KABARSAHABAT.ID — Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Abdurrahman Wahid Komisariat UIN Walisongo Semarang Tabur bunga dalam refleksi “September Hitam” di Landmark UIN Walisongo Semarang. menggelar Diskusi Refleksi dan Tabur Bunga bertajuk “September Hitam: Perjalanan Pincang Keadilan” di Landmark UIN Walisongo Semarang, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi terhadap berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Indonesia, khususnya yang berlangsung pada bulan September.

“Bulan September adalah bulan nestapa, di bulan ini terjadi banyak rentetan tragedi pelanggaran HAM. Tahun 1984 tragedi Tanjung Priok, tragedi Semanggi 1999, pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir pada 2004, pembunuhan terhadap Salim Kancil 2015, Reformasi Dikorupsi pada 2019, dan masih banyak tragedi pelanggaran HAM yang tidak tercatat,” jelasnya.
Gilang juga menyoroti pola berbagai peristiwa tersebut yang menurutnya menunjukkan persoalan dalam perlindungan terhadap rakyat dan penegakan keadilan. Ia mendorong mahasiswa untuk terus mengkaji sejarah berbagai tragedi ketidakadilan agar tidak melupakan pengalaman masa lalu.
“Beberapa pola tragedi di bulan ini menunjukkan betapa ketidakseriusannya negara dalam melindungi rakyat dan menghakimi pelanggar HAM. Sebagai mahasiswa khususnya, seharusnya terus mengulik dan mengkaji sejarah tragedi-tragedi ketidakadilan seperti ini, agar tidak dibodohi oleh negara,” paparnya.
Sementara itu, Ahmad Alfani Hasan dalam paparannya menyoroti relasi negara dengan hak-hak rakyat. Ia menyebut terdapat sejumlah tindakan negara yang dinilainya merampas hak rakyat, membungkam suara kritis, hingga membatasi ruang demokrasi.
“Negara ini mencoba menjadi seperti Tuhan dengan merampas hak-hak rakyat, membungkam, membunuh para aktivis, serta membatasi demokrasi terhadap rakyat sendiri,” ungkapnya.
Alfani juga mendorong mahasiswa untuk menjadikan tulisan sebagai salah satu bentuk perjuangan. Menurutnya, perlawanan tidak selalu harus dilakukan melalui aksi di jalan, tetapi juga dapat dilakukan melalui gagasan dan tulisan.
“Perlawanan tidak senantiasa harus turun ke jalan, melainkan bisa dengan tulisan, dan juga sejarah yang ada itu karena tulisan, gagasan, serta ide-idenya,” pungkasnya.
