Datang dengan Banyak Pertanyaan
Empat tahun yang lalu, saya datang ke Ngaliyan sebagai seorang mahasiswa baru.
Namanya mahasiswa baru, tentu saja ada rasa bahagia dan bangga.
Tetapi di balik itu semua, ada rasa takut, bingung, dan pertanyaan yang waktu itu belum bisa saya jawab: sebenarnya saya akan menjadi apa setelah kuliah?
Pada 31 Juli 2022, saya datang ke Ngaliyan, Semarang.
Saya belum benar-benar mengenal kampus, belum mengenal lingkungan, bahkan belum tahu bagaimana perjalanan empat tahun ke depan pada akhirnya akan membawa saya ke mana.
Satu Ruang Diskusi yang Membawa ke Banyak Hal
Malam itu saya tidak langsung tidur.
Saya justru pergi sendirian mengikuti sebuah Diskusi Filsafat di Warung Segitiga Emas.
Bukan karena ada teman yang mengajak.
Saya punya cara sederhana waktu itu untuk mencari tahu kegiatan mahasiswa di sekitar kampus: membuka Instagram kampus, mencari akun-akun organisasi mahasiswa, melihat unggahan kegiatan, kemudian kalau menemukan pamflet diskusi yang sekiranya menarik, saya coba datang.
Malam itu topiknya tentang Filsafat.
Sejujurnya, banyak yang belum saya ketahui.
Duduk di antara orang-orang yang sedang berbicara tentang filsafat, dalam hati saya hanya berpikir, “Ini orang-orang sebenarnya sedang ngomong apa, sih?”
Saya bingung, tetapi juga tertarik.
Saya hanya tahu satu hal: Filsafat adalah mother of knowledge, sumber dari ilmu pengetahuan.
Maka malam itu saya datang bukan karena merasa sudah pintar, tetapi justru karena sadar bahwa saya belum tahu apa-apa.
Saya lebih banyak mengamati.
Siapa narasumbernya, siapa yang membuat kegiatan, siapa pesertanya, dan bagaimana orang-orang di dalamnya berdiskusi.
Saya belum tahu bahwa satu malam itu nantinya akan membawa saya pada banyak hal.
Setelah diskusi selesai, saya berkenalan dengan dua mahasiswa baru lainnya, Kang Masum dan Kang Radit.
Kami ngobrol tentang kehidupan sebagai mahasiswa baru, tempat tinggal, dan banyak hal lain.
Dari obrolan sederhana itu saya kemudian mengetahui sebuah Pondok Pesantren Mahasiswa di Tugurejo, Tugu, Kota Semarang: Pondok Pesantren Mahasiswa Al Firdausiy.
Mereka bercerita bahwa pondok tersebut cukup terjangkau, nyaman, fasilitasnya mendukung, dan banyak santri mahasiswa yang aktif dalam organisasi.
Saya yang saat itu memang sedang mencari-cari tempat tinggal akhirnya mulai mempertimbangkannya.
Sebelumnya saya memang sengaja ngekos sekitar satu bulan untuk beradaptasi dengan lingkungan Semarang.
Saya belum tahu setelah itu akan tinggal di kos, kontrakan, pondok pesantren, sekretariat organisasi atau bahkan menjadi marbot di masjid atau musala.
Saya hanya tahu satu hal: saya belum mampu mencari pemasukan sendiri, karena itu saya harus belajar mengatur uang saku dari orang tua.
Saya ingin tetap fokus kuliah dan belajar, tetapi juga ingin aktif berorganisasi dan mengaji (baik mengaji Al-Qur'an ataupun Kitab Kuning).
Dari berbagai pilihan yang saya temukan, pondok pesantren mahasiswa menjadi salah satu alternatif pilihan yang paling masuk akal.
Apalagi biaya satu semester di sana kurang lebih setara dengan biaya kos satu bulan.
Lebih dari itu, pengasuhnya juga mendukung santri mahasiswa untuk aktif belajar dan berorganisasi.
Akhirnya, dari sebuah diskusi yang awalnya hanya saya datangi karena penasaran, saya menemukan tempat tinggal yang kemudian saya tempati sejak menjadi mahasiswa hingga mendapat gelar sarjana.
Barangkali memang begitulah kehidupan.
Kita sering kali tidak tahu sebuah pertemuan kecil akan membawa kita ke mana.
Hari-Hari Pertama Menjadi Mahasiswa
Beberapa hari kemudian, saya mulai menjalani Ospek Kampus Pengenalan Budaya dan Akademik Kemahasiswaan (PBAK).
Hari pertama, saya berangkat tepat setelah salat Subuh.
Saya menuju kos teman yang letaknya dekat dengan kampus, Kang Labib namanya.
Kami kemudian berjalan bersama menuju kampus.
Saya datang sekitar pukul lima pagi.
Masih ingat betul bagaimana rasanya menjadi mahasiswa baru waktu itu.
- Peci hitam.
- Pakaian hitam putih.
- Sepatu hitam.
- Co-card hijau sebagai identitas Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
- Kampus ramai oleh mahasiswa baru dan kakak-kakak panitia PBAK.
Secara fisik saya datang sendirian.
Tetapi saya tahu, sebentar lagi saya akan bertemu banyak orang.
Dan benar saja.
Sejak awal saya memang punya kebiasaan yang sampai sekarang masih saya lakukan ketika bertemu orang baru.
- Tanya nama.
- Tanya asal.
- Tanya sekolah.
- Tanya jurusan.
- Lalu, kalau obrolannya nyambung, minta nomor WhatsApp.
Waktu itu saya belum berpikir bahwa relasi adalah investasi jangka panjang untuk masa depan.
Saya hanya ingin punya banyak teman.
Mungkin ada sedikit rasa takut juga.
Takut dianggap sok asik dan sok akrab.
Takut dianggap terlalu percaya diri.
Tetapi saya tetap mencoba mengajak bicara siapa pun yang saya temui.
Sebab saya percaya, kita tidak pernah tahu seseorang yang hari ini duduk di sebelah kita kelak akan menjadi siapa.
Empat tahun kemudian, saya baru benar-benar memahami hal itu.
- Ada yang menjadi teman dekat.
- Ada yang menjadi partner berorganisasi.
- Ada yang menjadi tempat bertukar pikiran.
- Ada yang pernah membantu saya melewati masa sulit.
- Ada pula yang mempertemukan saya dengan pengalaman-pengalaman baru.
Hubungan yang dibangun ketika kita belum membutuhkan apa-apa terasa berbeda.
Kita berteman bukan karena kepentingan.
Kita berteman karena sama-sama sedang mencari tempat di sebuah dunia baru.
Mencoba Banyak Jalan
Sebagai mahasiswa baru, saya juga bukan orang yang langsung tahu ingin menjadi apa.
Saya punya banyak keinginan, tetapi belum tahu jalan menuju ke sana.
- Saya ingin belajar bahasa Inggris.
- Saya ingin membaca.
- Saya ingin menulis.
- Saya ingin berdiskusi.
- Saya ingin berorganisasi.
- Saya ingin bertemu banyak orang.
Tetapi saya belum punya gambaran yang benar-benar jelas tentang akan menjadi siapa saya setelah empat tahun.
Justru karena itulah saya mencoba banyak hal.
Dalam rangkaian PBAK, ketika ada promosi organisasi, komunitas, unit kegiatan mahasiswa, organisasi daerah, maupun perkumpulan lainnya, saya coba ikuti.
Saya pernah masuk dan mencoba berbagai ruang.
Bukan karena semuanya harus saya tekuni.
Saya hanya ingin mengenal.
Sebab bagi saya, menjadi mahasiswa baru adalah waktunya mencoba sebanyak-banyaknya hal sebelum menentukan mana yang benar-benar ingin dijalani.
- Ikuti dulu.
- Kenali dulu.
- Rasakan dulu.
- Setelah itu, pilihlah ruang yang membuat kita nyaman, berkembang, dan bahagia dalam menjalaninya.
Saya kira tidak semua mahasiswa harus mempunyai jalan yang sama.
Setiap orang datang ke kampus membawa latar belakang, kemampuan, keluarga, cita-cita, dan alasan yang berbeda.
Maka pilihan menjadi mahasiswa pun seharusnya tidak perlu seragam.
Ketika “Menurut Buku yang Saya Baca” Terdengar Keren
Ada satu hal lain yang saya rasakan ketika pertama menjadi mahasiswa, Saya minder.
Bukan karena saya merasa lebih rendah dari orang lain.
Saya minder karena waktu itu saya belum bisa berbahasa Inggris dengan baik.
Saya mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Dan saya tahu, kalau ingin berkembang, saya harus belajar lebih banyak.
Saat PBAK, saya melihat beberapa orang berbicara dengan penuh percaya diri.
Mereka bisa menyampaikan pendapat dengan terstruktur, mereka berani berbicara.
Dan yang paling membuat saya kagum adalah ketika seseorang berkata,
“Menurut buku yang saya baca… atau mengutip dari buku...”
Entah mengapa kalimat sederhana itu terdengar sangat keren bagi saya.
Saya ingin suatu hari bisa berbicara seperti itu.
Bukan sekadar berbicara banyak, tetapi mempunyai sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan di balik ucapan.
Mungkin dari sanalah keinginan saya untuk membaca semakin tumbuh.
Buku pertama yang berhasil saya lahap selama kuliah adalah Bumi Manusia.
Saya membacanya sekitar satu bulan.
Buku itu sebenarnya sudah saya kenal sejak masa pandemi.
Kakak saya yang juga mahasiswa dan aktivis memiliki buku tersebut.
Awalnya saya menonton film Bumi Manusia di laptopnya.
Setelah tahu bahwa film itu berasal dari novel, saya penasaran dan mulai membaca novelnya.
Saya juga mulai mencari tahu buku-buku yang dianggap penting untuk dibaca mahasiswa.
Dari sana saya pelan-pelan belajar.
Saya sadar bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mendapatkan gelar.
Ada dunia pengetahuan yang jauh lebih luas di luar ruang kelas.
Belajar Membaca Dunia
Saya termasuk orang yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Ketika masuk lingkungan baru, saya biasanya mengamati terlebih dahulu.
Bagaimana budaya di dalamnya.
Bagaimana orang-orang berbicara.
Siapa yang terlihat menonjol.
Siapa yang terlihat berisi.
Siapa yang terlihat menonjol tetapi ternyata belum punya isi.
Bahkan saya sering memperhatikan orang yang diam: apakah dia sedang mengamati, atau memang tidak tahu apa-apa.
Tipis sekali bedanya, Hehehe.
Tetapi setelah mulai nyaman, saya bisa berubah menjadi sangat aktif.
Mungkin itu juga yang kemudian membuat perjalanan kuliah saya menjadi begitu panjang ceritanya.
- Saya mencoba banyak ruang.
- Saya bertemu banyak orang.
- Saya belajar dari banyak karakter.
- Dan perlahan-lahan saya menemukan diri saya sendiri.
Ternyata Pulang Malam Bukan Berarti Bebas
Dulu saya mengira kebebasan menjadi mahasiswa adalah bisa pulang malam tanpa ada yang menyuruh pulang.
Ternyata saya benar.
Bahkan bukan hanya pulang malam, Kadang pulang pagi.
Bisa nongkrong sampai kapan saja.
Tidak ada lagi orang tua yang bertanya, “Jam segini kok belum pulang?”
Tetapi ternyata kebebasan dan kesepian itu berbeda tipis.
Ketika semuanya harus dilakukan sendiri, saya justru sering merindukan hal-hal sederhana dari rumah.
Rindu ketika pukul sepuluh malam ada WhatsApp dari orang tua yang menyuruh pulang.
Rindu dibangunkan untuk salat Subuh berjamaah.
Rindu sarapan yang sudah tersedia di meja.
Di perantauan, banyak hal harus dilakukan sendiri.
Tetapi saya beruntung.
Di tengah kesendirian itu, saya dipertemukan dengan banyak orang baik yang perlahan terasa seperti keluarga kedua.
Mungkin rumah bukan selalu tentang tempat.
Kadang rumah adalah tentang orang-orang yang membuat kita merasa tidak sendirian.
Kuliah Ada Waktunya, Kerja itu Selamanya
Saya juga ingin menyimpan satu bagian dari perjalanan ini untuk kedua orang tua saya.
Ibu Nanik dan Bapak Hakim.
Terima kasih karena sudah rela melepas saya pergi merantau untuk kuliah.
Terima kasih karena sudah membiayai, menasihati, mengingatkan, dan mendukung saya.
Bahkan ketika saya ingin mencari pekerjaan sampingan, orang tua justru meminta saya untuk fokus kuliah dan belajar saja.
Dari situlah saya merasa mempunyai tanggung jawab.
Kalau orang tua sudah meminta saya fokus belajar, rasanya sayang jika saya hanya datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang.
Saya ingin belajar lebih banyak.
Saya ingin aktif.
Saya ingin mengenal dunia mahasiswa dengan segala isinya.
Kakak kedua saya, Kak Ito, pernah mengatakan satu kalimat yang sampai sekarang saya ingat:
“Kuliah iku ono wayahe, kerjo iku selawase.”
Kuliah ada waktunya, bekerja itu selamanya.
Sementara kakak pertama saya, Kak Agis terus mendorong saya untuk belajar bahasa Inggris dan menjadi manusia internasional.
Setiap kali pulang dari merantau di laut dan bertemu saya, dia sering bertanya,
“Plan kamu ke depan bagaimana?”
“Kamu mau jadi apa?”
Kami juga sering berbicara menggunakan bahasa Inggris, meskipun kemampuan saya waktu itu masih jauh di bawahnya.
Dari percakapan-percakapan sederhana itu, saya mulai belajar menyusun rencana.
Mungkin saya belum tahu akan menjadi apa.
Tetapi setidaknya saya mulai tahu bahwa saya harus terus bergerak menuju sesuatu.
Kalau Bisa Bertemu Ero yang Dulu
Sekarang, ketika melihat foto-foto PBAK tahun 2022, kadang saya hanya bisa tersenyum. Kadang malah berkaca-kaca.
Mahasiswa baru yang ada di dalam foto itu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kepadanya selama empat tahun berikutnya.
- Dia belum tahu akan bertemu siapa.
- Belum tahu akan belajar apa.
- Belum tahu akan mengalami kegagalan apa.
- Belum tahu akan mendapatkan kebahagiaan apa.
- Belum tahu akan kehilangan apa.
- Belum tahu akan menjadi seperti apa.
Tetapi satu hal yang ingin saya katakan kepada anak muda di dalam foto itu adalah:
Kamu hebat.
Kamu orang baik.
Kamu pintar dan cerdas.
Dan kamu belum tahu bahwa kuliah tidak menjamin seseorang akan menjadi sukses atau berhasil.
Kuliah hanya memperbesar kesempatan kita untuk menjadi orang yang berhasil.
Kuliah memberi kita kesempatan untuk mengubah dan meng-upgrade cara berpikir.
Kampus itu Ibarat Warung Makan
Kita datang, lalu dihadapkan pada banyak pilihan lauk.
Kita bebas memilih, begitu pula kehidupan mahasiswa.
Kita bebas memilih ingin menjadi apa.
- Mau membaca atau tidak.
- Mau menulis atau tidak.
- Mau berdiskusi atau tidak.
- Mau berorganisasi atau tidak.
- Mau mencoba sesuatu yang baru atau tetap berada di tempat yang sama.
Tetapi setiap pilihan tentu mempunyai konsekuensinya.
Dan satu hal lagi yang baru saya pahami setelah melewati empat tahun:
jejaring pertemanan adalah investasi jangka panjang.
Orang-orang yang kita temui hari ini mungkin akan menjadi bagian penting dalam kehidupan kita bertahun-tahun kemudian.
Karena itu, kenalilah manusia dengan baik.
Bangun hubungan tanpa selalu bertanya apa keuntungan yang akan kita dapatkan.
Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana sebuah pertemuan akan membawa kita.
Bukan Ero yang Berubah
Empat tahun ternyata terasa sangat cepat.
Dulu saya datang sebagai mahasiswa baru dengan rasa takut, bingung, dan banyak ketidaktahuan.
Sekarang saya menoleh ke belakang dan menyadari bahwa saya tidak benar-benar berubah sendirian.
Bukan Ero yang berubah, tetapi banyak hal yang telah mengubah Ero.
- Orang-orang yang saya temui.
- Buku yang saya baca.
- Tempat yang saya kunjungi.
- Diskusi yang saya ikuti.
- Organisasi yang saya jalani.
- Kegagalan yang saya alami.
- Keluarga yang selalu mendukung.
- Lingkungan yang membentuk.
- Dan keputusan-keputusan kecil yang pada waktu itu terlihat biasa saja.
Semua itu perlahan membentuk cara saya berpikir.
Cara saya melihat manusia.
- Cara saya berteman.
- Cara saya menghadapi masalah.
- Cara saya berbicara dan mengambil keputusan.
- Cara saya membaca kehidupan.
Kalau hari ini saya bisa berdiri di titik ini, itu bukan karena sejak awal saya sudah tahu harus ke mana.
Justru karena selama perjalanan saya terus mencari.
Terus mencoba.
Terus belajar.
Dan terus bertemu dengan orang-orang yang mengubah saya.
Maka kalau suatu hari saya bisa kembali menemui diri saya yang memakai pakaian serba hitam putih, peci hitam, sepatu hitam, membawa ransel berisi buku, roti, dan tumbler itu, saya mungkin hanya akan berkata:
“Tenang. Jalani saja.”
“Kamu sudah berada di jalan yang benar.”
“Tetap eling lan waspada.”
“Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan.”
Sebab pada akhirnya, semua akan baik-baik saja.
Everything is gonna be okay and all is well.
Pare, Kediri
10 September 2026