Sunday, 20 September 2026

Ketika Mahasiswa Ingin Besar Tanpa Pernah Belajar Menjadi Besar

Penulis: Heromando - Super Admin 17 September 2026, 16:21 WIB
Foto Penulis di MIT (Massachusetts Institute of Technology) ketika Sedang Mendapatkan Program Student Mobility 1 Semester di Amerika Serikat 2023
Foto Penulis di MIT (Massachusetts Institute of Technology) ketika Sedang Mendapatkan Program Student Mobility 1 Semester di Amerika Serikat 2023

Ada gejala yang patut direnungkan dari kehidupan mahasiswahari ini, kita semakin pandai membicarakan masa depan, tetapisemakin tidak sabar menjalani proses yang mengantarkan kesana. Kita ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak selalu bersedia belajar memimpin. Kita ingin memiliki pengaruh, tetapi enggan membangun kapasitas. Kita ingin mempunyai pengalaman, tetapi alergi terhadap pekerjaan yang melelahkan. Kita ingin tumbuh, tetapi hanya jika pertumbuhan itu tidak terlalu mengganggu kenyamanan.

Barangkali inilah paradoks generasi yang hidup di tengah budaya serba cepat. Kita terbiasa mendapatkan informasi dalam hitungan detik, mempelajari sesuatu melalui video singkat, dan melihat keberhasilan orang lain dalam bentuk yang sudah selesai. Yang jarang terlihat adalah bagian paling penting dari keberhasilan dari tahun-tahun yang sunyi, kegagalan yang berulang, pekerjaan kecil yang tidak dihargai, serta keberanian untuk terus berjalan ketika hasil belum juga tampak.

Media sosial membuat pencapaian terlihat seperti sesuatu yang sederhana. Satu foto cukup untuk menunjukkan kepemimpinan. Satu sertifikat cukup untuk mengesankan pengalaman. Satu unggahan cukup untuk membangun citra sebagai seseorang yang aktif. Kita akhirnya berhadapan dengan sebuah ilusi, seolah-olah menjadi hebat adalah persoalan bagaimana seseorang terlihat, bukan bagaimana ia ditempa.

Padahal, manusia tidak menjadi besar karena terlihat besar. Manusia menjadi besar karena sanggup menjalani proses yang membesarkannya.

Di titik inilah organisasi mahasiswa sering berada dalam posisi yang aneh. Ketika mahasiswa membutuhkan pengalaman, organisasi dicari. Ketika membutuhkan jaringan, organisasi dicari. Ketika ingin belajar kepemimpinan, organisasi dicari. Tetapi ketika prosesnya mulai melelahkan, organisasi pula yang ditinggalkan. Bahkan tidak jarang organisasi ekstra diposisikan sebagai penyebab berbagai persoalan akademik dan personal.

Organisasi dianggap menghabiskan waktu. Kaderisasi dianggap terlalu panjang. Diskusi dianggap tidak menghasilkan sesuatuyang konkret. Rapat dianggap membosankan. Aktivisme dianggap mengganggu masa depan akademik.

Kritik semacam itu tidak sepenuhnya keliru. Organisasi memang tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Ada organisasi yang terjebak dalam rutinitas, terlalu sibuk dengan seremoni, kehilangan tradisi membaca, bahkan mempertahankan budayayang seharusnya sudah ditinggalkan. Semua itu harus dikritik. Organisasi yang sehat justru membutuhkan keberanian untukmengoreksi dirinya sendiri.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar dan sering terdengar: apakah setiap ketidaknyamanan dalam organisasi benar-benar merupakan kegagalan organisasi?

Bukankah sebagian ketidak nyamanan justru merupakan bagiandari proses belajar?

Tidak semua kritik adalah bentuk penolakan. Tidak semua tanggung jawab adalah beban. Tidak semua perbedaan adalah konflik. Dan tidak semua kegagalan adalah alasan untukmencari siapa yang harus disalahkan.

Tan Malaka pernah menulis sebuah kalimat yang sederhana, tetapi barangkali cukup untuk menjelaskan seluruh proses itu: “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”

Kita sering menginginkan bagian terakhirnya terbentuk tanpa bersedia melewati tiga kata sebelumnya. 

Kita ingin karakter, tetapi menghindari benturan.

Ingin kepemimpinan, tetapi menghindari tanggung jawab.

Ingin kedalaman berpikir, tetapi menghindari bacaan yang panjang.

Ingin dihormati, tetapi tidak tahan dikoreksi.

Ingin memiliki pengalaman, tetapi hanya memilih pengalamanyang nyaman.

Padahal kehidupan tidak bekerja demikian.

Karakter tidak lahir dari pujian yang terus-menerus. Ia lahir ketika seseorang bertemu dengan sesuatu yang berbeda dari dirinya dan memilih untuk tidak lari.

Organisasi sesungguhnya dapat menjadi ruang pendidikan yang sangat penting. Bukan karena organisasi lebih tinggi daripada ruang kelas, melainkan karena keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Kampus memberikan pengetahuan akademik; organisasi memberikan kesempatan untuk menguji pengetahuan itu di tengah kehidupan sosial. 

Di ruang kuliah, kita dapat belajar tentang kepemimpinan. Di organisasi, kita belajar bahwa memimpin berarti berhadapan dengan manusia yang tidak selalu setuju. Kita dapat mempelajari komunikasi dari buku. Di organisasi, kita belajar bahwa komunikasi tidak hanya soal bagaimana menyampaikan gagasan, tetapi juga bagaimana mendengarkan orang yang berbeda pandangan.

Kita dapat mempelajari manajemen dari teori. Di organisasi, kitamenemukan bahwa satu rencana yang terlihat sempurna di ataskertas bisa berantakan ketika bertemu dengan kenyataan.

Di sanalah pendidikan menjadi lebih nyata.

Seseorang belajar bahwa tidak semua pekerjaan harus mendapatkan tepuk tangan. Bahwa tanggung jawab tetap harus diselesaikan meskipun tidak ada yang mengawasi. Bahwa sebuah gagasan harus siap diuji. Bahwa menjadi bagian darikelompok berarti bersedia menurunkan ego pribadi demi kepentingan yang lebih besar.

Pengalaman-pengalaman semacam itu jarang tercatat dalamtranskrip akademik. Tidak ada kolom khusus untuk mencatatkemampuan mendengar pendapat yang berbeda, keberanianmempertahankan gagasan, kesanggupan bekerja dalam tekanan, atau kematangan ketika harus mengambil keputusan bersama. Namun justru dari pengalaman-pengalaman semacam itulahseseorang perlahan belajar menjadi dewasa.

Di sinilah kaderisasi memperoleh maknanya. Kaderisasiseharusnya tidak dipersempit menjadi ritual organisasi atausekadar tahapan untuk memperoleh status dan identitas. Lebihdari itu, kaderisasi adalah proses pembentukan yang memperluascara pandang seseorang terhadap dirinya, orang lain, dan lingkungan sosialnya. Ia mengajarkan bahwa menjadi manusiayang berkapasitas tidak cukup hanya dengan memiliki pengetahuan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untukmengolah gagasan, membangun relasi, mengambil tanggungjawab, dan memahami persoalan di luar kepentingan dirinyasendiri.

Ia menggeser pertanyaan dari “Apa yang saya dapatkan?” menjadi “Apa yang dapat saya berikan?”

Perubahan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya fundamental. Sebab masyarakat tidak pernah kekurangan orang yang ingin mendapatkan posisi. Yang lebih sulit ditemukan adalah mereka yang bersedia memikul tanggung jawab ketika posisi tersebut tidak lagi menawarkan keuntungan bagi dirinya.

Di titik inilah organisasi seharusnya dipahami bukan sekadar sebagai tempat untuk menambah pengalaman, melainkan sebagai ruang untuk membentuk cara berpikir, memperluas jejaring, mengembangkan kapasitas, dan belajar mengambiltanggung jawab. Sebab tidak semua hal yang penting dalamkehidupan dapat dipelajari di ruang kelas. Ada kemampuan yang hanya tumbuh ketika kita berhadapan dengan perbedaan, bekerjabersama orang lain, mempertahankan gagasan, menerima kritik, dan menyelesaikan persoalan yang tidak memiliki jawaban sederhana.

Tradisi semacam itulah yang didapatkan oleh penulis dalamproses di PMII (Pergerakan Mahsisa Islam Indonesia). Diskusi, pengembangan intelektualitas, penguatan kapasitas, jejaring, dan pengabdian menjadi bagian dari ruang belajar yang memungkinkan mahasiswa melihat kehidupan kampus tidaksemata-mata sebagai perjalanan menuju nilai dan kelulusan. Di sana, pengetahuan dipertemukan dengan pengalaman, gagasandiuji melalui perdebatan, dan kapasitas dibentuk melalui keterlibatan dalam kerja kolektif.

Namun, PMII juga bukan mesin pencetak manusia hebat.

Masuk PMII tidak otomatis membuat seseorang menjadiintelektual. Mengikuti kaderisasi tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang matang. Menduduki jabatan tidak serta-merta membuat seseorang menjadi pemimpin.

Semua itu tetap bergantung pada satu hal: kesediaan untuk menjalani proses.

Sebab organisasi hanya menyediakan ruang. Yang membentuk seseorang adalah apa yang ia lakukan di dalamnya, seberapatekun ia membaca, seberapa terbuka ia berdiskusi, seberapadewasa ia menerima perbedaan, dan seberapa bersedia ia mengambil tanggung jawab ketika tidak ada tepuk tangan yang menunggunya. Pada akhirnya, proses tidak diukur dari seberapabanyak pengalaman yang dapat diceritakan, tetapi dari seberapajauh ia mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan memperlakukan tanggung jawab.

Maka, jangan terlalu terburu-buru mengejar hasil yang membuatku ta terlihat besar. Bangun kapasitas sebelum mengejar pengakuan, perluas jejaring sebelum mengejar posisi, dan perdalam pengetahuan sebelum memperbanyak bicara. Sebab dunia setelah kampus tidak hanya membutuhkan orang yang tahu banyak, tetapi manusia yang mampu bekerja bersama, menghadapi perbedaan, dan menggunakan pengetahuannya untuk menjawab persoalan yang nyata. 

Seseorang besar bukan seberapa cepat ia mendapatkanpanggung, melainkan seberapa sungguh ia mempersiapkan dirisebelum berdiri di atasnya. Sebagai Mahasiswa tidak perluterburu-buru menjadi besar, ia hanya perlu bersedia menjalaniproses yang membuat dirinya cukup kuat untuk memikulkebesaran ketika kesempatan itu akhirnya datang.

Oleh: Sahabat Khoirul Adib

  • Mahasiswa Double Degree Universitas Diponegoro dan Hiroshima University Jepang
  • Wisudawan Terbaik Tingkat Universitas dengan IPK Tertinggidan Skripsi Terbaik UIN Walisongo 2024
  • Pengurus PMII Rayon Sains dan Teknologi UIN Walisongo2022-2024 
Penulis: Khoirul Adib
Editor: Tim Redaksi

Kategori Terkait:

Komentar

0 Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN UNTUKMU

TERKINI LAINNYA

Halaman 1 dari 4
1 2 3 Berikutnya →