Sunday, 20 September 2026

Trans Jateng Didorong Jadi Tulang Punggung Transportasi Hijau Jawa Tengah, Target 209 Ribu Penumpang per Hari pada 2045

Penulis: Mushonifin 01 September 2026, 12:22 WIB
Bus Trans Jateng
Bus Trans Jateng



KABARSAHABAT ID - Jawa Tengah tengah menghadapi tantangan serius di sektor transportasi. Jumlah kendaraan pribadi yang terus meningkat tidak hanya memicu kemacetan, tetapi juga memperbesar emisi gas rumah kaca dan risiko kecelakaan lalu lintas.

Di tengah kondisi tersebut, keberadaan Trans Jateng dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus membangun sistem transportasi publik yang lebih hijau, terjangkau, aman, dan terintegrasi.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Koordinator Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), **Prof Djoko Setijowarno**, mengatakan pengembangan transportasi publik di Jawa Tengah harus diarahkan tidak sekadar menambah jumlah bus, tetapi membangun jaringan yang mampu membuat masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.

Menurut Djoko, persoalan transportasi Jawa Tengah sudah semakin kompleks. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah kendaraan pribadi di Jawa Tengah mencapai sekitar 21 juta unit pada 2024 dan 89 persen di antaranya merupakan sepeda motor.

"Trans Jateng harus menjadi bagian penting dari strategi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Kuncinya bukan hanya menyediakan bus, tetapi memastikan masyarakat mendapatkan layanan yang aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu, dan terintegrasi," ujar Prof Djoko.

Kondisi tersebut semakin penting mengingat sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan emisi dari pembakaran bahan bakar transportasi di Jawa Tengah meningkat signifikan pada periode 2010 hingga 2023.

Di sisi lain, kepemilikan kendaraan pribadi masyarakat juga masih sangat tinggi. Studi Institute for Essential Services Reform (IESR) 2026 menunjukkan 94,5 persen responden di Jawa Tengah memiliki sedikitnya satu kendaraan pribadi.

Ketergantungan tersebut berbanding lurus dengan pilihan moda perjalanan. Sepeda motor masih menjadi moda utama dengan proporsi 65,3 persen. Mobil pribadi mencapai 16,4 persen, sedangkan transportasi umum baru 11,6 persen.

Menurut Djoko, angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar pemerintah bukan hanya menyediakan transportasi umum, melainkan mengubah perilaku perjalanan masyarakat.

"Kalau ingin terjadi peralihan moda, pelayanan transportasi umum harus mampu memberikan alasan yang kuat kepada masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi. Tarif murah penting, tetapi kepastian waktu, keselamatan, kenyamanan, dan keterjangkauan jaringan juga menentukan," katanya.

### Trans Jateng Layani Hampir 6 Juta Penumpang

Kinerja Trans Jateng sendiri menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah 2026, layanan tersebut saat ini didukung 115 unit bus dan 568 petugas.

Jaringan Trans Jateng memiliki 543 titik naik-turun penumpang yang terdiri atas 352 halte dan 191 titik pemberhentian bus. Sistem pelayanan juga didukung 130 perangkat e-ticketing.

Dengan jam operasional mulai pukul 05.00 hingga 20.50 WIB, tujuh koridor Trans Jateng menempuh total perjalanan sekitar 650 kilometer dengan 768 trip setiap hari.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Trans Jateng telah mengangkut 5.881.767 penumpang atau rata-rata 27.668 penumpang per hari. Tingkat keterisian armada atau load factor bahkan mencapai 91,19 persen.

"Load factor yang tinggi menunjukkan bahwa ketika layanan transportasi publik tersedia dengan tarif yang terjangkau dan rute yang dibutuhkan masyarakat, sebenarnya ada pasar yang besar," kata Djoko.

Saat ini tujuh koridor Trans Jateng telah menjangkau lima dari 10 Wilayah Pengembangan di Jawa Tengah. Jaringan tersebut meliputi kawasan Kedungsepur dengan tiga koridor, Subosukawonosraten dua koridor, serta Cibalingmas dan Gelangmanggung-Keburejo masing-masing satu koridor.

Tujuh koridor tersebut melayani rute Semarang-Bawen, Semarang-Kendal, Semarang-Grobogan, Purwokerto-Purbalingga, Magelang-Purworejo, Surakarta-Sragen, serta Surakarta-Wonogiri.

### Tarif Rp5.000 Jadi Daya Tarik

Salah satu kekuatan Trans Jateng adalah tarif yang relatif murah. Berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/124 Tahun 2025, tarif penumpang umum ditetapkan Rp5.000.

Sementara itu, pelajar, veteran, buruh, lansia, dan penyandang disabilitas mendapatkan tarif khusus Rp1.000.

Kebijakan tarif tersebut dinilai penting karena biaya transportasi menjadi salah satu beban pengeluaran rumah tangga. Terlebih, 46 persen responden dalam studi IESR 2026 memiliki pendapatan di bawah Rp3 juta per bulan.

"Transportasi publik di Jawa Tengah harus tetap terjangkau. Jangan sampai ketika kualitas layanan meningkat, tarif justru membuat kelompok berpendapatan rendah kehilangan akses," jelas Djoko.

Namun, menurutnya, keberlanjutan Trans Jateng juga membutuhkan skema pendanaan yang lebih kuat. Ketergantungan pada subsidi APBD sebagai layanan Public Service Obligation (PSO) harus diimbangi dengan inovasi pembiayaan.

Skema seperti pemanfaatan pendapatan non-tarif, iklan, fasilitas halte pintar, CSR, maupun kemungkinan mekanisme tax-split perlu dikaji secara serius dengan tetap memperhatikan regulasi.

Rencana pengelolaan Trans Jateng menuju pola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) juga harus diarahkan pada peningkatan efisiensi tanpa menghilangkan prinsip pelayanan publik.

### Target 209 Ribu Penumpang per Hari pada 2045

Pengembangan Trans Jateng tidak berhenti pada tujuh koridor. Pemodelan IESR 2026 memproyeksikan jaringan tersebut mampu melayani hingga 209 ribu penumpang per hari pada 2045.

Angka itu sekitar 7,3 kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.

Untuk mencapai target tersebut, jaringan Trans Jateng dirancang berkembang hingga 24 rute yang mencakup kawasan aglomerasi di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Lima rute baru direncanakan dikembangkan secara bertahap hingga 2030. Pada 2027, pemerintah merencanakan rute Magelang-Terminal Borobudur hingga Temanggung-Terminal Madureso yang diproyeksikan memiliki potensi 4.516 penumpang per hari.

Pada 2028 disiapkan rute Jepara-Kudus-Pati dengan potensi 5.874 penumpang per hari serta Batang-Terminal Banyuputih-Pekalongan dengan estimasi 811 penumpang per hari.

Kemudian pada 2029 direncanakan rute Purwokerto-Terminal Bulupitu-Cilacap dengan potensi 4.472 penumpang per hari. Setahun berikutnya, rute Semarang-Demak diproyeksikan mampu melayani hingga 7.111 penumpang per hari.

Pengembangan terus dilanjutkan pada periode 2030-2035 dengan empat rute baru, termasuk Boyolali-Kartasura-Karanganyar yang diproyeksikan menjadi salah satu koridor dengan permintaan tinggi, mencapai 8.092 penumpang per hari.

Pada periode 2035-2040, jaringan akan kembali diperluas dengan empat rute, termasuk koridor Brebes-Tegal-Pemalang yang diproyeksikan memiliki permintaan hingga 13.797 penumpang per hari.

Sementara pada 2040-2045, empat rute baru kembali disiapkan, termasuk Kota Tegal-Brebes melalui Terminal Slawi yang diperkirakan melayani 13.729 penumpang per hari.

### Integrasi Jadi Pekerjaan Rumah

Prof Djoko menilai perluasan rute harus berjalan beriringan dengan integrasi antarmoda. Tanpa integrasi first mile dan last mile, masyarakat tetap akan kesulitan menggunakan transportasi publik untuk mencapai halte maupun melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir.

"Jangan hanya membangun koridor. Harus dipikirkan bagaimana penumpang dari rumah bisa sampai ke halte dan dari halte bisa mencapai tujuan akhirnya. Di sinilah feeder, angkutan kota, angkutan pedesaan, dan moda lainnya harus terintegrasi," ujarnya.

Persoalan lain adalah sebagian besar koridor Trans Jateng masih menggunakan jalur lalu lintas campuran. Kondisi tersebut membuat ketepatan waktu bus sangat dipengaruhi kemacetan.

Kualitas halte, jarak antarhalte, sistem informasi penumpang berbasis real time, kepastian headway, serta kapasitas armada pada jam sibuk juga masih perlu dibenahi.

Menurut Djoko, peningkatan kualitas layanan menjadi syarat utama agar Trans Jateng tidak hanya menjadi pilihan bagi masyarakat yang memang tidak memiliki kendaraan, tetapi juga menarik pengguna kendaraan pribadi.

"Target 209 ribu penumpang per hari pada 2045 bukan sesuatu yang mustahil. Tetapi harus ada konsistensi kebijakan. Transportasi publik harus diperlakukan sebagai investasi pelayanan publik, bukan sekadar proyek pengadaan bus," tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan Trans Jateng pada akhirnya akan diukur dari seberapa besar kemampuannya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menekan emisi, meningkatkan keselamatan, sekaligus memberikan akses mobilitas yang terjangkau bagi masyarakat.

"Kalau jaringan terintegrasi, tarif terjangkau, pelayanan pasti dan nyaman, masyarakat akan datang dengan sendirinya. Yang harus dibangun adalah sistemnya secara utuh," pungkas Prof Djoko Setijowarno.

Penulis: Mushonifin
Editor: Mushonifin

Kategori Terkait:

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN UNTUKMU

TERKINI LAINNYA

Halaman 1 dari 4
1 2 3 Berikutnya →