Sunday, 20 September 2026

MAPABA PMII Rayon Ushuluddin Digelar, Dorong Kader Mu'taqid di Era Post-Truth

Penulis: Heromando 12 September 2026, 16:56 WIB
Peserta dan Panitia MAPABA PMII Rayon Ushuluddin berfoto bersama usai pembukaan kegiatan di Gedung NU Gunungpati, Semarang, Jumat (12/9/2026).
Peserta dan Panitia MAPABA PMII Rayon Ushuluddin berfoto bersama usai pembukaan kegiatan di Gedung NU Gunungpati, Semarang, Jumat (12/9/2026).

KABATRSAHABAT.ID — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ushuluddin menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) pada 11–13 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung NU Gunungpati tersebut mengangkat tema “Menghadirkan Kader Mutaqid di Era Post-Truth”.

MAPABA menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk mengenal nilai, tradisi, dan arah gerakan PMII.

Selain sebagai proses penerimaan anggota baru, kegiatan ini juga diarahkan untuk membentuk nalar kritis dan spiritual kader dalam menghadapi kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi.

Ketua Panitia Mapaba, Sahabat Rafly Dewanta Ginting, dalam sambutannya menyampaikan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung melalui materi yang disampaikan selama kegiatan.

Menurutnya, setiap pengalaman yang ditemui selama proses MAPABA juga dapat menjadi bagian dari pembelajaran bagi para peserta.

“Setiap rumah adalah pelajaran, setiap tempat adalah pelajaran, dan setiap waktu adalah pengajaran. Selamat mengikuti MAPABA,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PMII Rayon Ushuluddin Sahabati Evita Juniawati memberikan pesan kepada peserta agar mengikuti seluruh rangkaian MAPABA hingga selesai.

Ia menilai, proses yang dijalani selama menjadi bagian dari PMII akan memberikan pengalaman yang tidak dapat diperoleh secara instan.

“Selamat mengikuti Mapaba hingga selesai. Kalian akan tahu bagaimana PMII setelah seribu hari di dalamnya,” tuturnya.

Ia juga mengajak peserta untuk tidak menghindari kesulitan selama menjalani proses pengkaderan.

Menurutnya, kesulitan yang dihadapi saat ini dapat menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan di masa mendatang.

“Ambillah kesusahan hari ini untuk kemudahan hidupmu kelak. Jika ingin hidupmu sulit, maka ambillah kemudahan pada hari ini,” pesannya.

Presiden Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Asad Hasanudin, turut menyampaikan pentingnya prinsip “asah, asih, asuh” dalam proses kaderisasi.

Menurutnya, kader tidak hanya dituntut untuk mengembangkan kemampuan berpikir, tetapi juga membangun kepedulian dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan.

Ia menjelaskan bahwa proses mengasah nalar spiritual dapat dilakukan melalui kegiatan belajar.

Sementara itu, aspek mengasihi dapat diwujudkan melalui kebersamaan selama mengikuti MAPABA.

Adapun proses mengasuh dapat diwujudkan dengan mengimplementasikan pengalaman dan ilmu yang diperoleh selama proses kaderisasi.

“Bagaimana sahabat bisa mengasah nalar spiritual dengan belajar, bisa mengasihi selama Mapaba, dan bagaimana sahabat masuk di Ushuluddin. Ilmu, bakti, dan pengalaman harus bisa diimplementasikan. Apa yang didapat dari MAPABA jangan hanya berhenti di sini,” jelasnya.

Pesan serupa juga disampaikan Ketua Komisariat PMII UIN Walisongo, Sahabat M. Yusrul Rizalul Muna, yang berhalangan hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia berpesan agar peserta tetap memiliki semangat dalam menjalani proses dan memandang PMII dengan rasa cinta.

“Semangat berproses dan pandang PMII dengan cinta,” pesannya.

Ketua Pengurus Cabang (PC) PMII Kota Semarang Sahabat M. Afiq Nur Cahyo juga menegaskan bahwa MAPABA tidak semata-mata menjadi proses untuk mendapatkan status sebagai anggota baru.

Lebih dari itu, MAPABA menjadi tahap awal bagi mahasiswa untuk mulai memahami berbagai persoalan yang berkembang, baik dalam lingkup global maupun kehidupan bernegara.

Menurutnya, tema MAPABA tahun ini memiliki keterkaitan erat dengan kondisi masyarakat modern.

Kemudahan memperoleh informasi melalui berbagai media justru menghadirkan tantangan baru, yaitu sulitnya memastikan kebenaran informasi yang diterima.

“MAPABA bukan sekadar jadi anggota baru, tetapi Mapaba sebagai awal mahasiswa baru belajar isu global dan negara. Kalau kita melihat tema yang diangkat, ini bukan sekadar tema saja, tetapi ini yang terjadi di kehidupan modern yang sangat mudah mendapat informasi, tapi sulit mendapat kebenaran,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa saat ini memiliki kemampuan yang cukup besar dalam menyampaikan pendapat.

Namun, kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan kemauan untuk berpikir secara kritis dan mendalam.

“Mahasiswa sekarang pandai menyampaikan pendapat, tetapi tidak semua orang mau berpikir,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan kembali prinsip dasar organisasi PMII, yakni “dzikir, fikir, amal saleh”.

Menurutnya, ketiga prinsip tersebut memiliki keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk karakter seorang kader.

“Dzikir, fikir, amal saleh. Semua aspek terpaut satu sama lain,” katanya.

Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti proses MAPABA dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya mampu menyandang panggilan sebagai sahabat dan sahabati.

Menurutnya, sebutan tersebut bukan sekadar panggilan dalam organisasi, tetapi identitas yang memiliki tanggung jawab dan nilai di dalamnya.

“Semoga setelah MAPABA ini kalian pantas menyandang panggilan sahabat dan sahabati. Karena itu bukan panggilan saja, tapi nama yang disandang,” pungkasnya.
Penulis: Lulu Aprilia Agusti
Editor: Tim Redaksi

Kategori Terkait:

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN UNTUKMU

TERKINI LAINNYA

Halaman 4 dari 4
← Sebelumnya 2 3 4