Tahun 2026 merupakan tahun yang cukup spesial atau sakral lebih tepatnya bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Setelah pada awal tahun PMII melakukan Pemetaan potensi, prestasi serta ditutup dengan memberikan apresiasi terhadap kader-kader terbaiknya, PMII membawa bekal hasil identifikasi potensinya pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) kaderisasi.
Rangkaian tersebut berlanjut pada peringatan hari lahir (harlah) PMII ke-66 pada tanggal 17 april 2026, namun disamping hal-hal euforiatif tersebut terdapat beberapa kader merasa kurang berkesan dikarenakan perhelatan harlah yang cenderung seremonial dan minim refleksi.
Hal ini dirasa melemahkan kembali harapan kader-kader PMII di daerah atas bertambahnya umur PMII itu sendiri, yang tentunya tak lepas dari rentetan isu nasional hingga daerah yang kurang disikapi secara kelembagaan oleh PMII, dan cenderung acuh.
Belum lagi persiapan atas salah satu momentum yang cukup urgent dan ditunggu oleh seluruh kader PMII di seluruh pelosok negeri ialah perhelatan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas), yang digadang-gadang akan menjadi 'Gong' titik balik PMII.
Momentum yang akan membedah apa dan bagaimana PMII merumuskan solusi internal, hingga konsolidasi kaderisasi dan penentuan sikap kelembagaan PMII dalam merespon permasalahan internal-eksternal yang terjadi. Sudah siapkah PMII dalam formulasi Muspimnas? bahaya apa yang senyatanya telah terbaca oleh kader-kader?
Apatisme yang Mengintai
Permasalahan gejala apatisme yang meluas menciptakan pandangan bahwa organisasi sebagai politik arena semata, ajang perebutan kepentingan kelompok yang sarat akan cara-cara kotor. Hal ini berpengaruh signifikan terhadap regenerasi organisasi kemahasiswaan.
Meski PMII memiliki basis masa terluas, jelas tidak kebal terhadap tren nasional ini. Sebab besarnya jumlah kader tidak otomatis berbanding lurus dengan kedalaman keterlibatan ideologisnya atau bahkan bisa jadi sebaliknya.
Tanpa paradigma yang tuntas dirumuskan, menjadikan kader PMII mulai tergeser keyakinannya bahwa gerakan menangkal hegemoni kekuasaan yang corrupt juga merupakan ibadah yang tanggung jawabnya sama di dalam keagamaan itu sendiri.
Memudarnya kesadaran kolektif kader yang menjadikan forum-forum kaderisasi seperti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) hingga Pelatihan Kader Dasar (PKD) berisiko tereduksi menjadi upacara administratif belaka.
Paradigma yang Terus Dicari
Sebagai organisasi pergerakan, PMII senantiasa membutuhkan paradigma gerakan sebagai pertemuan antara nilai-nilai ideal yang diyakini dengan realitas material zamannya.
"Kacamata zaman" inilah yang dipakai Tiap-tiap struktur dalam menentukan arah keberpihakan perjuangannya. Seperti Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran pada era Muhaimin Iskandar (1994-1997), Paradigma Kritis Transformatif pada era Saiful Bachri Anshori (1997-2000), Paradigma Menggiring Arus Berbasis Realitas pada era Heri Harianto Azumi (2006-2008), dan Paradigma Kritis Transformatif Produktif yang digagas M. Abdullah Syukri (2021-2023).
Namun dari keempatnya, hanya tiga yang benar-benar disahkan secara resmi. Gagasan terakhir hanya dilontarkan dalam pembukaan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Tulungagung pada November 2022, dan belum sempat dirumuskan menjadi kesepakatan yang sah.
Empat tahun sudah berlalu sejak Muspimnas Tulungagung, dua tahun kepemimpinan M. Shofiyulloh Cokro sebagai Ketua Umum PB PMII (2024-2027) berjalan, tetapi yang tersisa baru sebatas jargon "Menuju PMII Era Baru”. Hanya kalimat, bukan harapan, apalagi paradigma yang mapan.
Ketika "Era" Berarti Malu
Persiapan menuju Muspimnas 2026 di Jawa Barat kini mulai bergulir, lengkap dengan berbagai konsep teknis dan sentuhan budaya lokal yang digencarkan lewat publikasi.
Jawa Barat akan jadi saksi "Era Baru" yang semestinya ditandai dengan menuntaskan pertengkaran gagasan paradigmatik yang sudah menggantung sejak Tulungagung, melahirkan paradigma yang fresh serta poin-poin solusi akan tantangan kaderisasi.
Namun, jika Muspimnas Jawa Barat 2026 nanti kembali hanya melahirkan dokumen administratif, maka ironi semantik "era" dalam bahasa Sunda itu berisiko menjadi nubuat yang menggenapi dirinya sendiri. "Era Baru" benar-benar akan berubah menjadi "era yang memalukan", bukan fajar baru bagi arah gerak PMII.