidikan & Budaya

Sambil Menyusui dan Mengasuh Tiga Anak, Lailiyah Raih Gelar Doktor di UIN Walisongo

Penulis: Mushonifin
Bagikan
Sambil Menyusui dan Mengasuh Tiga Anak, Lailiyah Raih Gelar Doktor di UIN Walisongo
Sambil Menyusui dan Mengasuh Tiga Anak, Lailiyah Raih Gelar Doktor di UIN Walisongo

KABARSAHABAT ID – Gelar doktor tidak datang dengan mudah bagi Siti Lailiyah. Di balik keberhasilannya menyelesaikan pendidikan S3 Studi Islam di UIN Walisongo Semarang, ada cerita tentang seorang ibu yang harus membagi waktu antara ruang kuliah, pekerjaan, penelitian, dan tiga anak yang masih membutuhkan perhatian.

Bahkan, ketika menjalani pendidikan doktoral, salah satu buah hatinya masih bayi.

Situasi itu membuat aktivitas kuliah Lailiyah berbeda dari mahasiswa pada umumnya. Ia harus meninggalkan bayi ketika mengikuti perkuliahan, memompa ASI di sela aktivitas akademik, hingga membawa sang buah hati ketika harus menginap karena jadwal kuliah dimulai sejak pagi.

"Kuliah doktor ketika punya bayi perlu perjuangan lebih, terutama saat harus meninggalkan bayi saat kuliah, kuliah sambil pumping ASI. Belum lagi saat harus menginap karena masuk pagi, mau tidak mau anak bayi diajak serta," ungkap Lailiyah.

Perempuan yang juga dikenal sebagai penghafal Al-Qur'an itu akhirnya mampu melewati seluruh proses tersebut. Dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang, Senin (28/9/2026), disertasinya dinyatakan lulus.

Lailiyah pun resmi menyandang gelar doktor bidang Studi Islam dan menjadi doktor ke-453 yang diluluskan UIN Walisongo.

Namun, bagi Lailiyah, menyelesaikan pendidikan bukan sekadar persoalan mengejar gelar. Ada tanggung jawab lain yang tetap harus dijalankan di tengah perjalanan akademiknya.

Ia merupakan dosen tetap Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo. Di rumah, ia juga berperan sebagai istri dan ibu bagi tiga anak yang masih kecil.

Ketika memasuki tahap penyusunan disertasi, tantangan membagi waktu semakin besar. Ia harus menjalankan tugas sebagai pengajar sekaligus menyelesaikan penelitian, tanpa meninggalkan kewajibannya mendampingi keluarga.

"Mengerjakan disertasi dengan dobel peran, mahasiswi S-3, wanita karier yang mengajar di UNSIQ, menjadi istri, dan seorang ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil," katanya.

Menurut Lailiyah, menjadi ibu sekaligus mahasiswa doktoral menuntut kemampuan mengatur waktu secara ketat. Ia tetap berusaha memberikan perhatian kepada anak-anak meski kesibukan akademik terus berjalan.

"Sambil menyelesaikan disertasi tetap harus meluangkan waktu untuk anak-anak," ujarnya.

Anak Menjadi Bagian dari Perjalanan Akademik

Di tengah perjuangannya menyelesaikan disertasi, Lailiyah juga tidak melepaskan perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya.

Anak pertamanya yang kini berusia 9 tahun dan duduk di kelas 4 SD bahkan telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an 30 juz.

Capaian tersebut justru membuat Lailiyah merasa memiliki tanggung jawab baru untuk terus mendampingi sang anak menjaga hafalannya.

"Ini menjadi PR besar saya untuk terus membersamai anak agar lebih giat dalam murojaah menjaga hafalannya, karena masih kecil jadi ibu yang mengatur waktu sang anak," katanya.

Bagi Lailiyah, keberhasilan akademik tidak seharusnya membuat peran sebagai ibu terabaikan. Karena itu, penyelesaian disertasi harus berjalan beriringan dengan pendampingan terhadap anak-anak.

Menariknya, ia juga tidak memasang target tinggi selama menjalani pendidikan S3.

"Saat kuliah S-3 tidak berharap lebih selain menyelesaikan kuliah dan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat," tuturnya.

Sikap tersebut berbeda dengan pencapaiannya ketika menempuh pendidikan sebelumnya. Pada jenjang S1 dan S2, Lailiyah tercatat sebagai wisudawan terbaik.

Saat S1, ia meraih IPK 3,95 dan menyusun skripsi menggunakan bahasa Arab meski berasal dari Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Sementara saat menempuh S2, ia kembali menjadi wisudawan terbaik dengan IPK tinggi dan menyelesaikan hafalan Al-Qur'an.

"Dulu waktu kuliah S-1 dan S-2 selalu menjadi wisudawan terbaik. S-1 wisudawan terbaik dengan IPK 3,95 dan menulis skripsi memakai bahasa Arab, padahal prodi saya PAI. Kuliah S-2 wisudawan terbaik dengan IPK tinggi dan hafal Al-Qur'an," ungkapnya.

Namun, memasuki jenjang doktoral, ia memilih untuk tidak membebani diri dengan target prestasi.

"Untuk S-3 tidak berharap banyak, yang penting bisa selesai dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah," imbuhnya.

Meneliti Cara Sekolah Menanamkan Moderasi Beragama

Di balik perjuangan tersebut, Lailiyah menyelesaikan penelitian yang berfokus pada pendidikan dan moderasi beragama.

Ia mempertahankan disertasi berjudul "Penerapan Eco-Sosio-Pedagogis dalam Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Wonosobo."

Penelitian tersebut mengkaji bagaimana nilai-nilai moderasi beragama ditanamkan kepada peserta didik melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sejumlah sekolah dasar negeri di Kabupaten Wonosobo.

Lailiyah menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus multisitus. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen dengan melibatkan kepala sekolah, guru PAI, guru kelas, siswa, orang tua, serta pihak terkait lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter moderat tidak hanya terjadi melalui pembelajaran formal di ruang kelas.

Pembiasaan, keteladanan guru, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, hingga interaksi sosial turut berperan dalam membentuk sikap peserta didik.

Guru Pendidikan Agama Islam juga memiliki peran penting melalui pembelajaran yang dialogis, reflektif, kontekstual, partisipatif, serta mengedepankan keteladanan.

Dari penelitian tersebut, Lailiyah menghasilkan Model Eco-Sosio-Pedagogis Internalisasi Moderasi Beragama melalui Pendidikan Agama Islam (ESPIMB-PAI).

Model tersebut menempatkan pembentukan karakter moderat sebagai proses yang melibatkan banyak lingkungan sekaligus. Tidak hanya sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat.

Resmi Menjadi Doktor ke-453 UIN Walisongo

Dalam sidang promosi doktor, Lailiyah diuji oleh tim akademik UIN Walisongo. Sidang dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. sebagai ketua sidang sekaligus penguji, dengan Prof. Dr. H. Ikhrom, M.Ag. sebagai sekretaris sidang dan penguji.

Promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed., St., didampingi ko-promotor Dr. H. Mustopa, M.Ag.

Sementara penguji lainnya terdiri dari Dr. Hj. Imroatul Azizah, M.Ag. sebagai penguji eksternal, Prof. Dr. Syamsul Ma'arif, M.Ag., Dr. Nur Khoiri, M.Ag., dan Dr. Dwi Istiyani, M.Ag.

Setelah melalui proses sidang, disertasi Lailiyah dinyatakan memenuhi persyaratan akademik untuk memperoleh gelar doktor.

"Disertasi yang bersangkutan dinyatakan lulus. Kepadanya diberikan gelar doktor dalam bidang Studi Islam sebagai doktor ke-453 yang telah diluluskan UIN Walisongo," kata Musahadi.

Musahadi juga berpesan agar gelar yang diperoleh Lailiyah diikuti tanggung jawab untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dan menjaga nama baik almamater.

"Tolong jaga nama baik almamater. Jika menyebarkan kebaikan, maka UIN Walisongo akan kebagian bau harumnya," pesannya.

Ketika Pendidikan Ibu Menjadi Investasi Keluarga

Perjalanan Lailiyah mendapat perhatian dari Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag.

Menurut Muhyar, menyelesaikan pendidikan doktoral sembari menjalankan tanggung jawab sebagai dosen, istri, dan ibu tiga anak membutuhkan kemampuan membagi waktu yang tidak sederhana.

Terlebih, selama proses pendidikan, Lailiyah tetap menjalankan perannya di keluarga dan menjaga hafalan Al-Qur'an.

"Saya tahu, itu tidak mudah. Itu prestasi yang tidak semua orang mampu mencapainya. Untuk itu, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Dr. Lailiyah dan UNSIQ Wonosobo, tempat Dr. Lailiyah mengabdi," ujarnya.

Ia berharap perjalanan akademik Lailiyah dapat memberikan manfaat lebih luas, terutama bagi dunia pendidikan dan masyarakat.

"Semoga prestasinya membawa kemajuan bersama dan menginspirasi para ibu lainnya," kata Muhyar.

Bagi Lailiyah, gelar doktor yang kini disandangnya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang mempertemukan dunia akademik, pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Di tengah jadwal kuliah, penelitian, mengajar, mengasuh anak, hingga memompa ASI, ia akhirnya membuktikan bahwa perjalanan pendidikan dapat terus berlangsung tanpa harus meninggalkan peran keluarga.

Penulis: Mushonifin
Editor: mushonifin

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Berita Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Halaman 2 dari 19
← 1 2 3 →